2014 in review

Januari 3, 2015 18 komentar

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 560.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 24 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

PERAN PESANTREN DALAM SEJARAH NUSANTARA

November 28, 2014 13 komentar

Ketika berkunjung ke Pesantren Darul Ulum Assar’iyyah (Pondok Jolotundo) di desa Seloliman, Mojokerto, Jawa Timur, saya menyempatkan diri berbincang dengan KH.Manshur (70 tahun), pimpinan pesantren tersebut.

Sebenarnya saat itu saya hendak membahas seputar peran pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Namun ternyata pembahasan tersebut melebar hingga masa-masa negeri ini masih dikuasai kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Siliwangi hingga berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara. Meskipun demikian, ada beberapa hal menarik dari hasil pembicaraan saya dengan Mbah Manshur, demikian saya menyapanya.
“Pada masa Tanah Jawa ini masih berdiri kerajaan non Muslim, para pedagang Islam, khususnya dari Tanah Arab dan sekitarnya, berdatangan dengan tujuan berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam,” kata Mbah Manshur.
“Tetapi diantara mereka ada juga yang secara khusus menyiapkan berdirinya kerajaan Islam di Tanah Jawa,” lanjutnya.

Pesantren Ampel Denta
Menurutnya, ada perbedaan prinsipil diantara orang yang berdagang sekaligus menyebarkan agama Islam dengan orang yang memang secara khusus hendak membentuk komunitas Muslim di negeri ini. Dalam hal yang disebut terakhir, perbedaan tersebut terletak pada terbentuknya pesantren. Diantara pesantren yang paling awal berdiri adalah Pesantren Ampel Denta yang dipimpin Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan bertempat di Surabaya. Beliau adalah putera dari Syekh Maulana Malik Ibrahim bapak para wali tanah Jawa dari ibu seorang puteri Raja Campa (Kamboja).
Sejarah mencatat bahwa sosok Raden Rahmat melanjutkan perjuangan bapaknya dalam menegakan Islam di Tanah Jawa. Raden Rahmat menetap di Ampel Denta. Menurut penuturan Babad Gresik, Raden Rahmat berhasil menjadikan daerah Ampel Denta yang semula berair dan berlumpur menjadi daerah yang makmur. Di sini beliau mendirikan pesantren, sehingga Ampel menjadi pusat dakwah Islam, sehingga Raden Rahmat digelari Sunan Ampel.
Intensitas perjuangan penegakan Islam di tanah Jawa lebih akseleratif dan terorganisir dimulai sejak kepemimpinan Sunan Ampel yaitu dengan merintis tanah Ampel Denta sebagai basis dakwah sekitar tahun 1422 M, sampai kejatuhan Kerajaan Majapahit tahun 1478 M atau sekitar 56 tahun.
Hingga wafatnya pada 1478 M, beliau memiliki jasa-jasa yang besar. Diantaranya adalah: lahirnya basis-basis personal yang berjiwa tauhid dan bermental jihad yang menjadi roh bagi perjuangan penegakan Islam menyongsong meluasnya Islam di Tanah Jawa. Ampel Denta menjadi pusat dakwah Islam di Tanah Jawa yang selanjutnya terjadi penyebaran hampir di seluruh wilayah Kerajaan Majapahit. Sunan Ampel berhasil membentuk para kader dakwah Ampel Denta menjadi pelopor perjuangan Islam di Tanah Jawa, khususnya di daerah-daerah kekuasaan Majapahit. Selanjutnya, seorang pangeran bintara yang bernama Raden Fatah berhasil merealisasikan berdirinya Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Sunan Ampel sendiri wafat bersamaan runtuhnya Majapahit, setelah menghantarkan berdirinya Negara Islam Demak.

Pesantren Selawe
Seiring perjalanan waktu, di tengah hiruk pikuknya jatuh bangunnya kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, lalu datanglah penjajah Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman. Dia mendarat pertama kali pada tahun 1596. Pada awalnya, rombongan de Houtman mendarat di Banten dengan alasan untuk berdagang, akan tetapi dalam perkembangan berikutnya bangsa Belanda bersikap kurang bersahabat sehingga mereka diusir dari kerajaan Banten.
Dalam perkembangan berikutnya, Belanda berubah menjadi kekuatan yang tidak sebatas berdagang, tetapi ikut campur, yakni dengan mengendalikan pemerintahan kerajaan-kerajaan di Indonesia. Penindasan Belanda yang kejam sangat menyengsarakan rakyat Indonesia hingga menimbulkan perlawanan di beberapa daerah di Indonesia.
Diantara perlawanan rakyat yang tergolong paling dahsyat adalah terjadinya Perang Jawa (1825-1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro. Perang yang memakan biaya dan korban yang cukup besar ini berakhir dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro di Magelang karena dikhianati Jenderal De Kock.
Meskipun saat itu sangat banyak anggota pasukan Diponegoro yang ditangkap dan dieksekusi Belanda, namun ada diantara mereka yang melarikan diri ke berbagai daerah. Diantara mereka adalah sekelompok orang yang melarikan diri dan menetap di sebuah pondok di Jombang.
Ketika itu di Jombong terdapat sebuah pesantren yang kemudian dikenal dengan sebutan Pondok Selawe yang berdiri pada 1825 di Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Jombang, Jawa Timur. Berdirinya pondok ini berawal dari kedatangan seorang ulama bernama Abdus Salam yang dikenal dengan nama panggilan Mbah Shoichah. Kedatangan beliau membawa misi menyebarkan agama Islam.
Kedatangan Abdus Salam di Desa ini semula masih merupakan hutan belantara, kurang lebih 13 tahun dia bergelut dengan semak belukar dan kemudian dijadikan perkampungan yang dihuni oleh komunitas manusia. Di sinilah dia berdakwah dengan mendirikan pesantren kecil. Pondok pesantren inilah yang dikenal dengan sebutan Pondok Selawe dikarenakan jumlah santri yang berjumlah 25 orang yang berasal dari anggota pejuang Pangeran Diponegoro. Hal ini terjadi pada tahun 1838 M.(Saat ini pondok selawe dikenal dengan nama Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Di lokasi ini pula cikal bakal terbentuknya organisasi Nahdlatul Ulama.
Sebagaimana diketahui, di pondok pesantren ini terdapat makam keluarga bani Chasbullah. Diantaranya makam KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri dan penggerak Nahdhatul Ulama (NU). Salah satu pendiri NU ini dikenal pula dengan sebutan Mbah Wahab yang merupakan generasi ke-4 dari pendiri Pondok Selawe.
Berkaitan dengan hal ini, Mbah Manshur mengungkapkan bahwa ada pergeseran pemikiran terhadap para ulama yang hidup pada masa Pesantren Ampel Denta dengan para ulama pada masa Pesantren Selawe. Khususnya menyangkut pola kaderisasi. Jika pada masa Pesantren Ampel Denta, para kader dakwah menjadi pelopor berdirinya kerajaan Islam pertama di Nusantara, maka para kader dakwah Pesantren Selawe menjadi pelopor berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
“Hal itu menunjukkan para kader dakwah yang hidup usai Perang Diponegoro itu lebih realistis dalam melihat kondisi kemajemukan di masyarakat. Mereka tidak menuntut berdirinya kerajaan Islam lagi, tetapi memilih berdirinya NKRI,” ujar Mbah Manshur.
Selanjutnya Mbah Manshur mengatakan bahwa sejak proklamasi 68 tahun lalu ini, NKRI mengalami pasang surut perkembangannya. Meski begitu ada satu tujuan yang sama yaitu terciptanya kemakmuran di seluruh negeri. Tujuan ini belum tercapai.
“Kemakmuran itu belum dirasakan saat ini. Tetapi saya yakin pasti ada orang-orang yang memikirkan hal ini,” katanya.
“Apakah menurut Mbah, para pemikir itu juga berasal dari kalangan pesantren sebagaimana Pesantren Ampel Denta dan Pesantren Selawe ?”Tanya saya ingin tahu.
“Tentu saja tidak. Para pemikir itu bisa datang dari kalangan mana saja. Tidak harus dari pesantren,” jawab Mbah Manshur.
Mbah Manshur mengungkapkan bahwa dirinya biasa bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang berbeda, termasuk yang berbeda keyakinan. Mereka sering membicarakan seputar bagaimana menuju kemakmuran bangsa ini. Semua itu menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bangsa ini sangat tinggi.
Menuju kemakmuran negeri ini tentu tidak harus dilakukan kelompok tertentu. Dan tidak pula dibutuhkan penonton. Kita semua adalah pelaku di dalamnya.(Agus Siswanto)

Fb: Em Agus Siswanto (maniakgaib@gmail.com)

KH. Manshur

KH. Mbah Manshur

KISAH SOLUSI BODOH: PESUGIHAN UANG BALIK

November 28, 2014 5 komentar

Sepintas kita menganggap bertauhid itu cukup dengan mengucap dua kalimah syahadat. Pengakuan terhadap keesaan Tuhan dan pengakuan terhadap kerasulan Muhammad SAW. Lalu disusul dengan cara melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan agama.

Tetapi persoalannya adalah, saat diri kita mengalami suatu problematika tertentu, maka seringkali kita mencari solusinya dengan cara yang jauh dari unsur ketauhidan atau malah menyimpang jauh.

Salah satu contoh yang dapat saya berikan adalah ketika seseorang menderita kesulitan lantaran dibebani hutang menumpuk, lalu mencari solusi yang sangat tidak masuk akal. Bahkan cenderung menjurus kemusyrikan. Diantaranya melalui uang gaib, uang bibit dan lain-lain.

Solusi bodoh semacam ini pasti merugikan diri sendiri. Apalagi terdapat banyak unsur penipuan di dalamnya. Seseorang yang terjebak dalam solusi bodoh semacam ini jelas tidak menggunakan kaidah pencarian 4 sumber ilmu pengetahuan seperti yang diuraikan di awal tulisan.

Empat sumber pengetahuan (akal, empirik, intuisi dan ilham) hendaknya diterapkan sebelum memutuskan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Misalkan dalam konteks uang gaib: Apakah uang gaib itu masuk akal (faktor rasio)?, Apakah ada bukti orang yang berhasil dengan uang gaib (faktor empirik?), Apakah intuisi Anda membenarkan adanya uang gaib?dan yang paling penting, apakah ada ilham yang Anda terima seputar uang gaib?

KISAH SINGKAT

Beberapa kali saya mendengar cerita seputar uang gaib. Mereka mengaku pernah terjerumus dalam upaya mencari solusi penyelesaian hutang melalui uang gaib.

Cerita pertama dari seorang perempuan yang tertarik mengikuti ritual uang gaib. Dia mengaku membayar biaya ritual sekira Rp 18 juta. Tentu saja dengan iming-iming jika berhasil akan mendapatkan ratusan juta hingga milyaran rupiah.

Selanjutnya, perempuan itu diantar oleh beberapa orang dari kelompok yang mengaku dapat mendatangkan uang gaib. Mereka menuju sebuah rumah tua di suatu tempat terpencil.

Pimpinan kelompok (sebut saja orang pintar) menyuruh perempuan itu untuk melakukan ritual di dalam rumah tua seorang diri. Sementara orang pintar dan orang-orang yang mengantarnya menunggu di luar.

Tentu saja perempuan itu ketakutan dan menolak ritual bodoh semacam itu. Akibatnya ritual dinyatakan gagal dan perempuan itu tidak dapat menerima kembali uang yang telah disetorkannya. Dalam hal ini, Anda dapat mengatakan perempuan itu telah ditipu. Perempuan yang kini bekerja sebagai BMI di Hongkong ini mengaku tobat dengan perbuatannya.

Ada kisah lain yang juga saya dapatkan dari seseorang yang mengaku dibelit persoalan ekonomi lalu mencari solusi bodoh dengan melakukan ritual uang balik (istilah lainnya: uang bibit). Dia sempat mengalami sebuah peristiwa yang dianggapnya bernuansa mistik.

Dikisahkan, Umar (sebut saja begitu), mendatangi seseorang yang dianggapnya menguasai ilmu uang balik. Umar membayar mahar sekian juta rupiah. Lalu dia menerima selembar uang Rp 50 ribu yang telah diberi mantera khusus dan sebuah amplop kosong.

Umar menceritakan kepada saya bahwa dia diharuskan membeli sesuatu menggunakan uang yang telah diberi mantera itu. Apabila dia selesai berbelanja, dia diharuskan membalikkan tubuhnya dan melangkah sekira 50 langkah. Pada langkah yang ke 50, Umar diharuskan membuka amplop kosong tersebut.

Umar mengikuti perintah itu dan hasilnya sangat menakjubkan. Pada percobaan pertama, Umar membelanjakan uangnya untuk membeli sebungkus rokok seharga Rp 10 ribu. Dia menerima uang pengembalian sebesar Rp 40 ribu.

Kemudian Umar membalikkan tubuhnya dan berjalan sambil menghitung langkahnya. Pada hitungan langkah ke 50, dia berhenti dan membuka amplop berisi kertas kosong.

Ketika itu Umar terkejut melihat amplop yang semula kosong itu ternyata berisi uang Rp 50 ribu. Pada percobaan yang pertama itu, Umar mendapat keuntungan Rp 40 ribu dan sebungkus rokok.

Lalu Umar melakukan lagi percobaan berikutnya. Semuanya berhasil hingga percobaan yang ketiga. Pada percobaan yang keempat, Umar mengalami peristiwa diluar dugaan.

Ketika itu Umar belanja seperti biasanya. Lalu dia berbalik dan berjalan sambil menghitung langkahnya. Entah mengapa, tiba-tiba saja dia lupa jumlah hitungannya.

Umar mengaku lupa apakah langkahnya sudah mencapai hitungan 49 atau 50. Dalam suasana kebingungan itu, dia lalu meyakinkan dirinya bahwa hitungan langkahnya telah genap 50. Selanjutnya dia membuka amplop kosong yang dibawanya.

Saat itu Umar tidak melihat uang Rp 50 ribu dalam amplop tersebut. Umar menganggap bahwa dia melakukan kesalahan dalam jumlah langkah hitungan.

Apabila ditotal secara keseluruhan, uang yang diterima masih jauh lebih kecil dari uang mahar yang dibayarkannya kepada si pemilik ilmu uang balik.

Kisah di atas menunjukkan bahwa kegaiban atau unsur mistik memang benar terjadi. Namun tetap saja mengalami kerugian dan bukan keuntungan yang diperoleh.

Meskipun harus diakui bahwa nuansa mistik memang benar terjadi (seperti dalam contoh kisah Umar), namun semua itu tetap merupakan langkah yang jauh dari Pikiran Tauhid.

Dua kisah di atas hendaknya menjadi catatan tersendiri bagi Anda sebelum terjerumus dalam upaya menyelesaikan suatu masalah yang membelit diri Anda.

Dengan kata lain, kisah di atas juga merupakan tambahan informasi pengetahuan seputar rawannya penyelesaian masalah melalui solusi bernuansa mistik.

BERAGAM SOLUSI BODOH

Sesungguhnya ada banyak solusi bodoh yang dapat diuraikan di sini. Tetapi semua itu menjadi tidak bermakna jika pikiran Anda tidak mau diubah ke arah Pikiran Tauhid. Solusi bodoh akan tetap menjadi pilihan Anda sepanjang Anda mengedepankan pikiran mistik negatif.

Diantara solusi bodoh adalah meyakini piranti mistik (JIMAT) mampu menyelesaikan problematika Anda. Oleh karena itulah, sebaiknya Anda menguji piranti mistik semacam kapsul, tasbeh, sabuk, rajah, asmak dan lain-lain dengan menggunakan 4 macam sumber pengetahuan, yaitu: rasio empirik, intuisi, dan ilham.

FB: EM Agus Siswanto (maniakgaib@gmail.com)

PERSEPSI

November 28, 2014 2 komentar

Pada umumnya, perilaku seseorang didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, tetapi bukan pada kenyataan itu sendiri..
Persepsi adalah sebuah proses yang terjadi pada diri seseorang dalam mengatur dan menafsirkan kesan-kesan yang diterimanya. Persepsi dapat juga disebut sebagai proses penilaian seseorang terhadap obyek atau masalah tertentu. Itulah sebabnya manusia memiliki perbedaan dalam memandang suatu obyek atau masalah yang sama.
Adanya perbedaan ini diantaranya menyebabkan mengapa seseorang menyenangi suatu obyek, sedangkan orang lain tidak senang atau membenci obyek tersebut. Begitupula ada orang mengalami suatu masalah bersikap biasa, tetapi orang lain yang ditimpa masalah yang sama terlihat kesusahan. Hal itu sangat tergantung bagaimana seseorang menanggapi obyek tersebut dengan persepsinya. Pada kenyataannya, sebagian besar sikap, tingkah laku dan penyesuaian ditentukan oleh persepsinya. Persepsi bisa juga disebut cara pandang terhadap sesuatu.
Dalam bahasa lainnya, persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Persepsi ini kemudian menyatu dalam diri individu terhadap kesan yang diterimanya. Apa yang ada dalam diri individu, seperti: pikiran, perasaan dan pengalaman ikut aktif berpengaruh dalam membentuk persepsi.
Perbedaan persepsi sangat terasa jika seseorang sedang mengalami suatu masalah tertentu. Ambil contoh: A dan B bekerja pada sebuah perusahaan yang sama. Keduanya memiliki atasan yang berkarakter kasar dan sering menghina.
Dalam menghadapi situasi ini, A memiliki persepsi buruk tentang atasannya. Sikap ini akan membuat A merasa tidak nyaman dalam bekerja dan selalu gelisah. Sedangkan B memiliki persepsi baik tentang atasannya. Tentu sikap ini akan membuat B tetap nyaman dalam bekerja dan tidak merasa gelisah.
Dalam hal persepsi ini, saya punya pengalaman pribadi. Beberapa tahun lalu, saya bekerja di perusahaan tambang batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur. Pada awalnya, situasi pekerjaan membuat saya tersiksa. Terutama menyangkut aspek fisik yang melelahkan serta rekan kerja dan atasan cenderung bersikap keras dan kasar. Saat itu saya memiliki persepsi buruk tentang pekerjaan, rekan kerja dan atasan.
Tetapi saya menyadari bahwa kenyataan itu hanya ada dalam persepsi. Oleh karenanya, saya segera mengubah persepsi. Seiring perjalanan waktu, saya merasakan kenyamanan. Rekan kerja dan atasan menjadi akrab dan pekerjaan yang menguras fisik tidak terasa melelahkan.
Ketika kemudian saya memutuskan keluar dari bidang kerja pertambangan, maka hal itu lebih disebabkan faktor lain yang tidak terkait dengan rekan kerja, atasan ataupun fisik yang melelahkan.
Bekerja sebagai jurnalis di majalah yang mengulas beragam urusan mistik juga menimbulkan persepsi tersendiri. Ada banyak hal yang mengubah persepsi saya tentang mistik atau kegaiban.
Ambil contoh, dahulu saya menganggap bahwa penarikan uang gaib itu mustahil. Tetapi kemudian saya menyadari bahwa hal itu memang ada. Meskipun secara pribadi saya belum pernah melihatnya, tetapi saya mewawancarai orang-orang yang pernah terlibat dalam ritual tersebut.
Hasil dari beberapa kali wawancara itulah yang membentuk persepsi saya bahwa penarikan uang gaib itu memang ada, tetapi tidak satupun yang menghasilkan keuntungan. Ambil contoh, modal untuk melakukan ritual sebesar 20 juta rupiah. Tetapi yang didapatkan dari penarikan uang gaib hanya sekitar ratusan ribu rupiah saja. Tentu saja pelaku ritual rugi besar.
Inilah yang hingga kini meyakinkan diri saya bahwa penarikan uang gaib hanyalah omong kosong belaka. Jika kemudian ada orang yang mengaku-ngaku mendapatkan uang milyaran rupiah dari ritual uang gaib, maka hal itu tetap tidak akan mengubah persepsi saya bahwa penarikan uang gaib tidak lebih dari omong kosong. Begitupula dalam kaitan persepsi saya seputar piranti mistik.
Adapun dalam hal penarikan benda-benda dari dalam tanah yang dilakukan secara gaib, maka kesimpulan saya adalah bahwa kemungkinan itu bisa terjadi untuk benda-benda tertentu saja, seperti benda dari bahan kayu, logam besi, perunggu dan perak. Tetapi untuk yang berbahan emas murni tidak dapat diperoleh.
Jika kemudian ada orang yang mengaku dapat menarik benda dari dalam tanah yang berbahan baku emas murni, maka saya dapat memastikan bahwa hal itu kedustaan. Ini persepsi saya yang tidak dapat diubah. Bahkan proses penarikan benda secara gaib yang ditayangkan televisi kita seluruhnya adalah kebohongan publik. Keris ataupun benda lainnya itu sudah ditanam lebih dahulu sebelum acara syuting dimulai.

BERPIKIR POSITIF
Mengubah persepsi merupakan dasar utama untuk melahirkan pikiran positif. Sebagaimana diketahui, kita biasanya sering mengeluh dan merasa gundah ketika menghadapi suatu masalah tertentu. Apapun masalah itu, seperti dililit hutang, frustasi, patah hati, dan lain-lain, tentu akan membuat pikiran menjadi tidak konsentrasi. Dalam situasi ini, seolah-olah tidak ada jalan keluar untuk mengatasinya.
Padahal sesungguhnya permasalahan yang dihadapi itu ada dalam persepsi kita saja. Dengan kata lain, jika kita ingin keluar dari masalah, maka yang pertama harus dilakukan adalah mengubah persepsi kita terhadap masalah itu. Cara ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalkan melalui diskusi bersama keluarga, teman, guru, ustadz, dan lain-lain, atau membaca buku untuk menambah pengetahuan yang dapat mengubah persepsi kita.
Hal ini memang tidak mudah. Sebabnya harus ada proses yang dilakukan. Namun berproses ini jauh lebih baik dibandingkan mencari jalan instan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Contoh jalan instan adalah memahari piranti mistik yang hanya menguras keuangan dan sama sekali tidak membawa faedah apapun.
Pada dasarnya, sebuah permasalahan atau problematika akan membawa kita pada kondisi yang lebih buruk atau lebih baik. Di sinilah kita dituntut untuk segera mengambil pilihan. Jika kita ingin kondisi kita menjadi lebih baik, maka tentunya kita harus mengubah persepsi kita ke arah yang lebih baik.
Harus diakui, kita seringkali merasa lemah ketika dilanda suatu permasalahan tertentu. Dalam situasi seperti ini, seolah-olah tidak ada solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan. Padahal, di sinilah kemampuan kita untuk memisahkan antara diri kita dengan permasalahan kita. Sebab diri kita dan permasalahan kita itu adalah dua hal yang berbeda. Tetapi ini seringkali tidak kita sadari.
Sesungguhnya kita harus yakin dan percaya bahwa diri kita lebih kuat dari permasalahan yang kita hadapi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa : “Apapun yang Anda pikirkan dan rasakan tentang permasalahan diri sendiri, maka yakinlah bahwa Anda tetap lebih kuat dari yang Anda pikirkan dan rasakan itu.” Sikap seperti ini akan sangat membantu dalam mencari penyelesaian atas permasalahan yang dihadapi.

Fb: Em Agus Siswanto (maniakgaib@gmail.com)

Referensi: Buku Terapi Berpikir Positif karya Dr Ibrahim El Fiky

LOGIKA PIKIRAN PARANORMAL

Oktober 9, 2014 13 komentar

Pada umumnya, Paranormal atau Praktisi Supranatural menggunakan ilmu hikmah untuk pengisian (transfer energi) ke dalam beragam bentuk jimat, rajah dan wifik. Kini istilah populernya: Piranti Mistik.

Mengulas ilmu hikmah itu sendiri tidak akan pernah ada habisnya. Ada banyak hal terangkum di dalamnya. Di sisi lain, iIlmu hikmah mengalami proses asimilasi (percampuran) dengan beragam ilmu yang berasal dari budaya lokal yang dikenal dengan istilah: mantera, jampi-jampi, dan lain-lain. Karena itulah ada amalan ilmu hikmah yang terdiri dari 2 bahasa (bahasa Arab dan bahasa daerah).

Seiring perjalanan waktu, paranormal pembuat piranti mistik melakukan modifikasi bentuk piranti mistik agar terkesan modern dan elegan. Jika pada masa lalu piranti mistik berbentuk rajah yang dibungkus kain, rajah yang ditulis di kertas kalkir, rompi yang ditulisi rajah (rompi ontokusumo), jimat berbentuk tali sepatu, dan lain-lain, maka selanjutnya berubah menjadi berbentuk kapsul, pil, flash disk, ponsel, kartu chip, kalung, gelang, tasbeh, minyak wangi atau parfum dan segala macam bentuk yang secara sepintas tidak dapat diduga bahwa itu adalah jimat alias piranti mistik.

Sedangkan yang hampir tidak berubah adalah yang berbentuk susuk (terbuat dari logam emas), keris, cincin beraneka warna, amalan (hijib), dan lain-lain. Termasuk benda-benda yang namanya sangat terkenal, misalkan batu merah kecil yang umumnya disebut merah delima (padahal sejenis batu biasa atau terbuat dari kaca), jenglot yang konon adalah jasad orang sakti zaman kuno (padahal ada yang terbuat dari tengkorak kelelawar yang diberi potongan rambut manusia), bambu petuk (padahal bambu yang ruasnya ditempel dengan lem perekat), rantai babi yang konon bisa mendatangkan uang gaib (padahal terbuat dari sejenis bahan karet), dan lain-lain.

Bagi para penggemar (baca: konsumen) jimat, khususnya yang masuk kategori orang kantoran, pejabat, artis, dan lain-lain, tentu merasa tidak pantas membawa rajah atau rompi ontokusumo di lingkungannya. Mereka akan ditertawakan oleh siapapun yang melihatnya. Tetapi jika menggunakan cincin, kalung atau gelang pasti tidak akan ada yang tahu bahwa itu bukan benda hiasan semata, melainkan jimat.

Apalagi dalam bentuk tasbeh. Siapapun yang melihat seseorang membawa tasbeh pasti akan dinilai sebagai seorang yang bersifat relijius.Tidak ada yang menduga bahwa kemungkinan saja tasbeh itu merupakan piranti mistik alias jimat.

Dalam hal syirik atau tidak syiriknya benda yang disebut piranti mistik itu belum akan saya bahas di sini. Pro kontra masalah ini tidak akan ada habisnya. Pada intinya, paranormal yang merangkap pedagang piranti mistik selalu mengatakan bahwa piranti mistik bukan benda syirik. Mereka membawa segudang dalil atau argumen untuk mendukung pendapatnya. Bahkan tidak jarang, dalil-dalil tersebut mencakup ayat Al Qur’an dan hadist Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Apalagi jika paranormal yang merangkap pedagang piranti mistik itu menggunakan jubah agama dengan segala macam atribut gelar di depan namanya. Mulai dari gelar Gus, Ustadz, Kyai, Habib, Syareatul Khotam, Syeikh dan lain-lain.

Bahkan ada pula yang menambahi gelar akademis seperti Prof, DR, SH, ST, MM, dan lain-lain.
Uniknya, hanya sedikit orang yang mau meluangkan waktu mengecek keabsahan sanad silsilah dan gelar-gelar prestisius tersebut. Kita memang mudah terpukau penampilan. Uniknya, jika sekadar bergelar Haji, tidak lagi menarik di mata konsumen. Paranormal memang memiliki logika berpikirnya sendiri.

Dalam pandangan saya, apapun gelar yang nisbahkan kepada nama mereka tetap tidak akan mengubah status profesinya yaitu paranormal pedagang piranti mistik. Bahkan seandainya ada beragam argumen bahwa segala keuntungan dagangannya untuk pembangunan pesantren, masjid, musholla, sekolah, panti asuhan, dan lain-lain, tetap saja tidak mengubah status profesinya sebagai pedagang jimat. Semua itu sah-sah saja, sepanjang belum ada Undang Undang yang mengaturnya.

Harus diakui pula bahwa sangat banyak paranormal yang tidak merangkap pedagang piranti mistik. Mereka memiliki kemampuan supranatural, tetapi tidak ada produk yang dijual dan tidak ada bayaran apapun yang ditetapkan untuk jasa yang dilakukannya. Ikhlas lillahita’ala. Bahkan ada pula paranormal yang mengharamkan segala macam bentuk perjimatan alias piranti mistik.  (AGUS SISWANTO)

ANEKA MACAM TERPAL UNTUK KOLAM DAN TAMBAK

Mei 24, 2014 15 komentar
Kami menyediakan terpal untuk kolam terpal lele dan tambak dengan berbagai ukuran dan harga terjangkau.
Silahkan kontak kami
Bapak Nurtanio,
Tataka Puri Estate Blok J 13 No.33,
Bitung Curug Tangerang-Indonesia,
Mobile Phone 081310646381,087870563441,
Telp/Fax 021 5985936

 

 


Dubai is One Place I have Seen

Mei 15, 2014 7 komentar

GambarMegahnya gedung-gedung pencakar langit di Kota Dubai, United Arab Emirates (UAE) menjadi daya tarik wisata yang tersohor di dunia.

Keberadaan bangunan raksasa yang menjulang ke angksa tidak hanya membuat masyarakat setempat di kota ini tertegun, melainkan para turis pun berdecak kagum setibanya di lokasi.

Apabila pembaca belum pernah mengunjungi Dubai, tentunya akan bertanya-tanya dan berimajinasi tentang keberadaan kota ini. Misalnya Burj al Arab atau menara Arab, ini merupakan hotel termewah. Tinggi gedungnya mencapai 321 meter dengan 66 lantai.

Bangunan tertingginya difungsikan sebagai hotel berkelas. Bangunan ini berada di sebuah pulau buatan yang berada 280 meter lepas pantai di Teluk Persia. Lanjut? Klik Di Sini

Kategori:film