BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

MILIK SIAPA KEBERHASILAN PEMBANGUNAN NEGERI INI?


Judul tulisan yang merupakan sebuah pertanyaan itu terkait dengan maraknya iklan partai politik yang secara tegas telah mengklaim keberhasilan pembangunan digawangi oleh partai yang beriklan tersebut.

Meski bentuk iklannya bervariasi, tetapi secara singkat, iklan-iklan tersebut menggambarkan

  1. Keberhasilan menurunkan harga BBM sebanyak 3 kali yang untuk yang pertama kali terjadi dalam sejarah negeri ini. Sudut pengambilan gambar dari iklan tersebut adalah SPBU. Keberhasilan ini diklaim milik Partai Demokrat
  2. Keberhasilan swasembada beras yang luar biasa hingga akan meningkat menjadi pengekspor beras. Sudut pengambilan gambar iklan ini di lahan pertanian yang sepintas tampak sama warna padi yang baru dipanen dengan warna dasar partai yang mengusung iklan. Keberhasilan ini diklaim milik Partai Golkar.

Kedua partai tersebut tentu sah-sah saja mengklaim keberhasilan pembangunan sebagai milik mereka berdua yang kebetulan kedua tokoh utamanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Meski kalau dikaji lebih jauh klaim keberhasilan kedua puncak pimpinan negeri ini juga lantaran dibantu sejumlah menteri dari partai yang berbeda.

Para menteri yang tentunya memiliki kecakapan, kecerdasan dan kredibilitas tersebut agaknya tidak ambil pusing manakala kerja keras mereka tidak terlalu dihargai atau tidak disebut-sebut sebagai bagian dari pemerintahan berkuasa. Ini tentunya dari partai yang berbeda dengan kedua partai di atas.

Tradisi untuk mengklaim sebuah keberhasilan atau kesuksesan sebagai milik sendiri atau karena kehebatan diri, bukan sesuatu yang aneh. Meski sebenarnya keberhasilan itu dicapai bersama-sama, bergotong royong yang melibatkan semua unsur yang ada di masyarakat.

Rambate rata hayo

Rambate rata hayo

Singsingkan lengan baju

Kalau kita mau maju

(sebuah tembang bernuansa kerja bareng, gotong royong)

Tetapi kedua iklan yang marak belakangan ini jelas-jelas menunjukkan bahwa dalam 5 tahun ini hanya kedua partai besar tersebut saja yang berhasil membawa negeri ini ke arah yang lebih baik.

Persoalannya adalah andaikata terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Katakanlah ketidak berhasilan pembangunan. Apakah dengan sendirinya kedua partai tersebut yang dianggap berdiri di belakang ketidak berhasilan itu?

Belum tentu. Biasanya, para menteri yang dinilai kurang beres kerjanya. Dan para menteri ini dari partai yang berbeda.Bahkan yang parah, pejabat di daerah pun dapat dituding sebagi faktor ketidak berhasilan

Keberhasilan bisa diklaim sebagai miliknya. Tetapi ketidak berhasilan, diklaim milik orang lain.

KLAIM KEBERHASILAN DAN KETIDAK BERHASILAN

Ada sebuah ilustrasi menyangkut klaim keberhasilan semacam itu. Ambil contoh, ketika seorang anak berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan nilai yang sangat bagus tentu akan berbangga diri dengan keberhasilannya itu. Tetapi biasanya pada saat yang bersamaan sang ayah dari anak tadi juga akan mengklaim keberhasilan itu sebagai miliknya atau karena pengaruh dirinya.

Umumnya sang ayah akan melontarkan kata-kata semacam ini,

“Siapa dulu dong bapaknya.”

Atau tidak jarang sang ibu juga rebutan mengklaim keberhasilan sang anak dengan mengatakan kata-kata yang sama,

“Siapa dulu dong ibunya.”

Klaim ayah dan ibu semacam itu lumrah saja. Meski sesungguhnya itu bermakna memotong prosentase keberhasilan sang anak.

Sang anak yang mungkin merasa 100 persen nilai pendidikan yang diperoleh sebagai hasil kerja keras belajar, tiba-tiba dipotong menjadi hanya 50 persen saja kerja kerasnya. Sisanya milik sang ayah dan sang ibu.

Sang ayah sah-sah saja memiliki 25 persen keberhasilan anaknya. Misalkan dalam bentuk melengkapi sarana dan prasarana belajar anak. Dan sang ibu juga berhak memiliki 25 persen dari keberhasilan anaknya. Misalkan, dalam bentuk perhatian menyediakan makan pagi, siang dan malam atau mengurus pakaian anak yang kotor.

Tradisi mengklaim keberhasilan dalam sebuah keluarga sebagaimana diilustrasikan di atas tentu saja wajar dan tidak salah sama sekali. Bahkan sang anak pun tidak akan merasa sedih atau kecewa prestasi yang diraihnya bukan karena jerih payahnya seorang, melainkan juga karena jasa ayah, ibu dan juga kakak, adik, bahkan guru, saudara dan teman-temannya.

Tetapi masalahnya menjadi lain manakala anak tidak berhasil atau malah menyusahkan orangtua. Sebut saja, sang anak terlibat narkoba atau kriminalitas.

Maka yang terjadi adalah saling tuduh diantara kedua orangtuanya.

Sang ayah akan berkata kepada isterinya,

“Ini pasti gara-gara ibu yang tidak memperhatikan anaknya!!!.”

Di saat bersamaan, sang ibu tidak kalah kerasnya berkata kepada sang suami,

“Justru ayah yang tidak pernah peduli dengan anaknya. Kerja lembur terus, ke luar kota berhari-hari. Anak tidak diperhatikan??!!!!!.”

Demikianlah saling tuduh manakala terjadi ketidak berhasilan. Serupa tapi tak sama dengan klaim keberhasilan dan ketidak berhasilan pembangunan negeri ini.

Kita kembali lagi ke masalah iklan partai menyangkut klaim keberhasilan.

Pembaca Budiman

Ada sesuatu yang unik menyangkut iklan partai politik. Bersamaan dengan iklan kedua partai di atas, ada pula iklan yang sesungguhnya menggugat klaim keberhasilan kedua iklan tersebut.

Iklan partai politik Gerindra secara jelas dan tegas menilai ada sesuatu yang kurang dalam 5 tahun belakangan ini. Atau singkatnya ada ketidak berhasilan pemerintahan yang berkuasa saat ini. Dan tentu saja iklan tersebut tidak asal bikin. Pasti ada riset yang teruji.

Dalam pandangan saya iklan ini tergolong cerdas dan santun. Tutur bahasa yang dilontarkan Prabowo, sang ketua partai, lembut namun berwibawa. Terlepas dari apakah iklan parpol ini akan menggiring masyarakat untuk memilihnya pada hari H nanti, namun yang pasti iklan ini mudah dicerna, sederhana dan sangat memikat. Sebuah kombinasi yang berhasil antara penggagas ide, periset lapangan dan penulis naskah.

Iklan partai politik yang juga bernuansa menggugat klaim keberhasilan pemerintahan saat ini adalah iklan PDIP. Sang ketua partai, Ibu Mega secara tegas mengatakan ingin menurunkan harga sembako. Apa yang dikatakan Ibu Mega pasti tidak asal bicara. Ada riset yang mendahului.

Sayangnya iklan PDIP ini tidak gencar di layar kaca. Hanya sesekali saja muncul, sehingga agak sulit diingat kata-katanya. Yang mudah diingat ya tentu saja Ibu Mega dan suaranya yang merdu mempesona. Mudah dikenali.

Boleh jadi, tidak gencarnya iklan parpol yang satu ini sekadar menunggu timing yang tepat menjelang hari pemilu.

Tetapi yang jelas, iklan tersebut sesungguhnya juga menunjukkan ada sesuatu yang kurang dalam pemerintahan berkuasa saat ini. Ada ketidakberhasilan yang bertolak belakang dengan iklan keberhasilan kedua partai.

Sekaitan dengan hal ini, muncul kemudian dalam benak saya pertanyaan seputar apakah iklan keberhasilan kedua partai politik yang disebut di awal tulisan masih layak di tayangkan?

Misalkan saja masih layak ditayangkan. Hal itu menunjukkan bahwa dalam 5 tahun ini hanya kedua parpol tersebut saja yang memiliki porsi besar dalam pembangunan. Dan ini tidak sesuai dengan slogan-slogan Bersama Kita Bisa atau Kabinet Indonesia Bersatu.

Lalu dengan kacamata apa kita melihat tragedi besar Lumpur Lapindo yang nyaris berlarut-larut penyelesaiannya? Atau juga korban tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam yang masih berada di barak pengungsian?

Bahkan bukan suatu kebetulan pula terjadinya tragedi besar Lumpur Lapindo disebabkan pengeboran minyak atau gas yang justru dijadikan maskot keberhasilan Partai Demokrat dengan kata-kata sukses menurunkan 3 kali harga bahan bakar minyak dan gas. Ironis sekali.

Adalah lebih baik bilamana Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Bapak Jusuf Kalla menjadi milik semua lapisan masyarakat dari partai apapun dan golongan manapun. Dan tidak hanya dimiliki kedua partai.

Agar kelak keduanya layak menjadi Bapak Bangsa atau Guru Bangsa dan bukan Bapak partai atau Bapak golongan tertentu. Sungguh indah dan membahagiakan semuanya.

BaNi MusTajaB

2 comments on “MILIK SIAPA KEBERHASILAN PEMBANGUNAN NEGERI INI?

  1. Tongkonan
    Februari 12, 2009

    Persaingan politik di Negeri kita ini ternyata masih jauh dari sehat ya mas.
    @
    Boleh jadi dugaan Anda benar Mas

    Suka

  2. cenya95
    Februari 19, 2009

    Bagaimana mo sehat ?
    kalo Caleg ajah belum kepilih dah meributkan capres dan cawapres.
    *gelenggeleng*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 2, 2009 by in artikel and tagged , , , , , , .

Statistik Blog

  • 3,406,063 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: