BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

MEMBURU SELENDANG KEPRESIDENAN


AGUS SISWANTO

Pemilu masih setahun lagi. Tetapi upaya orang-orang tertentu untuk mendapatkan kekuasaan dalam pemilu tahun depan sudah dipersiapkan. Diantaranya berburu selendang gaib untuk memperoleh kemenangan.  

Pada zaman dulu, Kabupaten Sumedang merupakan kerajaan dibawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor.

Seiring perubahan zaman, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Pertama, Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin Prabu Guru Adji Putih pada abad ke 12.

Kemudian zaman Prabu Tajimalela (sekitar abad ke 14), diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/ Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya). Penamaan ini terkait dengan peristiwa gaib yang dialami Prabu Tajimalela.

Dikisahkan, pada suatu ketika terjadi suatu keajaiban alam selama 3 hari 3 malam di sekitar Kerajaan Tembong Agung. Langit terang benderang seperti taji yang melengkung bagai malela (selendang).

Pada saat itulah Prabu Tajimalela mengucapkan kata-kata: Insun Madang yang berarti Aku Terang atau Insun Medal yang berarti Aku Terbit.

Sumedang Larang mengalami masa kejayaan saat dipimpin Pangeran Angka Wijaya dan Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah selatan sampai dengan samudera Hindia, wilayah utara sampai Laut Jawa, wilayah barat sampai dengan kali Cisadane, dan wilayah timur sampai dengan kali Cipamali.

Disinilah beliau mengajarkan Ilmu Kasumedangan yang berisi 33 Pasal, dimana kemudian hari ilmu ini menjadi falsafah turun temurun bagi kerajaan Sumedang Larang

Peninggalan Prabu Tajimalela adalah situs batuan menhir yang terdapat di puncak Gunung Lingga, desa Cimarga, kecamatan Darmaraja. Di tempat ini Prabu Tajimalela ngahyang atau menghilang setelah takhta kerajaan Sumedang Larang diwariskan kepada putranya yang bernama Prabu Gajah Agung.

 

Selendang Gaib

Menurut Adi Suprayitno, supranaturalis yang tinggal di Tangerang, sosok Prabu Tajimalela memiliki tubuh tinggi berkumis dan mengenakan surban haji. Beliau sering menampakkan diri saat bulan Maulud.

Mengapa dia mengenakan jubah bercorak Islam?

Menurut Adi, hal itu karena Prabu sebenarnya tertarik dengan agama Islam yang mulai marak di wilayah kerajaannya yang dikembangkan Kian Santang.

“Sosok Kian Santang sangat berpengaruh dalam pribadi Prabu Tajimalela. Terutama nasehat-nasehatnya,” kata Adi.

Diantara wejangan Kian Santang yang sering dikemukakannya dihadapan tokoh-tokoh atau pejabat-pejabat kerajaan antara lain: Mika welas, Mika asih, Mika dedeh, Mika nyaah, Ka rakyat na (Bersikap menyayangi dan mengasihi kepada seluruh rakyat).

Gunung Lingga diyakini merupakan kraton gaib Prabu Tajimalela. Bahkan di tempat ini pula, sosok gaib Kian Santang menampakkan dirinya. 

Menurut Adi, Gunung Lingga sering menjadi tujuan orang-orang yang memiliki hajat tertentu. Mereka yang datang biasanya melakukan ritual dan tirakat di dekat batu menhir yang dikeramatkan tersebut.

Apabila tirakatnya dilakukan dengan benar dan khusyuk, maka biasanya orang tersebut akan mendapatkan sesuatu berupa barang atau benda-benda pusaka.

“Beberapa kali saya melihat benda pusaka yang diperoleh dari gunung itu,” ujar Adi. Benda-benda yang dilihatnya bermacam-macam, seperti kujang (keris khas Pajajaran), tombak, dll.

Tetapi menurut Adi, belakangan ini terdengar kabar adanya perburuan benda gaib berupa selendang.

“Saya mendengar dari beberapa orang yang tirakat di sana, katanya ada orang-orang tertentu yang melakukan ritual di Gunung Lingga untuk mendapatkan selendang,” ujarnya

Selendang yang diburu ini bukanlah selendang sembarangan, melainkan selendang kepresidenan.   

Sebenarnya perburuan selendang ini bukanlah yang pertama kali terjadi. Beberapa tahun lalu atau tepatnya menjelang Pemilu 2004, isu santer perburuan selendang kepresidenan ini pernah terdengar pula. Tetapi tidak jelas, apakah ada yang berhasil mendapatkannya atau tidak.

Sebagaimana disebutkan di atas, kata ‘selendang’ itu sendiri awalnya merupakan pengalaman gaib Prabu Tajimalela yang melihat langit seperti taji yang melengkung bagai malela (selendang).

Namun bagi kalangan tertentu, peristiwa itu dipandang berbeda.

“Ada yang menganggap bahwa Prabu Tajimalela memang benar-benar mendapatkan selendang itu dalam arti nyata,” kilah Adi. “Selendang itulah yang menunjang kekuasaannya.”

Penafsiran yang berbeda terhadap selendang itulah yang kemudian menjadi buruan kalangan spiritualis untuk mendapatkannya.

Selendang itu sendiri bukan 1 buah melainkan ada 5 buah dengan warna yang berbeda, yaitu selendang warna merah, hitam, kuning, hijau, putih. Sepintas sebagian warna itu mirip warna bendera partai-partai besar di negeri ini.

Seorang paranormal yang Misteri hubungi membenarkan seputar adanya perburuan selendang tersebut. Tetapi dia mempunyai pendapat berbeda.

“Selendang itu sebenarnya bukan hanya diburu kalangan orang-orang politik. Tetapi juga orang-orang yang ingin menjadi bupati, kepala desa, lurah atau pengusaha agar bisnis usahanya laris,” katanya.

Dia mengungkapkan, sejauh yang diketahui orang-orang yang tirakat di Gunung Lingga sudah biasa mendapatkan benda pusaka semacam keris atau kujang dalam wujud fisik. Tetapi yang mendapatkan selendang dalam bentuk fisik belum pernah didengarnya.

“Saya menduga selendang itu wujudnya gaib. Mereka yang mendapatkan selendang itu akan langsung menempel di tubuhnya. Jadi semacam khodam,jin pendamping atau wahyu keprabon,” katanya.

Dalam pandangan gaibnya pula, Prabu Tajimalela memiliki 3 pengawal berjubah hitam dan 3 harimau belang (belang satu, belang hitam, belang putih). Pengawal-pengawal itu tentu tidak mudah ditaklukkan untuk mendapatkan selendang kepresidenan. Andaikan selendang itu benar-benar ada.

 

Sumber:

Majalah Misteri (Investigasi Supranatural)

Jl. Kramat V No. 11B, Jakarta Pusat 10430

 

 

 

13 comments on “MEMBURU SELENDANG KEPRESIDENAN

  1. mukhdan
    Agustus 13, 2008

    bagi saya selendang itu gak ada

    Suka

  2. lischantik
    Agustus 23, 2008

    antara percaya & tidak percaya, rasanya sulit di trima akal hal tsb

    Suka

  3. HNS
    April 12, 2009

    Selendang itu bisa ada dan segala sesuatu itu kalau kehendak Allah bisa terwujud. Yang jelas siapapun yang menerima selendang itu harus mengamalkan pesan Prabu Kian Santang yang antara lain harus welas asih, nyaah dan deudeuh ka sesama dan bawahan atau rakyatnya…

    Suka

  4. kohi
    Juli 17, 2009

    kaca mata gaib tidak bisa di samakan dengan kacamata lahir pergunakan hati yang bersih untuk menelusurinya.bisa ada bisa tidak ada.

    Suka

  5. danu
    Agustus 22, 2009

    saya sangat prcaya banget selendang itu ada,tapi bukan saya yg mendapatkan’Y yah_kenapa saya bilang saya percaya.karna saya sndiri pernah datang k’sana,k’makan e’yank prabu taji malela,makam beliau bnar” ad d’puncak gunung lingga pas d’tengah” hutan.makam beliau sangat kramat dan wangi sekali,jd yah saya percaya dengan sejarah tentang selendang itu

    Suka

  6. surya
    Maret 4, 2010

    sejak zaman dulu sampai hari ini,hampir semua pejabat dan petinggi kita menggunakan sarana gaib untuk meraih kekuasannya (koreksi kalau saya salah ).
    Mungkin udah pada gak pede dengan kemampuannya atau memang moralnya udah pada rusak.
    Kita do;akan semoga kedepannya para pejabat dan pemimpin kita hatinya lebih bersih lagi.ammiiinnn

    Suka

  7. yunus pramuja
    Maret 31, 2011

    nu peunting,hirupna manusa kudu percaya kabadan sorangan

    Suka

  8. taryana dhee
    Februari 9, 2012

    sindir sampir silib siloka sandi simbul sasmita….

    hanya satu yang tau arti selendang,,ada ap tiada.cerita ap nyata….

    jisim jati rasa samapurna hurip nu hirup,waluya ku kersana gusti abdi….

    Suka

  9. Uzho
    Juli 27, 2012

    Asalmualaekum Wr Wb
    Sampurasun,,,

    Mungkin bisa juga Pak selendang tsbt mrupakan (siloka) yg harus di maknakan! Bisa jd slndang tsbt merupakan siloka, visualisasi dr karomah/kesaktian beliau Resi Tungtang buana( Prebu Tadji Malela) semasa hdup beliau dikenal sbgai RAJA yg sgt mahsyur, sekaligus menjadi RAMA, dan RESI. Dalam konsep kepemimpinan sunda waktu itu di sebut Tri Tangtu di Buana, yg Ilmu dan Sifat tsbt beliau miliki semua. Sebenarnya Saya sendri sbgai pngagum beliau,dan pernah jga bbrapakali berziarah ke Gunung Lingga krang setju apabila ada yg mengatakan beliau beragama Hindu. Karena ajaran” beliau sendri bernafaskan bak islam yg menjurus pada ilmu ketauhidan.Bhkan sbgian orang Sumedang percya bhwa beliau Islam, sekian share sy pak.
    Haturnuhun
    Wasalam

    Suka

    • Arief Wahyu Nugroho
      Mei 15, 2014

      Wa’alaikumsalam wr wb…

      Kang uzho sareng kang danu salam kenal dr saya….🙂, masih suka berziarah ke gn lingga kang…

      Salam,

      Suka

  10. Ping-balik: Selendang Butik - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  11. Ping-balik: Selendang Hijau Habib - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  12. Ping-balik: Selendang Arab - Fashion dan Belanja Jadi Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik Blog

  • 3,406,063 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: