BaNi MusTajaB

Ilaahii Anta Maqshuudii Wa Ridlooka Mathluubii

INGIN NAIK HAJI? DATANGLAH KE MASJID JAMI SUNGAI BANAR AMUNTAI KALSEL


Masjid Jami Sungai Banar

AGUS SISWANTO

Masjid tertua di Amuntai ini sudah berusia 204 tahun. Banyak kejadian aneh sejak awal berdirinya. Bahkan ada cerita, bagi mereka yang ingin pergi haji sebaiknya datang terlebih dahulu ke masjid ini. Dalam serangkaian jelajah ke Kalimantan, Misteri menyempatkan diri berziarah ke masjid bersejarah ini. Terlebih lagi setelah sebelumnya Misteri mendengar kisah-kisah gaib seputar masjid keramat ini.

Misteri tiba sekitar pukul 16.00 sore, pada bulan Juni 2006 lalu. Setelah menyempatkan shalat Ashar berjamaah bersama takmir masjid, Ustadz H. Husaini, Misteri menyusuri sejarah masjid berkaromah ini. Berikut laporannya.

Masjid Jami Sungai Banar terletak di tepi Sungai Banar, sekitar 3 km dari Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tepatnya, di perbatasan Desa Jarang Kuantan dan Desa Ujung Murung (sebelumnya masuk Desa Ilir Masjid).

Masjid pertama di Amuntai ini berdiri pada tahun 1804 M (1218 H). Terdokumentasi dalam catatan pahatan pada bedug yang masih dimanfaatkan.

Dikisahkan, sejumlah warga Amuntai yang sedang berguru kepada Waliyullah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1710-1812M) di Martapura, menerima saran dari Syekh agar dibangun sebuah masjid di wilayah Amuntai. Kebetulan saat itu memang belum ada masjid. Selain itu Sang Wali juga memberikan sebuah Kitab Suci Al Qur’an tulisan tangan.

Peristiwa Aneh

Bak gayung bersambut, saran itupun disambut hangat warga Amuntai. Secara bersama, masyarakat mempersiapkan pembangunan masjid, seperti batu-batu, kayu, sirap,dll. Hingga kini, bahan baku masjid seperti kayu ulin, tiang, balok, papan dan sirap masih dapat disaksikan di sekitar masjid. Lokasi pertama yang dipilih sekitar 500 meter dari lokasi masjid yang sekarang.

Keanehan terjadi menjelang pemasangan tiang masjid (batajak tiang-bahasa Banjar). Mendadak masyarakat terkejut melihat sejumlah tiang besar yang terbuat dari kayu ulin itu hilang dari tempat pembuatannya. Setelah dilakukan pencarian, tiang-tiang itu ditemukan di tepi sungai di lokasi yang sekarang. Ketika itu, sungainya belum ada namanya.

Tentu saja kegaduhan muncul mengenai siapa yang memindahkan tiang-tiang yang memiliki bobot beberapa ton itu. Untuk mengangkat satu tiang saja dibutuhkan puluhan orang, apalagi lebih dari satu tiang. Padahal malam sebelumnya, masyarakat masih melihat tiang-tiang tersebut.

Keanehan itu pada akhirnya dipandang sebagai sebuah isyarat gaib bahwa lokasi masjid haruslah di tempat tiang-tiang itu berada sekarang. Maka dimulailah pembangunan masjid tersebut. Di kemudian hari tiang-tiang masjid tersebut ada yang mengeramatkan.

Bangunan asli masjid berukuran 25 x 20 meter. Berbentuk mirip Rumah Adat Banjar (panggung), memakai tiang dan bertingkat. Bahan-bahan rangka, lantai dan dinding papan dari kayu ulin dengan bagian atap dari sirap yang tinggi. Ketika itu belum dibuat menara.

Sedangkan mimbar khotbah merupakan wakaf pribadi H. Mahmud yang ukirannya dikerjakan 2 orang ahli ukir pada masa itu, yaitu Buha dan Thahir. Mimbar itu terbuat dari kayu ulin, berukuran 3,8 m x 1 m dengan total tinggi 4,5 meter terdiri dari badan 2 meter dan menara 2,5 meter. Usai masjid dibangun, terjadi lagi peristiwa aneh.

Pria misterius

Ketika itu masyarakat bersyukur menyaksikan jerih payahnya rampung. Merekapun bermusyawarah menentukan nama terbaik buat masjidnya itu. Tetapi belum ada keputusan yang diambil.

Tiba-tiba datanglah sebuah perahu yang merapat di tepi sungai dekat masjid. Penumpang perahu yang tampak seperti pedagang itupun turun dan meminta izin masyarakat untuk menunaikan shalat. Karena kebetulan bertepatan tibanya dengan waktu shalat. Tentu saja masyarakat merasa senang, karena orang itu merupakan jamaah shalat yang pertama dari daerah lain.

Setelah shalat, orang itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tetapi masyarakat terkejut melihat sebuah kantong berisi uang (kadut duit-bahasa Banjar) tertinggal di tepi sungai dekat perahu tadi bersandar. Merekapun sepakat untuk menyimpannya kalau-kalau orang itu kembali. Apalagi setelah diingatnya orang itu berperilaku baik dan alim.

Benar saja, beberapa hari kemudian orang itu datang lagi. Masyarakat pun kembali bergembira melihat si pemilik kantong berisi uang yang cukup banyak itu. Mereka bukan saja menyerahkan hak orang itu, melainkan juga menjamunya makan.

Pada waktu itulah, orang yang tidak diketahui jatidirinya itu berkata, “Urang-urang sini banar-banar kadada nang culasnya (orang-orang di sini semuanya jujur, tidak ada yang culas atau curang-demikian terjemahan dari bahasa Banjar)”.

Kemudian orang itu bertanya seputar nama sungai tempat perahunya ditambat dan juga nama masjid yang baru dibangun itu. Masyarakat serentak menggelengkan kepalanya. Baik sungai atau masjid memang belum ada namanya.

Orang itupun tersenyum sambil berkata,” Bagaimana kalau sungai itu diberi nama Sungai Banar dan masjidnya diberi nama Masigit (masjid) Sungai Banar?”

Serentak masyarakat bertakbir memuji kebesaran Allah SWT. Kebuntuan masyarakat menamai masjid pun terpecahkan. Setelah itu, pria itupun pergi. Tetapi siapakah pria misterius itu? Tidak seorangpun mengetahui asal usulnya.

Hingga kini masyarakat meyakini pria misterius itu tergolong Waliyullah. Sebagai buktinya, pernah ada upaya penggantian nama masjid telah berulangkali dilakukan, tetapi masyarakat tetap tidak bisa menerima. Upaya penggantian pernah terjadi tahun 1990. Nama masjid diganti menjadi Masjid Baiturrahman. Nama baru ini bahkan disahkan dalam sertifikat di Kantor Pertanahan Hulu Sungai Utara. Pada tahun 2000, muncul nama baru: Masjid Istiqomah. Nama inipun tercantum dalam Skep Kakanwil Depag Kalsel tentang Penetapan Nomor Induk Masjid, dengan nomor urut: 1764090/61916.

Tetapi nama-nama baru itu sangat tidak populer dan hampir tidak pernah disebut masyarakat, kecuali nama Masjid Sungai Banar. Belakangan nama masjid ditambah menjadi Masjid Jami Sungai Banar untuk menunjukkan sebagai masjid besar dan bersejarah.

Tokoh-tokoh ulama

Berdirinya Masjid Jami Sungai Banar menyemarakkan kehidupan beragama masyarakat Amuntai dan sekitarnya. Bahkan ada yang datang dari wilayah lain untuk belajar dan menuntut ilmu. Keberadaannya dapat dikatakan sebagai pusat pengembangan Agama Islam waktu itu.

Tercatat beberapa ulama besar yang pernah mengisi taklimnya di masjid ini, seperti: Tuan Guru H. Abdul Qodir (lahir thn.1830M ), Tuan Guru H. Ahmad bin H. Abdul Qadir (lahir 1860-1944), Tuan Guru H. Ahmad Khatib bin H.Muhammad Arif (1866-1956), Tuan Guru H, Abdul Hamid bin H. Matsaleh (1870-1940), Tuan Guru H.Abdul Hamid bin H. Jamaluddin (1896-1951, beliau wafat di Makkah), dll.

Para ulama besar itu umumnya juga pernah menimba ilmu di Makkah. Sebagai contoh, Tuan Guru H. Ahmad sempat mukim di Makkah selama 40 tahun. Salah seorang murid beliau yang bernama Tuan Guru H.Abdul Rasyid (1884-1934) dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Pakapuran Amuntai. Murid beliau yang juga terkenal adalah H.Ahmad Hasan Qadi dan H.M. Jannawi Amuntai, H.Jamaluddin dari Negara, H.M. Nawawi, H.Mukeri dari Birayang dan H. Zamzam dari Barabai.

Begitupula dengan Tuan Guru H.Abdul Hamid yang pernah mengajar di Makkah dengan murid antara lain K.H Abdul Karim Al Banjari Kandangan dan K.H Mahfudz Amin (pendiri Ponpes Ibnu Amin Pamangkih Barabai).

Pasukan Gaib

Bagi masyarakat Amuntai, para ulama besar itu selain dikenal dengan kedalaman ilmunya, juga karena karomahnya. Cerita seputar keramat para ulama itu masih dipercaya hingga kini. Diantaranya cerita karomah Tuan Guru H. Abdul Hamid yang tubuhnya terangkat seperti terbang saat sedang itikaf di bulan Ramadhan.

Terlebih lagi, saat perang kemerdekaan masjid ini pernah dijadikan semacam markas untuk mengatur strategi perang. Ketika itu, sekelompok orang yang dijuluki Pasukan Gaib dikenal memiliki ilmu daya linuwih yang mampu mengalahkan musuh berkekuatan besar. Penjajah bahkan tidak pernah bisa mengenali atau mendeteksi kehadiran mereka. Sepintas mereka layaknya santri biasa, mengaji Kitab Kuning. Padahal mereka juga digembleng ilmu-ilmu kadigjayaan agar siap menjadi Pasukan Gaib.

Dikisahkan, suatu ketika Pasukan Gaib yang dipimpin Mat’ali bersama wakilnya Itar dan sekitar 70 orang berniat menyerang markas Belanda. Sebelum berangkat mereka mengambil kain putih yang biasa dipakai Khatib Jumat. Mereka lalu menyobek kain itu menjadi dua. Sebuah diikatkan did kepala, yang lain diikatkan di pinggang. Sedangkan tongkat Khatib dijadikan tiang bendera pasukan sekaligus juga tombak.

Mereka pun menyerbu sarang musuh dan memperoleh kemenangan mutlak tanpa ada korban dipihak Pasukan Gaib. Sebagian musuh kabur ke daerah lain. Kisah ini sangat terkenal, terutama menyangkut kekuatan gaib yang dimiliki pasukan itu. Tetapi sayangnya, Misteri tidak berhasil melacak jejak ilmu kadigjayaan Pasukan Gaib (Ghost Soldiers).

Tiang perdamaian

Dalam pada itu, Misteri mendengar pula beberapa kisah lain yang tergolong unik seputar masjid yang juga merupakan cagar budaya ini.

Pada zaman dulu, apabila terjadi pertikaian antar suku, maka mereka melakukan pembicaraan damai di masjid ini. Sebagaimana diungkapkan Ruben, warga suku Dayak Kenyah yang tinggal di wilayah Muara Kate, Tabalong.

Menurutnya, cerita seputar karomah masjid itu didapatnya dari orang-orang tua dulu. Dia menceritakan, pernah ada pertikaan warga. Maka diantara mereka yang bertikai itu kemudian mengambil inisiatif untuk mengadakan perjanjian damai di Masjid Jami. Padahal lokasi pertikaan itu sendiri jauh dari wilayah Amuntai. Terkadang yang bertikai pun berlainan keyakinan dengan ulama.

Ketika itu ulama-ulama besar memiliki kharisma yang diyakini mampu mengakhiri pertikaian. Konon mereka yang bertikai itu melakukan perdamaian di dekat salah satu tiang masjid. Hingga kini, ada sebagian orang yang mengeramatkan tiang perdamaian tersebut.

Misteri terkejut juga mendengarnya. Tapi begitulah sebuah kisah tutur turun-temurun yang masih hidup. Uniknya lagi, tiang yang dikeramatkan itupun tidak semua orang mengetahuinya.

Naik haji ke Masjid Jami Sungai Banar

Keyakinan sebagian orang terhadap karomah masjid ini, setidaknya dibuktikan sejumlah mahasiswa IAIN Banjarmasin yang melakukan penelitian seputar maksud tujuan orang berkunjung atau berziarah ke Masjid Jami. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata peziarah datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan ada juga dari Negara tetangga.

Banyak diantara peziarah yang datang bermaksud melakukan tirakat untuk suatu hajat tertentu. Pada saat tirakat mereka biasanya juga bernazar, apabila hajatnya terkabul maka akan datang lagi untuk menunaikan nazarnya. Lalu hajat apa yang paling sering dilakukan?

Kisah ini Misteri dapatkan dari pria asal Martapura. Kebetulan pria ini seorang spiritualis yang biasa mendengar kisah-kisah legenda atau kegaiban di wilayah Kalsel.

Menurutnya, ada kepercayaan di masyarakat bahwa kalau mau pergi haji, datanglah ke Masjid Jami. Maksudnya adalah, apabila seseorang berkeinginan beribadah haji ke Makkah, tetapi kekurangan atau bahkan tidak ada dana yang mencukupi, maka mereka datang ke Masjid Jami untuk melakukan tirakat.

Di masjid itu, mereka lantas beribadah memohon sambil menangis kepada Tuhan agar keinginannya dapat terlaksana. Mereka juga berpuasa dan berzikir. Syukurlah, banyak diantara mereka yang terkabul hajatnya.

Tetapi dia mengingatkan, meski kisah ini tergolong aneh, tidak berarti orang-orang yang berkeinginan kuat pergi haji tapi kurang modal lantas datang ke Masjid Jami.

“Masjid itu kan rumah Tuhan. Maka sering-seringlah beribadah di masjid. Jangan hanya Jumat atau Maghrib saja,” demikian katanya.

Menurutnya, apabila seseorang sudah terbiasa beribadah di masjid (yang nota bene adalah ‘Rumah Tuhan’), Allah SWT pasti akan meridhoi hambaNya untuk beribadah di Masjidil Haram.”

Jadi sering-seringlah ibadah di masjid berjamaah dengan sesama Muslim lainnya. Insya Allah, mereka yang ikhlas melakukan akan berkesempatan ibadah di dekat Rumah Tuhan (Ka’Bah) di Mekkah.

Namun tidak semua yang tirakat di Masjid Jami berhajat naik haji. Ada diantara mereka yang ingin mendapat jodoh, usahanya laris, dll. Semua itu merupakan hal wajar dan sah-sah saja. Beribadah di masjid secara berjamaah terasa afdhol dan lebih cepat terkabulnya hajat daripada ibadah di rumah secara sendiri-sendiri.

Bagian dalam masjid. Tampak tiang-tiang masjid berusia  ratusan tahun

20 comments on “INGIN NAIK HAJI? DATANGLAH KE MASJID JAMI SUNGAI BANAR AMUNTAI KALSEL

  1. julakpani
    Mei 31, 2008

    Assalam.w.w.
    terimakasihbanyaklah dangsanak, ulun umpat mambaca tulisan pian
    wassalam w.w.
    SA

    Suka

  2. BaNi MusTajaB
    Juni 7, 2008

    Waalaikumsalam.terima kasih, pian.

    Suka

  3. syaipullah
    Agustus 4, 2008

    bagus banar dangsanakai tulisan ikam.
    kena kutunggu tulisan ikam yang lainnya
    salam buat bubuhan banjar dimana aja, kalsel kah, kalteng kah, kaltim kah, brunei akah, jawa kah, jakarta kah, sumatera kah, brunei kah atau malasysia kah

    Suka

  4. fachry
    September 21, 2008

    Kalau handak anaknya pintar ,sholeh mandikan haja dimesjid itu

    Suka

  5. Isau,grogot
    Oktober 12, 2008

    Ulun waktu msh umur 8tahunan rancak aja d bwa kwitan k masjid sei bnr tu, tp wayahni kd suah lg, kena hndk j pang lg ksna swaktu2 pbilakah kw.

    Suka

  6. Fahrul
    Desember 29, 2008

    Makasih banyak mangai,dahulu ulun rancak banar ka masjid sei banar tu,wayahni jauh banar di parantauan.

    Suka

  7. bahtiar
    Februari 14, 2009

    mudah-mudahan ada kesah aneh berikutnya, ulun suka kesah-kesah nang kaya ini. makasih
    @Bahtiar
    terima kasih juga Mas

    Suka

  8. andri
    Februari 25, 2009

    aku sangat terkesan dengan ceritanya insyaallah aku akan kesana dengan penuh semangat

    @
    terima kasih Mas

    Suka

  9. Anonim
    Maret 29, 2009

    Makasih dangsanak lah atas mengenakan mesjid sungai banar nih, ulun orang amuntai

    @
    Terima kasih juga atas kunjungannya

    Suka

  10. Imi harus
    Agustus 22, 2009

    Saudaraku yang budiman, mengenai saudagar yg singgah saat memulai mesjid itu adalah datu kami, antum hati2 dalam mengemas berita. Keluarga kamì ada dipenjuru daerah.
    Umumnya kaya harta dan ilmu. Antum kada usah mencari ana, karena ana kenal antum. Wassalam

    Suka

  11. Jati
    November 30, 2009

    makasih kami ucapkan atas tulisan yang anda pajang, semoga sampian mendapat berkah dari mesjid JAMI SUNGAI BANAR…………….
    @
    amin ya Robbal alamin.
    terima kasih, mas.

    Suka

  12. hasan
    Desember 22, 2009

    Ass.wr.wb , ulun sebelumnya mohon maaf umapat batakun masigid sungai banar itu nang parak jumbatan banua lima itu kah ?
    Kai ulun urang sungai banar gang pendidikan sebelah masjid muhammadiyah , anak kamanakan kai ulu H.Abul HAsan ,ngaran kai ulu
    H.Muhammad bin H.Muhammad ,nini ulun H.Mastura binti Jimat , ulun kada infomasi mengenai alm kai lawan nini ulun ,tolong bisa bantu ulun ,hasn balikpapan

    Suka

  13. noufy
    Maret 29, 2010

    Itu parak rmh ulun, tiap jumat sholat d sana

    Suka

  14. aya
    Juni 26, 2010

    Alhamdulilah….. daerah kita punya sejarah yang bikin bangga masyarakat kota amuntai

    Suka

  15. alfigenk
    Maret 6, 2011

    wahhh ini bagus banar,,tulisan sejarahnya

    Suka

  16. Didi Kesuma
    Juni 16, 2011

    Alhamdulillahi Rabbil AAlamiin,,,,,
    Kepada penulis saya ucapkan byk terima kaih…. info yg sangat luar biasa. Menambah wawasan kita ttg perkembangan Islam di kota Amuntai tercinta.

    Suka

  17. syahdan
    Agustus 7, 2011

    terima kasih

    Suka

  18. iful
    Juli 25, 2012

    lwas kd bjalanan ksitu nah. kena mun bulik hari raya ne

    Suka

  19. sugi yono
    Juli 19, 2016

    trimakasih julaklah reda ajakan ulun umpat maambil hikmahnya artekel pian nig kawalah dudihari pian masuk akan alamatnya masigit tu lalui GPS supaya nang kada tahu jalan kawa manuju kesitu tertama ulun pang lak ai.

    Suka

  20. Ulun umpat batakun padatauan ulun orang sei banar bangaran said dan said ini ada beisian anak bengaran karim karim ini yg merantau.
    Pertanyaan ulun tuan guru H Ahmad yg si daftar catatan pengajar di mesjid sei banar itu adakah beisisi anak yg bengaran Said dan becucu karim.?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 19, 2008 by in tasawuf and tagged , , , , , , , , , .

Statistik Blog

  • 3,409,683 hits

Kategori

Follow BaNi MusTajaB on WordPress.com

Twitter

%d blogger menyukai ini: