Archive

Posts Tagged ‘misteri’

KEPARANORMALAN / DUKUN

Maret 13, 2015 3 komentar

Paranormal/dukun dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan sedikit berbeda dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Ada diantaranya yang memiliki kemampuan keparanormalan tanpa belajar terlebih dahulu. Ada pula yang melalui proses belajar.

Pada sekira tahun 1988-1989, di Yogyakarta, seorang teman (sebut saja Haris) berbincang dengan saya seputar pengalaman pertamanya bertemu dengan pimpinan (guru) dari sebuah perguruan tenaga dalam. Sang guru itu melakukan gerakan tangan ke arah tubuh Haris.

Selanjutnya dalam hitungan beberapa menit kemudian, Sang Guru menyuruh muridnya yang lain untuk melakukan gerakan menyerang atau memukul Haris.

Ketika murid itu menyerang Haris, Seketika tubuh murid itu terpental jatuh. Seolah-olah ada seberkas energi listrik yang melindungi tubuh Haris dari serangan pukulan tersebut. Bahkan lebih dahsyat lagi, saat Haris menggerakkan telunjuk jarinya sedikit saja, murid yang mencoba memukul tadi malahan terlempar jauh.

Saat itu saya sangat tertarik dengan cerita Haris. Apalagi setelah dia memeragakan beragam bentuk tarian dan juga gerakan silat, kungfu, karate, taekwondo, dan lain-lain. Padahal jelas Haris tidak pernah memelajarinya.

Perbincangan dengan Haris merupakan awal pertama saya bersentuhan dengan sesuatu yang kini populer dengan istilah keparanormalan. Saat itu saya mencoba melakukan beberapa eksperimen yang tergolong baru buat saya.

Gerakan-gerakan silat atau akrab disebut jurus-jurus (biasanya ada sekira 10-12 jurus) tersebut sangat memikat perhatian saya. Ada jurus memukul, menyerang, mengunci dan lain-lain. Jurus-jurus tersebut bisa untuk menyerang musuh dalam jarak yang jauh. Atau dengan kata lain, kita dapat menumbangkan lawan tanpa kita menyentuh tubuh lawan.

Dalam perkembangan selanjutnya, perhatian saya terhadap jenis tenaga dalam seperti itu mulai berkurang seiring keakraban saya dengan teman-teman lain yang gemar menekuni dunia spiritual, mistik dan keparanormalan. Beberapa teman saya tersebut ada yang pernah mondok di pesantren atau belajar dengan kyai.

Mereka memiliki cara pandang berbeda terkait dengan tenaga dalam, mistik, keparanormalan, dan lain-lain.

Sesuatu yang masih saya ingat adalah apa yang diceritakan Wisman Hertito, sahabat kuliah saya yang berasal dari Boyolali, Jawa Tengah.
Wisman mengisahkan bahwa pada sekira tahun 1984, dirinya bersama dua orang temannya pernah berguru pada seorang kyai di Cirebon.
“Kami berpuasa dan berzikir selama beberapa waktu di pesantren,” kata Wisman memulai kisahnya. “Semua itu kami lakukan atas perintah dan bimbingan sang kyai.”

Kemudian setelah tiba masanya aktifitas spiritual itu selesai, ketiga orang itu diharuskan melakukan tirakat di beberapa tempat wingit di Cirebon.

“Kami bertiga diharuskan tirakat di kuburan, hutan atau tempat yang seram, keramat atau dianggap menakutkan bagi masyarakat sekitar lokasi tersebut,” kilah Wisman.

Mereka melakukan perintah gurunya itu dengan sepenuh hati semata-mata agar keinginan mereka tercapai. Maklumlah,saat itu usia ketiganya sekira 17-18 tahun.

Usia yang tergolong muda untuk bersentuhan dengan aktifitas mistik spiritual. Meskipun ketiganya merupakan teman sepermainan sejak kecil, tetapi saat berangkat ke Cirebon itu mereka memiliki niat berbeda-beda yang hanya diketahui diri sendiri.

“Pada malam terakhir itu, saya tirakat di hutan yang dianggap menyeramkan. Sedangkan kedua teman saya juga melakukan hal sama di lokasi berbeda,” kenang Wisman. “Kami menyelesaikan tirakat itu pada dini hari menjelang subuh.”

Pada pagi harinya, ketiganya menghadap Sang Kyai untuk menceritakan pengalamannya selama bertirakat di tempat-tempat yang dianggap wingit tersebut.

“Kami menceritakan pengalaman selama tirakat di tempat wingit itu. Kedua teman saya mengaku bertemu makhluk halus. Bahkan ada diantaranya yang terlibat perkelahian,” kata Wisman.
“Lalu bagaimana dengan pengalaman Anda sendiri?” tanya saya ingin tahu.
“Saya tidak mengalami peristiwa seperti yang dialami kedua teman saya. Pada malam itu saya sholat dan berzikir dengan tenang tanpa ada gangguan makhluk gaib sedikitpun,”jawab Wisman.

Setelah ketiga orang itu bercerita pengalaman mistiknya kepada Sang Kyai, merekapun langsung berpamitan pulang ke kota asalnya.

Sejak kepulangan itu, Wisman dilanda rasa kegelisahan yang luar biasa mengenai tidak adanya pengalaman bertemu makhluk gaib sebagaimana yang dialami kedua temannya. Rasa penasaran yang tinggi ini mendorongnya untuk berangkat lagi ke Cirebon menemui Sang Kyai.

Wisman ingin tahu apa sesungguhnya yang membuat dirinya tidak melihat atau bertemu makhluk gaib.

“Saya ingin tahu apakah ada yang salah dalam tirakat saya sehingga harus diulang atau ada faktor lain hingga saya tidak mengalami sensasi supranatural itu,” ujar Wisman kepada saya.

Jawaban dari Sang Kyai sungguh sangat mengejutkan Wisman. Saat itu Sang Kyai mengatakan bahwa diantara ketiga orang yang melakukan tirakat di malam hari itu, justru Wisman yang dianggap paling berhasil melakukan tirakat tersebut.

Wisman dinilai berhasil dalam melakukan konsentrasi tertinggi kepada Tuhan. Fokus dan konsentrasi saat berzikir hanya mengingat Tuhan itulah yang membuat makhluk gaib tidak berani menampakkan dirinya atau, apalagi mengganggunya.

“Kedua teman saya bisa melihat makhluk gaib itu lantaran saat berzikir terbersit pikirannya melihat makhluk gaib itu. Saat terbersit pikiran itulah, makhluk gaib seketika hadir,” kata Wisman.

Sang Kyai meyakinkan Wisman bahwa dirinyalah yang dinilai berhasil melakukan tingkat konsentrasi tertinggi dibandingkan kedua temannya. Sang Kyai itu juga berpesan agar kemampuan konsentrasi itu harus terus ditingkatkan.

“Sejak saat itu, saya berpegang teguh dengan pesan guru saya itu bahwa dalam mengamalkan suatu amalan tertentu hanya boleh fokus kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Wisman mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu kemudian, kedua temannya itu memang memiliki kemampuan keparanormalan. Keduanya memiliki kemampuan mendatangkan makhluk gaib dan memerintahkannya untuk melakukan tugas tertentu.

Istilah yang umum adalah memanggil dan memerintahkan khodam-khodam, jin dan segala macam bentuk dedemit. Termasuk, tentu saja, mendatangkan benda-benda pusaka dari alam gaib.

Pengalaman saat berguru di Cirebon itulah yang membentuk karakter Wisman dikemudian hari. Saya menangkap kesan ini selama beberapa tahun bersahabat dengannya.

Em Agus Siswanto

MITOS PIRANTI MISTIK ( JIMAT )

Harus diakui bahwa ada rasa ketakutan dalam diri orang-orang yang pernah memahari piranti mistik tetapi tidak membawa faedah apapun. Mereka lebih memilih diam dan pasrah manakala piranti mistik yang telah dibelinya dengan harga yang luar biasa mahal. Ketidak beranian bersuara ini lantaran kuatnya mitos yang berkembang terkait piranti mistik. Untuk lebih jelasnya, saya akan menulis kembali seputar makna mitos.

Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos juga merupakan suatu cara pemberian arti. Ambil contoh, kita biasa mendengar bahwa sebuah pohon besar dihuni oleh sebangsa makhluk gaib. Sehingga pohon itu tidak boleh ditebang, karena akan membuat makhluk gaib tersebut marah.

Mitos tersebut tentu tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebab tidak ada yang tahu dengan pasti apakah makhluk gaib itu benar-benar menghuni pohon tersebut atau tidak ada makhluk gaibnya. Tetapi mitos ini dipercaya dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan adanya mitos tersebut maka manusia tidak ada yang berani menebang pohon itu. Alhasil, pohon dapat hidup hingga ratusan tahun. Kesimpulannya, inti pesan dari mitos itu adalah pelestarian terhadap lingkungan. Persoalan ada atau tidak adanya makhluk gaib bukan hal yang penting lagi.

Mitos semacam ini juga berkembang dalam dunia supranatural, khususnya terkait dengan piranti mistik atau jimat. Misalkan adanya sebuah piranti mistik yang diyakini memiliki sejuta manfaat dan piranti tersebut dihuni sejumlah makhluk gaib dari jenis bangsa jin atau malaikat. Ini merupakan bentuk mitos piranti mistik.

Sedemikian kuatnya mitos tersebut membuat si pemilik piranti mistik sangat berhati-hati dalam menyimpannya. Bahkan jika si pemiliknya hendak ke kamar mandi pun, piranti tersebut harus diletakkan di luar kamar mandi.

Uniknya, meskipun piranti mistik itu tidak membawa manfaat apapun kepada pemiliknya, benda itu tetap disimpan rapi dan takut pula dibuangnya.

Ketakutan membuang piranti mistik tersebut lebih disebabkan mitos adanya makhluk gaib dalam benda tersebut akan marah jika benda itu dibuang sembarangan dan pemiliknya akan terkena sengklek (sial). Padahal membuang piranti mistik sama mudahnya dengan meniup debu di tangan.
Em Agus siswanto

LOGIKA PIKIRAN PARANORMAL

Oktober 9, 2014 13 komentar

Pada umumnya, Paranormal atau Praktisi Supranatural menggunakan ilmu hikmah untuk pengisian (transfer energi) ke dalam beragam bentuk jimat, rajah dan wifik. Kini istilah populernya: Piranti Mistik.

Mengulas ilmu hikmah itu sendiri tidak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal terangkum di dalamnya. Di sisi lain, iIlmu hikmah mengalami proses asimilasi (percampuran) dengan beragam ilmu yang berasal dari budaya lokal yang dikenal dengan istilah: mantera, jampi-jampi, dan lain-lain. Karena itulah ada amalan ilmu hikmah yang terdiri dari 2 bahasa (bahasa Arab dan bahasa daerah).

Seiring perjalanan waktu, paranormal pembuat piranti mistik melakukan modifikasi bentuk piranti mistik agar terkesan modern dan elegan. Jika pada masa lalu piranti mistik berbentuk rajah yang dibungkus kain, rajah yang ditulis di kertas kalkir, rompi yang ditulisi rajah (rompi ontokusumo), jimat berbentuk tali sepatu, dan lain-lain, maka selanjutnya berubah menjadi berbentuk kapsul, pil, flash disk, ponsel, kartu chip, kalung, gelang, tasbeh, minyak wangi atau parfum dan segala macam bentuk yang secara sepintas tidak dapat diduga bahwa itu adalah jimat alias piranti mistik.

Sedangkan yang hampir tidak berubah adalah yang berbentuk susuk (terbuat dari logam emas), keris, cincin beraneka warna, amalan (hijib), dan lain-lain. Termasuk benda-benda yang namanya sangat terkenal, misalkan batu merah kecil yang umumnya disebut merah delima (padahal sejenis batu biasa atau terbuat dari kaca), jenglot yang konon adalah jasad orang sakti zaman kuno (padahal ada yang terbuat dari tengkorak kelelawar yang diberi potongan rambut manusia), bambu petuk (padahal bambu yang ruasnya ditempel dengan lem perekat), rantai babi yang konon bisa mendatangkan uang gaib (padahal terbuat dari sejenis bahan karet), dan lain-lain.

Bagi para penggemar (baca: konsumen) jimat, khususnya yang masuk kategori orang kantoran, pejabat, artis, dan lain-lain, tentu merasa tidak pantas membawa rajah atau rompi ontokusumo di lingkungannya. Mereka akan ditertawakan oleh siapapun yang melihatnya. Tetapi jika menggunakan cincin, kalung atau gelang pasti tidak akan ada yang tahu bahwa itu bukan benda hiasan semata, melainkan jimat.

Apalagi dalam bentuk tasbeh. Siapapun yang melihat seseorang membawa tasbeh pasti akan dinilai sebagai seorang yang bersifat relijius.Tidak ada yang menduga bahwa kemungkinan saja tasbeh itu merupakan piranti mistik alias jimat.

Dalam hal syirik atau tidak syiriknya benda yang disebut piranti mistik itu belum akan saya bahas di sini. Pro kontra masalah ini tidak akan ada habisnya. Pada intinya, paranormal yang merangkap pedagang piranti mistik selalu mengatakan bahwa piranti mistik bukan benda syirik. Mereka membawa segudang dalil atau argumen untuk mendukung pendapatnya. Bahkan tidak jarang, dalil-dalil tersebut mencakup ayat Al Qur’an dan hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Apalagi jika paranormal yang merangkap pedagang piranti mistik itu menggunakan jubah agama dengan segala macam atribut gelar di depan namanya. Mulai dari gelar Gus, Ustadz, Kyai, Habib, Syareatul Khotam, Syeikh dan lain-lain.

Bahkan ada pula yang menambahi gelar akademis seperti Prof, DR, SH, ST, MM, dan lain-lain.
Uniknya, hanya sedikit orang yang mau meluangkan waktu mengecek keabsahan sanad silsilah dan gelar-gelar prestisius tersebut. Kita memang mudah terpukau penampilan. Uniknya, jika sekadar bergelar Haji, tidak lagi menarik di mata konsumen. Paranormal memang memiliki logika berpikirnya sendiri.

Dalam pandangan saya, apapun gelar yang nisbahkan kepada nama mereka tetap tidak akan mengubah status profesinya yaitu paranormal pedagang piranti mistik. Bahkan seandainya ada beragam argumen bahwa segala keuntungan dagangannya untuk pembangunan pesantren, masjid, musholla, sekolah, panti asuhan, dan lain-lain, tetap saja tidak mengubah status profesinya sebagai pedagang jimat. Semua itu sah-sah saja, sepanjang belum ada Undang Undang yang mengaturnya.

Harus diakui pula bahwa sangat banyak paranormal yang tidak merangkap pedagang piranti mistik. Mereka memiliki kemampuan supranatural, tetapi tidak ada produk yang dijual dan tidak ada bayaran apapun yang ditetapkan untuk jasa yang dilakukannya. Ikhlas lillahita’ala. Bahkan ada pula paranormal yang mengharamkan segala macam bentuk perjimatan alias piranti mistik.  (AGUS SISWANTO)

NOVEL HOROR TERBARU: PENGANTIN LEMBAH KEMATIAN

Maret 11, 2014 23 komentar

  Cover Pengantin Lembah KematianSTOK HABIS

PENGANTIN LEMBAH KEMATIAN

 SINOPSIS

Bagi perempuan di Kampung Lembah Kematian, menjaga agar dirinya tetap perawan, menjadi persoalan wajib yang tidak bisa ditawar-tawar. Mungkin saja suaminya kelak tidak akan mempermasalahkan ketidakperawanan istrinya. Namun tidak demikian bagi Mbah Bahuga. Tepat di malam pengantin, makhluk gaib pelindung kampung itu akan meniduri pengantin perempuan sebelum suaminya. Jika ternyata pengantin perempuannya sudah tidak perawan, dia akan dibunuh. Jika tidak, dipastikan kampung itu akan dilanda malapetaka.

Kenyataan itulah yang membuat Marni begitu tertekan menjelang hari  perkawinannya. Bukan karena Mas Turip tidak mau menerima keadaannya, tapi kenyataan bahwa ia akan menemui ajal di malam pengantin, membuatnya begitu gundah. Ya, dirinya sudah tidak perawan. Tentu Mbah Bahuga akan marah dan membunuhnya. Bagaimana Marni bisa keluar dari situasi yang rumit itu? Siapakah sebenarnya Mbah Bahuga?

PENGANTIN LEMBAH KEMATIAN

Penulis: Yon Bayu Wahyono 
ISBN: 979-1305-88-4

Tahun terbit: Februari 2014.

Jumlah Hal: iv + 202 hal

Ukuran: 13 cm x 20 cm

(Soft Cover).

Penerbit: Nusa Media Yogyakarta

Harga: Rp. 40.000,-

Silahkan pesan sekarang juga

Kirim sms ke no 08176645205 dengan format :

NAMA#ALAMAT#JUMLAH PEMESANAN

Tuliskan Nama Lengkap, Alamat pengiriman, Jumlah buku yang dipesan,

Kami akan mengirim nomor rekening beserta jumlah uang yang harus di transfer setelah ditambah ongkos kirim.

YON BAYU WAHYONO

Selama ini dikenal sebagai wartawan dan penulis novel politik serta buku biografi sejumlah tokoh. Karya-karyanya pernah dimuat di HU Suara Merdeka (Semarang), SKH Kedaulatan Rakyat (Jogya), The Jakarta Post (Jakarta), Borneo Weekly (Brunei Darussalam), HU Pikiran Rakyat  (Bandung),  Tabloid NOVA (Jakarta) dll.

Sejak beberapa tahun terakhir, tepatnya setelah  bergabung dengan Majalah Misteri, mulai menggarap novel-novel horor. Dendam Darah Perawan adalah novel horor pertamanya yang pernah dimuat sebagai cerita  bersambung di Majalah Misteri.  Kini sejumlah novel lainnya tengah dalam proses terbit, al: Putri Kinanti, Arisan Maut, Pengantin Lembah Kematian, dll.

Beberapa buku yang sudah terbit  :

Surat Buat Bunda (antologi cerita pendek)

Calon Gubernur (novel)

Kiay Oedin (Biografi Gubernur Lampung Komjend Pol Pur Sjachroedin ZP)

Dari Kuli Karung Ke Kursi Walikota (Biografi Wali Kota Bandar Lampung Drs Eddy Sutrisno, MPd)

Dendam Darah Perawan (novel horor)

Pengantin Lembah Kematiaan (novel horor)

(Agus Siswanto)

Air Terjun Bantimurung, Keindahan Bernuansa Mistis (Video)

Januari 25, 2014 20 komentar

Dalam rangkaian jelajah di Makassar, Sulawesi Selatan, penulis mengunjungi lokasi wisata Air Terjun Bantimurung Bulusaraung.

Setelah perjalanan sekira satu jam dari Makassar, penulis memasuki obyek wisata. Sebuah gapura besar dengan lambang kupu-kupu raksasa di atasnya, diikuti patung kera tanpa ekor yang juga berukuran raksasa.

“Di sini banyak kisah misteri, Mas,” kata Pak Sahrir setelah penulis menyebut nama Majalah Misteri. Ditanya seputar legenda Bantimurung, Pak Sahrir menuturkan bahwa ada beberapa versi terkait asal usul kata Bantimurung.

“Bantimurung itu berasal dari bahasa Makassar. Artinya air yang terbanting (atau jatuh) bergemuruh,” kata Pak Sahrir.

Dikisahkan, suatu ketika Raja Gowa ingin mengadakan pertemuan dengan Raja Bone. Mereka sepakat untuk bertemu di daerah Maros ini. Suatu ketika, beberapa pasukan berkuda kerajaan berjalan-jalan di sekitar kawasan hutan ini. Tiba-tiba mereka mendengar suara bergemuruh (air terjun). Peristiwa ini mereka laporkan kepada Raja.

“Nia a je’ne amaru ta banting (ada air jatuh gemuruh),” kata pasukan berkuda.
Seketika itu juga Raja Gowa menjawab,” bantimurung (airnya terbanting gemuruh).”
Sejak itulah air terjun ini dikenal dengan nama Bantimurung.

Menurut Pak Sahrir, dahulu lokasi ini juga menjadi tempat orang-orang alim melakukan uzlah atau menyepi, khususnya di goa. Bahkan di tempat itu pula orang-orang alim atau para wali berkumpul untuk membahas dakwah.
Usai berbincang dengan Pak Sahrir, penulis melangkahkan menuju goa.

Goa

Di sini penulis ditemani Daeng Cipuk, pria tua yang masih kuat dan energik.
“Di dalam goa ini ada tempat sholat Raja Bantimurung dan beberapa wali di sini,” kata Daeng Cipuk (65 tahun) kepada penulis. “Ada juga tempat yang diyakini pernah menjadi tempat bertapa.”

Daeng Cipuk mengungkapkan bahwa tidak jauh dari lokasi pesholatan itu terdapat air jernih yang digunakan untuk berwudhu. Tentunya, orang-orang zaman dahulu yang memilih tempat ini sebagai tempat uzlah atau menyepi agar lebih khusyuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak perlu ke luar goa untuk mengambil wudhu.

Menyinggung kisah mistis yang ada di goa ini, Daeng Cipuk tampak tersenyum mendengarnya. Pria yang sudah 40 tahun bekerja memandu wisata di kawasan ini mengungkapkan bahwa dirinya sering diminta untuk menemani tamu dari berbagai daerah untuk tirakat di goa ini.

“Mereka tirakat di dalam, sedangkan saya hanya menunggu di pintu goa. Tidak ada seorang pun yang masuk goa ini. Tetapi anehnya, hanya dalam hitungan sejam atau dua jam saja, mereka yang tirakat itu berlari ke luar. Mereka mengaku mendengar suara berisik di dalam goa,” kata Daeng Cipuk menuturkan ceritanya seraya tertawa kecil.

Meskipun Daeng Cipuk berbicara dengan nada humor, tetapi penulis malahan merinding mendengarnya.
“Umumnya mereka mengaku mendengar keramaian. Seolah-olah ada pengunjung yang masuk ke goa. Tetapi setelah diperhatikan tidak ada seorang pun yang terlihat, mereka langsung lari ke luar. Padahal itu terjadi siang hari,” lanjutnya.

Secara pribadi pria tua ini tidak pernah melihat penampakan apapun (atau mungkin dia sengaja menyembunyikannya). Tetapi beberapa orang yang masuk goa sering bercerita kepadanya telah melihat sosok pria berpakaian layaknya seorang haji.

Sesuatu yang membuat Daeng tidak mengerti adalah saat ada pengunjung yang kesurupan. “Mereka yang kesurupan sering berbicara dengan nada anak-anak. Padahal saya tidak pernah mendengar ada penampakan makhluk gaib yang berwujud anak-anak,” ujarnya.

Kepada penulis, Daeng mengingatkan bahwa pengunjung hanya diperbolehkan berada di goa hingga pukul 5 sore. Mereka juga dilarang untuk melakukan tirakat atau ritual apapun di dalam. Terlebih lagi di malam hari. Hal ini lebih disebabkan faktor keselamatan pengunjung itu sendiri.

(Agus Siswanto aka BaNi MusTajaB)

LOGIKA PIKIRAN MISTIK

Maret 1, 2012 94 komentar

Pikiran berperan penting dalam menentukan sikap dan perilaku keseharian kita. Pikiran terbagi dua, positif dan negatif. Kedua pikiran itu saling berebut dalam menentukan gerak langkah kehidupan kita. Keduanya ada di dalam otak kita dan memiliki cabang-cabang pikiran, termasuk pikiran mistik.

Pikiranlah yang menentukan kemana kita akan melangkah dan bagaimana cara kita melangkah. Jika pikiran kita positif, maka langkah yang ditempuh positif. Sebaliknya, jika pikiran kita negatif, langkahnyapun cenderung negatif.
Baca selengkapnya…

SYUTING JENGLOT PANTAI SELATAN DIWARNAI KESURUPAN MASSAL

Januari 15, 2011 31 komentar

Beberapa perempuan pendukung film Jenglot Pantai Selatan kesurupan. Persoalannya hanya sepele…….

Pada 22 Desember 2010 lalu, saya mendapat telpon dari sahabat yang sedang syuting film JENGLOT PANTAI SELATAN di Pantai Sawarna, Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Melalui ponselnya, Buanergis Muryono, demikian namanya, mengaku mendapat amanah dari penghuni gaib Goa Langir yang harus disampaikan kepada publik.

“Mas, mohon datang  ke lokasi syuting. Ada amanah yang harus disampaikan,” kata Mas Yono, sapaan akrabnya.

Undangan semacam itu bukan pertama kali. Aktor senior yang banyak terlibat dalam film horror ini, sering mengajak saya ke lokasi syuting  di daerah. Tentu saja saya memanfaatkanya untuk menelusuri nuansa mistis daerah yang dikunjungi.

Selanjutnya, saya berangkat dari Jakarta pada 23 Desember menuju lokasi yang terkenal dengan pantainya yang indah itu. Sekitar pukul 22.00 WIB, tiba di Kampung Cibeas, Desa Sawarna.

Saya menemui Mas Yono di lokasi syuting. Sebuah pulau kecil (delta) di tepi Pantai Sawarna. Dia memberi isyarat kepada saya agar melakukan meditasi. Saya faham apa yang dimaksudkannya.

Uluk salam, tegur sapa atau kulo nuwun (bhs. Jawa) merupakan kebiasaan yang selalu saya lakukan jika mengunjungi daerah yang kental nuansa mistisnya.

Menyapa para penghuni gaib yang berada di suatu daerah bukan hal sulit. Apalagi jika kita memanfaatkan daerah tersebut untuk suatu kepentingan tertentu. Sebagai sesama makhluk Tuhan, wajarlah menyapa makhluk yang hidup di alam berbeda.

Tidak lama kemudian, kegiatan syuting berhenti. Semua pemain dan kru beristirahat di penginapan yang disediakan.

Goa Langir

Kawasan Desa Sawarna memiliki rangkaian pegunungan karst (gamping) yang memiliki banyak goa (caves). Beberapa goa tersebut adalah Goa Langir, Goa Lauk dan Goa Lalay. Selain syuting di pulau kecil, Goa Langir juga menjadi lokasi syuting yang jaraknya berdekatan.

Dua hari sebelum saya tiba di lokasi, terjadi kegaduhan saat syuting di Goa Langir. Ada sekitar 7 pemain film perempuan kesurupan. Tentu saja suasana kacau dan menakutkan.

“Peristiwa itu terjadi lantaran mereka tidak faham tata krama dalam mengunjungi tempat wingit. Seolah tempat tersebut hanya goa kosong tak berpenghuni. Padahal ada komunitas di dalamnya,” demikian kata Mas Yono.

Menurutnya, sosok gaib yang menghuni Goa Langir adalah Ki Ageng Langir, isteri dan anaknya, demikian kata Mas Yono.

“Bagaimana sebenarnya sosok Ki Ageng Langir,” tanya saya.

“Ki Ageng Langir lembut dan tenang. Dia tergolong sosok yang suka membantu orang. Dia mengaku huniannya diusik manusia secara tidak wajar. Mestinya harus ijin dan kulo nuwun dulu, “ jawab Mas Yono.

“Sebaliknya, sifat anaknya keras dan pemarah. Jika ada yang mengusik tempatnya, dia tidak segan-segan mengganggunya. Khususnya mereka yang tidak punya tata krama. Itulah sebabnya, ketika ada beberapa orang yang meremehkan tempatnya, dia marah hingga orang yang meremehkannya itu kesurupan,“ lanjutnya.

Selanjutnya Mas Yono mengatakan, Ki Ageng Langir memilih Goa Langir lantaran ingin menyepi dan menjauh dari keramaian kota tempat tinggal sebelumnya. Dia juga menghindar dari intrik kekuasaan dimana dia berdiam sebelumnya.

Tujuan menetap di tepi pantai yang sepi itu adalah untuk ketenangan dirinya. Dia lalu mengajak isteri dan anak angkatnya menuju Goa Langir, di tepi Pantai Sawarna. Di tempat itulah Ki Ageng Langir bersama keluarganya menjalani hidup baru bersama masyarakat sekitar hingga akhir hayatnya.

Mas Yono mengungkapkan, sebenarnya Goa Langir sangat cocok dijadikan tempat menyepi. Khususnya bagi mereka yang ingin mengetahui jati diri (sedulur papat limo pancer). Namun sejauh ini tempat itu tergolong berbahaya, terutama jika terjadi pasang laut. Air yang masuk dapat merendam mulut Goa. Jika tidak berhati-hati dapat membahayakan jiwa.

“Apa sebenarnya amanah yang hendak disampaikan Ki Ageng Langir?” tanya saya.

Mas Yono mengemukakan bahwa setelah dirinya berhasil menyembuhkan para perempuan yang kesurupan itu, dirinya sempat berdialog panjang dengan Ki Ageng Langir.

“Masyarakat desa ini kurang peduli dengan lingkungan sekitar, khususnya tempat-tempat wingit. Mereka memanfaatkan pantai dan goa untuk kepentingan wisata tanpa memerhatikan kebersihan,” ujar pria pemilik Sanggar Mariska ini. Sanggar akting yang khusus mendidik para calon aktor dan aktris ini telah  memiliki 20 cabang di Jakarta dan sekitarnya.

Selanjutnya dikatakan, sampah-sampah bekas para pengunjung berserakan di dalam goa tanpa ada yang membersihkan. Termasuk mereka yang membuat coretan-coretan di dinding goa. Bahkan tepi pantai sering dijadikan tempat mesum kaum muda.

“Ki Ageng Langir berpesan agar huniannya dihormati dengan sewajarnya. Tidak perlu dengan menyediakan sesajen atau ubo rampe. Cukuplah dengan membersihkan sampah yang berserakan,”kilahnya tanpa mau mengungkapkan amanah yang lainnya.

Menurutnya, amanah lainnya hanya khusus untuk tokoh-tokoh warga setempat. Bukan untuk konsumsi publik.

Ketika saya mengemukakan rencana hendak ke Goa Langir, dia berkata,“ Mudah-mudahan kamu dapat mengambil gambar. Sebab saya tidak diizinkan memotret Goa Langir,”ujarnya mengutip pesan Ki Ageng Langir.

Foto Gagal

Kisah Ki Ageng Langir membangkitkan minat saya untuk melihat langsung Goa Langir. Tentu percuma saja datang jauh-jauh hanya mengumpulkan cerita tanpa melihat lokasi yang dimaksud.

Kemudian saya mendekati seorang pria warga setempat untuk mengantarkan ke Goa Langir. Meski tampak jelas ada rasa kekhawatiran. Maklumlah, pria itu tahu benar aroma mistik goa tersebut. Apalagi baru saja terjadi peristiwa kesurupan yang menimpa para pemain film.

“Boleh saya tahu tujuan Anda?” Tanya pria itu. Nada suaranya menunjukkan keraguan memenuhi keinginan saya.

“Saya hanya ingin mengambil gambar Goa Langir. Jika memungkinkan, saya juga hendak masuk ke dalamnya,” Jawab saya.

Pria itu tampak diam memikirkan sesuatu. Sementara saya menatap matanya untuk meyakinkannya.

“Insya Allah tidak akan terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Kami datang dengan niat baik hendak menulis cerita daerah ini dan tidak bermaksud lain,” ujar saya bernada serius.

Pukul 15.30 WIB, saya bersama pria itu berjalan menyusuri pantai menuju Goa Langir. Dalam amatan saya, memang terdapat banyak goa di sisi tebing terjal tepi pantai. Goa Langir hanya salah satu saja dari goa-goa yang ada.

Beberapa saat kemudian, saya tiba di depan Goa Langir. Saya pun mengeluarkan kamera digital yang berada di dalam tas. Sebelum memotret, saya hening sejenak minta izin memotret.

Tentu saja foto-foto tergolong vital dalam perjalanan ini. Data yang diperoleh kurang mendukung jika tidak disertai dokumentasi gambar. Namun, pada saat memotret, sempat terdengar bisikan halus,”…cukup, cukup.”

Tampaknya suara itu dari sosok gaib putra Ki Ageng Langir. Tetapi saya  tidak terlalu peduli. Bagaimanapun dokumentasi harus tetap dilakukan. Sementara pria tua yang mengantarkan saya mulai gelisah.

Setelah mengambil beberapa gambar, saya pun meninggalkan lokasi tersebut. Pemotretan itu melengkapi perjalanan di Pantai Sawarna. Setelah sebelumnya mengambil gambar di Tanjung Layar dan sekitarnya.

Selanjutnya saya  mengambil gambar kegiatan syuting film Jenglot Pantai Selatan arahan Rizal Mantovani. Film yang dibintangi Debby Ayu, Wichita,  Zidni Adam  dan lain-lain ini, tampaknya cukup menarik. Terutama sosok jenglot yang orisinil dan berbeda dengan gambaran umum kita tentang jenglot.

Ketika saya kembali ke Jakarta, terjadi keanehan. Semua foto Goa Langir dan keindahan Pantai Sawarna utuh sempurna. Sedangkan foto yang berkaitan dengan syuting tidak ada sama sekali. Inilah pengalaman pertama saya mengalami gangguan dalam hal dokumentasi.

BaNi MusTajaB

Tulisan lain:

GAYUS DAN JENGLOT PANTAI SELATAN

DEBBY AYU…BOOM SEX TITISAN JENGLOT

Debby Ayu merasa nyaman jadi boom sex..hmmmm..dengarkan saja penuturannya.

DEBBY AYU: MERASA NYAMAN JADI BOOM SEX TITISAN JENGLOT

Debby Ayu-Jenglot Pantai Selatan