BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

REKOR MURI KETUPAT RAKSASA HARUSNYA DIBATALKAN


Ketupat Raksasa yang dipertunjukkan di Plaza Arsipel, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tanggal 12 Oktober 2008 lalu tidak selayaknya masuk dalam Rekor MURI. Rekor itu harusnya dibatalkan demi menjaga citra MURI dan tentu juga nama baik Sang Super Jenius Jaya Suprana yang memang identik dengan MURI.

Berikut ini beberapa catatan yang mungkin dapat dipelajari seputar gagalnya Ketupat Raksasa itu.

1. Bahan pembungkus beras adalah daun lontar. Sejauh ini, pembuatan ketupat selalu menggunakan daun kelapa. Namun pada kenyataannya, panitia menggunakan selongsong (kulit) terbuat dari anyaman daun lontar. Padahal, daun lontar cenderung tidak tahan terhadap panas dan mudah pecah.

2. Kuali atau dandang untuk memasak ketupat tersebut menggunakan plat baja. Ini pun tergolong aneh. Sejauh ini, dandang yang biasa dipakai adalah menggunakan bahan alumunium. Bahkan ada mitos yang mengatakan bahwa beras tidak dapat diadu (baca:dimasak) dengan besi atau baja.

3. Proses memasak ketupat pun tergolong unik, yaitu beras dimasak terlebih dahulu menggunakan dandang berbahan alumunium berukuran biasa (dandang yang biasa digunakan penjual bakso). Setelah beras agak masak (baca: setengah matang), lalu diambil dan dipindahkan ke dalam ketupat anyaman daun lontar yang berada di dalam dandang berbahan baja tersebut. Di dalam dandang baja itu sudah ada airnya.

Tradisi yang umum berlaku di masyarakat dalam memasak ketupat biasanya adalah beras langsung dimasukkan ke dalam ketupat. lalu ditaruh di dalam dandang alumunium, diberi air dan kemudian dimasak.

Sedangkan yang dilakukan panitia adalah dengan cara memasak setengah matang dalam dandang alumunium dan lalu dimasukkan dalam anyaman bungkus ketupat daun lontar yang sudah berada di dalam dandang baja berisi air dan lalu dimasak. Inilah yang menjadikan ketupat berubah menjadi bubur ketupat.

Proses kerja yang dilakukan panitia pembuatan Ketupat Raksasa tersebut tentu saja tidak profesional, karena diluar kebiasaan yang umum berlaku dalam proses pembuatan ketupat. Inilah yang mengakibatkan Ketupat Raksasa gagal menjadi ketupat. Hasilnya hanyalah bubur ketupat.

Meski, tentu saja, anyaman daun lontar yang pecah dan robek itu tidak terlihat pengunjung, lantaran ditutupi dengan anyaman daun lontar yang baru. Entahlah, apa hal ini dapat dikategorikan kebohongan publik.

Apa yang penulis sampaikan seputar masalah ini sebenarnya adalah agar upaya atau ambisi apapun untuk mencapai rekor tertentu hendaknya dilakukan secara benar dan penuh ketelitian yang dalam. Istilah kerennya, profesionalitas gitu lho!.

Rekor MURI yang digawangi Jaya Suprana tentu tidak boleh terjerumus dalam upaya pencatatan rekor yang tidak bertanggung jawab. Kredibilitas MURI tentu akan dipertanyakan dikemudian hari, apabila hal semacam ini tidak dikritisi. Harapan untuk tercatat dalam jenjang rekor spektakuler yang lebih tinggi, misalnya Guinness World Records, tentu semakin jauh saja.

Di samping itu, gagalnya Ketupat Raksasa dikonsumsi masyarakat terasa ironis sekali jika dilihat dari momen pagelaran itu sendiri.

Kita semua mengetahui bahwa dalam lebaran, berkarung-karung beras dikumpulkan dari orang-orang yang mampu (atau yang disebut zakat fitrah) untuk kemudian diberikan kepada orang-orang yang tidak mampu atau fakir miskin. Inilah puncak kegembiraan orang yang berlebaran.

Namun, dalam pagelaran ambisius mendapatkan rekor pada tgl. 12 Oktober itu justru terjadi hal sebaliknya. Beras seberat 750 kg tersebut menjadi busuk, tidak dapat dikonsumsi dan entah dibuang kemana.

Oleh karena itulah, demi menjaga citra, Rekor MURI hendaknya mempertimbangkan kembali agar Ketupat Raksasa produk tgl 12. Oktober itu dicabut dari catatan Rekor MURI. Tapi jangan berkecil hati. Toh, masih ada peluang membuat rekor Ketupat Raksasa pada lebaran yang akan datang. Tentu saja dengan perhitungan yang lebih akurat dan tidak menyalahi tradisi membuat ketupat yang biasa berlaku di masyarakat. Dan ketupatnya dapat dimakan bersama-sama. Asyikk deh!

BaNi MusTajaB

Tulisan terkait:
Patutkah Ketupat Raksasa masuk Rekor MURI?

One comment on “REKOR MURI KETUPAT RAKSASA HARUSNYA DIBATALKAN

  1. PEMECAHAN RECORD MURI
    Juli 12, 2012

    Kayaknya yang dijadikan patokan dimensi yang mana aja kawan…kita nggak tahu dimensi apa sebagai indikator dari pemecahan record tersebut ketika tertuang rencana pemecahan record tersebut dengan Jaya Suprana….coba chek lagi ke panitya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 22, 2008 by in berita and tagged , , , .

Statistik Blog

  • 3,406,063 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: