BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

TANGGAL 9 APRIL 2009 SEBAGAI HARI BERKABUNG NASIONAL BAGI PEMILIH PEMULA


Pada awalnya saya hanya tersenyum saat seorang rekan tidak dapat memilih lantaran tidak ada dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Saya pun melihat dirinya tidak terlalu peduli gagal mencontreng pada 9 April 2009 lalu.

Lagipula rekan saya itu bukan pertama kali ikut pemilihan umum. Dia pernah mencoblos sejak pemilu era Suharto. Dengan kata lain, gagal mencontreng di 2009 tidak membuatnya kecewa dan sedih. Masih ada kesempatan contreng di pilpres nanti.

Saya pun menyaksikan beberapa rekan lain yang juga tidak ikut mencontreng. Alasannya pun beragam. Ada yang terlambat datang ke TPS lantaran bangun kesiangan dan tiba di TPS saat penghitungan suara sedang berjalan dan ada pula yang tidak dapat meninggalkan pekerjaan, dll, sehingga tidak sempat ke TPS.

Dalam amatan saya, mereka tidak kecewa. Bahkan terkesan acuh tak acuh.

Itulah sebabnya saat mendengar ada banyak orang gagal mencontreng karena tidak masuk dalam DPT atau alasan lain, tetap tidak membuat saya terusik untuk sekadar mengomentarinya.

Saya lebih asyik berbincang seputar peroleh suara partai dan menduga-duga siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden. Meskipun saya sering gagal dalam meramal, tapi saya tidak bosan meramal. Untuk ramalan kali ini, saya ramal SBY-JK masih berlanjut hingga 2014.

Alasannya sederhana. Ada banyak presiden di dunia yang pernah menjabat hingga lebih dari satu periode. Mereka tidak mengganti wakilnya. Contohnya, Ronald Reagan-George Bush, Bill Clinton-Al Gore dan George W. Bush-Dick Cheney. Mereka menjabat 2 periode dengan tetap mempertahankan wakilnya.

Apabila SBY mengganti wakilnya pada periode kedua masa jabatannya (andaikan terpilih lagi) hanya akan menempatkan dirinya sebagai pengikut jejak Suharto yang selalu mengganti wakilnya.

Ketidakpedulian saya terhadap banyaknya pemilih yang gagal mencontreng berubah saat putri dari kerabat saya gagal mencontreng.

Kesedihan Pemilih Pemula

Tiga hari usai pemilu saya berkunjung ke rumah kerabat. Silaturahmi biasa. Kerabat saya ini memiliki seorang putri yang duduk di sekolah lanjutan atas kelas akhir.

Sang Putri sudah memiliki KTP dan karenanya masuk kategori pemilih pemula. Dia tentunya memiliki hak untuk datang ke TPS dan mencontreng sesuai selera pilihannya.

Dalam pandangan saya, remaja seusia Sang Putri belum memiliki idealisme politik tertentu. Ketertarikannya terhadap politik lebih didasari penampilan fisik sang caleg daripada pemikiran sang caleg. Caleg ganteng dan caleg cantik lebih sering diperbincangkan remaja seusia Sang Putri.

Karena itulah saya beranggapan bahwa pemilih pemula seperti Sang Putri tidak akan terlalu kecewa jika kesempatannya mencontreng pada 9 April tidak terlaksana.

Tetapi dugaan saya keliru. Kerabat saya bercerita tentang putrinya yang memendam kesedihan mendalam disebabkan tidak dapat berpartisipasi dalam pemilu. Katanya, Sang Putri menangis ditolak petugas KPPS. Namanya tidak tercantum dalam DPT.

Tentu saja saya agak heran mendengar cerita itu.

Mengapa harus bersedih hanya karena gagal mencontreng? Apalagi sampai memendam kesedihan mendalam. Terdengar aneh ditelinga.

Setelah saya berbicara langsung dengan Sang Putri, maka saya pun faham dengan kesedihannya tersebut.

Sang Putri bercerita bahwa dirinya dan teman-teman sekolahnya sangat antusias mengikuti momen penting yang bernama Pemilu.

Mereka membicarakannya dengan semangat remaja yang menggebu-gebu. Bahkan diantara mereka saling bertukar pesan SMS agar dalam mencontreng memilih caleg tertentu.

Yang dimaksud caleg tertentu adalah saudara atau kerabat dari teman-teman Sang Putri. Bilamana kebetulan masih terkelompok dalam daerah pemilihan (dapil) yang sama, pesan agar memilih caleg tertentu tersebut semakin kuat.

Maka itu beredar SMS diantara mereka yang berisi pesan seperti ini: “Jangan lupa. Contreng nomor sekian dari partai nomor sekian. Makasih, ya…hmmm……muachhhh.”

Dapat dikatakan, pemilih pemula menyambut datangnya pemilu dengan kegairahan yang tinggi. Itulah sebabnya mereka ikut pula meramaikan kemeriahan kampanye. Kepanasan dan kulit terbakar tidak dihiraukannya. Yang penting ada kegembiraan dan rasa bahagia berkumpul dengan teman di arena kampanye, sambil melihat penyanyi pujaan.

Remaja seusia Sang Putri ternyata sangat antusias menunggu tanggal 9 April. Sang Putri berharap setelah mencontreng pilihannya, kemudian akan mengirim SMS ke teman sekolahnya menceritakan pilihannya itu.

Tetapi malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Harapan Sang Putri sirna seketika saat namanya tidak ada dalam DPT dan gagal mencontreng. Sang Putri segera melaporkan kepada ayah dan ibunya. Dia berharap kedua orangtuanya membantu mengusahakan agar dirinya mendapat kesempatan mencontreng.

Upaya itu sia-sia belaka. Kedua orangtua Sang Putri pun tidak dapat membantunya. Bahkan mereka juga tidak ada dalam DPT.

Kedua orangtua Sang Putri tidak bersedih lantaran gagal mencontreng. Toh, tidak ada sesuatu yang hilang hanya karena tidak mencontreng. Tetapi tidak demikian dengan Sang Putri.

Sang Putri menangis menghiba-hiba. Ibunya turun tangan berupaya menenangkannya, tetapi tidak berhasil. Sang Putri terus saja menangis hingga kecapaian dan tertidur.

Ketika bangun dari tidur, kesedihan itu belum juga hilang. Kini giliran ayahnya yang berusaha menghiburnya. Tetapi Sang Putri malah mengurung diri di kamar hingga keesokan harinya.

Ayahnya merasa heran dan agak bingung dengan kesedihan putrinya itu. Seolah-olah putrinya sedang berkabung atas kematian seseorang.

Bukankah sebentar lagi ada contrengan pilpres? Lima tahun lagi juga akan ada pemilu? Lalu mengapa begitu bersedih? Demikian pendapat ayahnya.

Tetapi saya dapat merasakan kesedihan dan kekecewaan itu.

Hari Berkabung

Gairah remaja Sang Putri dalam menyambut datangnya pemilu seolah dibunuh dengan sangat kejam. Keinginannya mencontreng sebagai pengalaman pertama dalam hidupnya tiba-tiba digagalkan oleh administrasi yang sangat buruk dari para penyelenggara pemilu.

Wajarlah jika Sang Putri bersedih dan bahkan menangis. Tetapi tentunya dia tidak marah atau mengamuk seperti orang dewasa yang juga gagal mencontreng. Sang Putri hanya kecewa dan bersedih. Perasaan yang juga dimiliki para caleg yang gagal menjadi wakil rakyat.

Ketika kemudian saya pulang dari rumah kerabat saya itu, terlintas dalam pikiran, berapakah jumlah pemilih pemula seusia Sang Putri yang juga gagal mencontreng? Dan apakah mereka merasakan kesedihan dan kekecewaan yang sama dengan Sang Putri?

Dan seandainya kesedihan dan kekecewaan yang dialami Sang Putri memiliki derajat yang sama dengan kesedihan dan kekecewaan para caleg yang gagal menjadi wakil rakyat, maka ini bukanlah sesuatu yang dapat dianggap ringan.

Apalagi berita yang beredar menyebut angka hampir 30 persen pemilih gagal mencontreng. Dari angka tersebut, berapakah para pemilih pemula seusia Sang Putri yang gagal mencontreng?

Maka dari itu, tanggal 9 April, agaknya layak ditetapkan sebagai hari berkabung nasional bagi para pemilih pemula.

BaNi MusTajaB

5 comments on “TANGGAL 9 APRIL 2009 SEBAGAI HARI BERKABUNG NASIONAL BAGI PEMILIH PEMULA

  1. omiyan
    April 15, 2009

    menurut saya yang harus disalahkan adalah dari pihak pemberi data awal yaitu pihak desa/kelurahan…tahu sendiri mereka yang berada didesa/kelurahan rentan terhadap permintaan orang-orang tertentu dalam hal manipulatif data
    @
    Entahlah. Saya juga tidak mengerti dimana titik salahnya.

    Suka

  2. pemilih gagal
    April 17, 2009

    Hari Berkabung Nasional bagi SEMUA PEMILIH
    Hari Berkabung Nasional bagi KPU
    Hari Berkabung Nasional bagi PARPOL
    Hari Berkabung Nasional bagi CALEG BERHASIL DAN CALEG GAGAL

    Suka

  3. mesin kasir
    April 17, 2009

    hak pilihku juga hangus, karena tidak masuk dpt hiks karena tidak melibatkan RT RW nih kalo menurutku, BTW nitip inpo nih
    info merek merek daging olahan di pasaran yang mengandung babi : http://indocashregister.com/2009/04/16/info-konsumen-ritel-5-merek-dendeng-mengandung-babi/
    @
    terima kasih atas info dan kunjungannya

    Suka

  4. nusantaraku
    April 17, 2009

    Pemilu 2009 tidak dipersiapkan dengan baik.
    Padahal terjadi sedikit perubahan sistem baik dari sisi coblos ke centang hingga pemilihan by caleg.
    Namun, perubahan tersebut sudah diantisipasi dengan dana yang luar biasa besar dibanding 2004 ataupun 1999.
    Tapi, sayang…..untuk berhasil sesuatu yang baru di negeri selalu diawali kegagalan. Bisakah kita lebih cermat dan telaten, sehingga momen paling penting ini tidak menjadi momen kegagalan atau “berkabung”.
    Entahlah….tampaknya ada pemilu atau tidak, kepentingan rakyat tidak akan diprioritaskan juga…masih dianggap objek eksploitasi suara dan kepentingan.
    @
    Tentu saja kita sedih jika pemilu hanya menjadi perangkap politisi untuk mengeksploitasi rakyat. Tetapi kita memang tidak pernah mau belajar dari kegagalan yang pernah terjadi.

    Suka

  5. achoey
    April 18, 2009

    Sabar sobat
    Saya aja pemilu kali ini tergolputkan
    @
    Ya, mari kita bersabar.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 15, 2009 by in artikel and tagged , , .

Statistik Blog

  • 3,409,683 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: