BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

JANGAN JADIKAN PERUTMU KUBURAN BANGKAI


“Jangan jadikan perutmu kuburan bangkai”

Pada 27 November 2009, umat Islam di seluruh dunia merayakan Hari Raya Idul Adha 1430 H. Saat hari raya tersebut, kaum Muslimin melaksanakan korban hewan bagi yang mampu. Tradisi yang berlaku sejak zaman Nabi Ibrahim alaihissalam dan Nabi Ismail alaihissalam.

Pada hari itu ada banyak hewan korban yang disembelih. Sapi, kerbau, domba dan kambing menjadi pilihan. Di negeri lain, unta termasuk yang disembelih.

Postingan ini tidak hendak bercerita tentang hari raya itu. Saya hanya teringat seputar perkataan Ali bin Abi Thalib karamullah wahjah. Perkataan tersebut berbunyi seperti yang tertera di awal tulisan ini.

“Jangan jadikan perutmu kuburan bangkai (binatang).”

Sepintas membuat bingung dan heran. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Kalimat itu bermakna sederhana: hendaknya kita mengurangi makan daging.

Tampak naif. Namun dalam pandangan saya sangat relevan dengan situasi masyarakat saat ini.

Di negeri ini, ada banyak orang yang menjadikan daging sebagai menu makannya sehari-hari. Makan pagi, siang dan malam selalu menyertakan daging dalam menunya.

Daging diolah dalam beragam resep menarik. Daging pun tidak melulu didapat dari kelompok peternak anak negeri. Daging impor, semisal sapi Australia, cukup diminati di sini.

Orang-orang yang berkelimpahan materi menjadikan makan daging sebagai sesuatu yang lumrah dan tidak lagi istimewa.

Tetapi pasti kita juga menyadari dan mengetahui ada banyak orang di negeri ini yang menjadikan daging sebagai menu yang luar biasa mewah.

Orang-orang yang secara materi kekurangan akan selalu menganggap daging sebagai menu special dan super istimewa.

Bagi penikmat warung tegal dan warung makan kecil, perhatikanlah saat melihat pembeli memilih lauk pauk yang tersedia. Ikan, tempe tahu dan telur cenderung menjadi pilihan utama ketimbang daging. Tentu pilihan yang didasarkan atas harga yang jauh lebih murah.

Itulah sebabnya, ketika tiba Hari Raya Kurban, fakir miskin – kaum dhuafa merasakan benar kebahagiaannya berhari raya. Daging menjadi santapan lezat yang tidak selalu dirasakannya pada hari-hari lainnya.

Tradisi Unik

Ada ‘tradisi unik’ (tradisi dalam tanda petik)  ketika kita melihat orang-orang yang berkorban.

Katakanlah Anda berkorban seekor kambing. Pada umumnya, panitia kurban akan memberikan 1 atau 2 kilo daging kurban kepada pemilik kambing tersebut. Hal ini sudah menjadi tradisi.

Inilah yang hendak saya sampaikan dalam postingan ini. Manakala kita sudah berkurban, mengapa pula kita harus mendapatkan sesuatu yang sudah kita korbankan? Alangkah baiknya, jika hewan yang kita korbankan sepenuhnya menjadi hak fakir miskin.

Dan seumpama pada hari raya itu keluarga di rumah ingin menyantap daging, tentu tidak ada salahnya membeli daging di pasar.

Ada pula ‘tradisi unik’ yang umum terjadi di negeri ini, yaitu saat daging kurban telah selesai dibagikan kepada yang berhak. Biasanya masih banyak daging yang tersisa.

Daging kurban yang tersisa ini akan dibagikan kepada masyarakat yang berada di lingkungan pemotongan hewan kurban tersebut. Sehingga yang terjadi adalah, keluarga yang secara ekonomi cukup mampu dan atau terbiasa makan daging akan mendapatkan pula jatah sisa daging kurban ini.

Entah kenapa, panitia hewan kurban cenderung tidak mau memberikan kelebihan sisa daging kurban ini kepada yang berhak di luar areal lingkungannya. Misalkan diberikan kepada kaum dhuafa yang menetap di kelurahan atau kecamatan berbeda.

Atau bisa saja daging-daging kurban yang telah disiapkan dibagi rata dan habis diberikan kepada yang berhak. Tidak ada yang tersisa atau sengaja disisakan untuk diberikan kepada yang tidak berhak.

“Jangan jadikan perutmu kuburan bangkai”

Kalimat tersebut  sangat relevan dengan kondisi saat ini. Bahkan dari sudut pandang kesehatan, terlalu banyak mengkonsumsi daging pun tidak baik bagi kesehatan. Meski tidak harus menjadi Vegetarian.

Demikianlah sekadar catatan yang muncul dari ingatan saya seputar ucapan  Khulafaur Rasyidin, Ali bin Abi Thalib ra.

Sebagai penutup, silahkan nikmati lantunan suara merdu biduanita Pakistan

Sayyida Amber Saleem dalam Labbaika Allahumma Labbaik..

BaNi MusTajaB

 

8 comments on “JANGAN JADIKAN PERUTMU KUBURAN BANGKAI

  1. kurich
    November 17, 2009

    ternyata begitu ya! padahal banyak di lingkungan saya yang masih melakukan tradisi seperti itu. Mas boleh tukeran link? link anda sudah saya pasang di blog saya. Trimakasih.
    @
    oke terima kasih.semoga bermanfaat.

    Suka

  2. Dokter Pulsa
    November 20, 2009

    Tertarik dengan judulnya,, akhirnya dibaca deh kontennya. Terlalu banyak mengkonsumsi daging secara medis memang kurang baik untuk kesehatan sob, daging kan mengandung kolesterol yang tinggi.. Dan secara islam sich bagus, tapi intinya makanlah makanan yang halal dan baik menurut Allah. Thanks.
    @
    benar mas.
    oke terima kasih..

    Suka

  3. ABDUL AZIZ
    November 20, 2009

    Assalamu’alaikum,

    Ada juga “tradisi” lain di tempat saya Mas. Ada yang setiap tahun menyembelih hewan kurban berupa kambing atau sapi, tapi ia tidak “mampu” membayar zakat. Zakatnya cuma zakat fitrah saja. Soal pembagian daging kurban, memang hampir di setiap tempat orang kaya pun kebagian. Biasanya semuanya dibagi tanpa kecuali. Dan orang-orang yang tergolong mampu merasa senang juga dengan daging kurban itu. padahal orang-orang kaya itu seharusnya menyalurkannya kembali ke fakir miskin.
    @
    waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
    inilah yang patut disayangkan pak…kita berharap orang-orang yang dianugerahi kelebihan materi lebih peduli dengan kaum fakir miskin…kurban itu semestinya memang buat fakir miskin.
    terima kasih atas kunjungannya.

    Suka

  4. EYANG RESI 313
    November 21, 2009

    Assalamu’alaikum,

    Sudah menjadi hukum alam manusia itu akan lupa disaat menikmati kesenangan sesaat walaupun sekecil apapun nikmat tersebut.

    Maka dari pada itu sumber dari penyakit adalah isi dari perut yang terlalu berlebihan, dan banyak manusia terkadang lepas dari segala kontrol bagaimana ia memperoleh sumber dari pencarian nafkah; serta cara menkonsumsi makanan tersebut.
    @
    waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh
    setuju dengan pendapatnya Eyang.
    terima kasih atas kunjungannya.

    Suka

  5. batjoe
    November 22, 2009

    salam kenal dulu ya mas dan selamat tengah malam
    @
    salam kenal juga mas..terima kasih atas kunjungannya..

    Suka

  6. batjoe
    November 22, 2009

    artikel yang sangat menarik… sungguh saya buka karena tertarik dengan judulnya dan setelah dibaca luar biasa mas..
    makasih membagi ilmunya
    @
    terima kasih mas…

    Suka

  7. Ping-balik: Menyimak tulisan Bani Mustajab : Jangan jadikan perutmu kuburan bangkai « KOTA MINYAK / OIL CITY

  8. Lenna Samii
    Mei 18, 2011

    Little Strokes Fell Great Oaks

    Suka

Komentar ditutup.

Information

This entry was posted on November 16, 2009 by in artikel and tagged , , , .

Statistik Blog

  • 3,406,063 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: