View Madinah from The Sky (video)

Kategori:video Tag:, , , ,

MDMC: Diklat Relawan Muhammadiyah Jawa Timur (video)

Muhammadiyah Disaster Management Centre: Diklat Relawan Muhammadiyah Jawa Timur



WISATA PANTAI TELENG RIA DAN WATU KARANG, PACITAN, JAWA TIMUR (video)

WISATA PANTAI TELENG RIA DAN WATU KARANG, PACITAN, JAWA TIMUR

FOTO-FOTO LANGKA OSAMA BIN LADEN RAHIMAHULLAH SEBELUM PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001

Maret 15, 2015 1 komentar

Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah merilis serangkaian foto yang menggambarkan Osama Bin Laden (Usamah bin Ladin ) rahimahullah berada di rumahnya di Tora Bora, Afghanistan. Foto itu diambil pada tahun 1996.
Sesuatu yang menarik adalah mereka (Departemen Kehakiman AS) menunjukkan foto Osama Bin Laden rahimahullah sebelum ia menjadi buruan Amerika usai peristiwa World Trade Centre, 11 September 2001.
Gambar langka tersebut difoto oleh wartawan Inggris, Abdel Barri Atwan, dipublikasikan selama persidangan DOJ (Departmen of Justice) seorang anggota al Qaeda bernama Letnan Khaled al-Fawwaz.
Dalam foto tampak Osama Bin Laden rahimahullah terlihat di dalam dan di sekitar rumah yang terpencil di sebuah perbukitan. Menurut Atwan,sang fotografer, dibutuhkan waktu sekira 7 jam untuk mencapainya melalui jalanan yang sulit.
Atwan diminta oleh al-Fawwaz untuk mewawancarai Osama Bin Laden rahimahullah dengan harapan bahwa kisah dari pemimpin al Qaeda itu dicetak dan mulai menyebarkan pesannya secara lebih luas.
Sebelum peristiwa 11 September 2001, Osama Bin Laden rahimahullah memang belum dikenal publik dan belum menjadi sosok yang paling dicari.
Dalam foto tersebut menunjukkan bahwa Osama Bin Laden rahimahullah sudah mengasingkan dirinya, jauh sebelum peristiwa WTC yang mengguncang New York………Semoga Allah swt mengampuni kesalahannya dan menerima amal ibadahnya…..aamiin.
Sumber: Mashable

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KEPARANORMALAN / DUKUN

Maret 13, 2015 3 komentar

Paranormal/dukun dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan sedikit berbeda dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Ada diantaranya yang memiliki kemampuan keparanormalan tanpa belajar terlebih dahulu. Ada pula yang melalui proses belajar.

Pada sekira tahun 1988-1989, di Yogyakarta, seorang teman (sebut saja Haris) berbincang dengan saya seputar pengalaman pertamanya bertemu dengan pimpinan (guru) dari sebuah perguruan tenaga dalam. Sang guru itu melakukan gerakan tangan ke arah tubuh Haris.

Selanjutnya dalam hitungan beberapa menit kemudian, Sang Guru menyuruh muridnya yang lain untuk melakukan gerakan menyerang atau memukul Haris.

Ketika murid itu menyerang Haris, Seketika tubuh murid itu terpental jatuh. Seolah-olah ada seberkas energi listrik yang melindungi tubuh Haris dari serangan pukulan tersebut. Bahkan lebih dahsyat lagi, saat Haris menggerakkan telunjuk jarinya sedikit saja, murid yang mencoba memukul tadi malahan terlempar jauh.

Saat itu saya sangat tertarik dengan cerita Haris. Apalagi setelah dia memeragakan beragam bentuk tarian dan juga gerakan silat, kungfu, karate, taekwondo, dan lain-lain. Padahal jelas Haris tidak pernah memelajarinya.

Perbincangan dengan Haris merupakan awal pertama saya bersentuhan dengan sesuatu yang kini populer dengan istilah keparanormalan. Saat itu saya mencoba melakukan beberapa eksperimen yang tergolong baru buat saya.

Gerakan-gerakan silat atau akrab disebut jurus-jurus (biasanya ada sekira 10-12 jurus) tersebut sangat memikat perhatian saya. Ada jurus memukul, menyerang, mengunci dan lain-lain. Jurus-jurus tersebut bisa untuk menyerang musuh dalam jarak yang jauh. Atau dengan kata lain, kita dapat menumbangkan lawan tanpa kita menyentuh tubuh lawan.

Dalam perkembangan selanjutnya, perhatian saya terhadap jenis tenaga dalam seperti itu mulai berkurang seiring keakraban saya dengan teman-teman lain yang gemar menekuni dunia spiritual, mistik dan keparanormalan. Beberapa teman saya tersebut ada yang pernah mondok di pesantren atau belajar dengan kyai.

Mereka memiliki cara pandang berbeda terkait dengan tenaga dalam, mistik, keparanormalan, dan lain-lain.

Sesuatu yang masih saya ingat adalah apa yang diceritakan Wisman Hertito, sahabat kuliah saya yang berasal dari Boyolali, Jawa Tengah.
Wisman mengisahkan bahwa pada sekira tahun 1984, dirinya bersama dua orang temannya pernah berguru pada seorang kyai di Cirebon.
“Kami berpuasa dan berzikir selama beberapa waktu di pesantren,” kata Wisman memulai kisahnya. “Semua itu kami lakukan atas perintah dan bimbingan sang kyai.”

Kemudian setelah tiba masanya aktifitas spiritual itu selesai, ketiga orang itu diharuskan melakukan tirakat di beberapa tempat wingit di Cirebon.

“Kami bertiga diharuskan tirakat di kuburan, hutan atau tempat yang seram, keramat atau dianggap menakutkan bagi masyarakat sekitar lokasi tersebut,” kilah Wisman.

Mereka melakukan perintah gurunya itu dengan sepenuh hati semata-mata agar keinginan mereka tercapai. Maklumlah,saat itu usia ketiganya sekira 17-18 tahun.

Usia yang tergolong muda untuk bersentuhan dengan aktifitas mistik spiritual. Meskipun ketiganya merupakan teman sepermainan sejak kecil, tetapi saat berangkat ke Cirebon itu mereka memiliki niat berbeda-beda yang hanya diketahui diri sendiri.

“Pada malam terakhir itu, saya tirakat di hutan yang dianggap menyeramkan. Sedangkan kedua teman saya juga melakukan hal sama di lokasi berbeda,” kenang Wisman. “Kami menyelesaikan tirakat itu pada dini hari menjelang subuh.”

Pada pagi harinya, ketiganya menghadap Sang Kyai untuk menceritakan pengalamannya selama bertirakat di tempat-tempat yang dianggap wingit tersebut.

“Kami menceritakan pengalaman selama tirakat di tempat wingit itu. Kedua teman saya mengaku bertemu makhluk halus. Bahkan ada diantaranya yang terlibat perkelahian,” kata Wisman.
“Lalu bagaimana dengan pengalaman Anda sendiri?” tanya saya ingin tahu.
“Saya tidak mengalami peristiwa seperti yang dialami kedua teman saya. Pada malam itu saya sholat dan berzikir dengan tenang tanpa ada gangguan makhluk gaib sedikitpun,”jawab Wisman.

Setelah ketiga orang itu bercerita pengalaman mistiknya kepada Sang Kyai, merekapun langsung berpamitan pulang ke kota asalnya.

Sejak kepulangan itu, Wisman dilanda rasa kegelisahan yang luar biasa mengenai tidak adanya pengalaman bertemu makhluk gaib sebagaimana yang dialami kedua temannya. Rasa penasaran yang tinggi ini mendorongnya untuk berangkat lagi ke Cirebon menemui Sang Kyai.

Wisman ingin tahu apa sesungguhnya yang membuat dirinya tidak melihat atau bertemu makhluk gaib.

“Saya ingin tahu apakah ada yang salah dalam tirakat saya sehingga harus diulang atau ada faktor lain hingga saya tidak mengalami sensasi supranatural itu,” ujar Wisman kepada saya.

Jawaban dari Sang Kyai sungguh sangat mengejutkan Wisman. Saat itu Sang Kyai mengatakan bahwa diantara ketiga orang yang melakukan tirakat di malam hari itu, justru Wisman yang dianggap paling berhasil melakukan tirakat tersebut.

Wisman dinilai berhasil dalam melakukan konsentrasi tertinggi kepada Tuhan. Fokus dan konsentrasi saat berzikir hanya mengingat Tuhan itulah yang membuat makhluk gaib tidak berani menampakkan dirinya atau, apalagi mengganggunya.

“Kedua teman saya bisa melihat makhluk gaib itu lantaran saat berzikir terbersit pikirannya melihat makhluk gaib itu. Saat terbersit pikiran itulah, makhluk gaib seketika hadir,” kata Wisman.

Sang Kyai meyakinkan Wisman bahwa dirinyalah yang dinilai berhasil melakukan tingkat konsentrasi tertinggi dibandingkan kedua temannya. Sang Kyai itu juga berpesan agar kemampuan konsentrasi itu harus terus ditingkatkan.

“Sejak saat itu, saya berpegang teguh dengan pesan guru saya itu bahwa dalam mengamalkan suatu amalan tertentu hanya boleh fokus kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Wisman mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu kemudian, kedua temannya itu memang memiliki kemampuan keparanormalan. Keduanya memiliki kemampuan mendatangkan makhluk gaib dan memerintahkannya untuk melakukan tugas tertentu.

Istilah yang umum adalah memanggil dan memerintahkan khodam-khodam, jin dan segala macam bentuk dedemit. Termasuk, tentu saja, mendatangkan benda-benda pusaka dari alam gaib.

Pengalaman saat berguru di Cirebon itulah yang membentuk karakter Wisman dikemudian hari. Saya menangkap kesan ini selama beberapa tahun bersahabat dengannya.

Em Agus Siswanto

MITOS PIRANTI MISTIK ( JIMAT )

Harus diakui bahwa ada rasa ketakutan dalam diri orang-orang yang pernah memahari piranti mistik tetapi tidak membawa faedah apapun. Mereka lebih memilih diam dan pasrah manakala piranti mistik yang telah dibelinya dengan harga yang luar biasa mahal. Ketidak beranian bersuara ini lantaran kuatnya mitos yang berkembang terkait piranti mistik. Untuk lebih jelasnya, saya akan menulis kembali seputar makna mitos.

Mitos adalah suatu bentuk pesan atau tuturan yang harus diyakini kebenarannya tetapi tidak dapat dibuktikan. Mitos juga merupakan suatu cara pemberian arti. Ambil contoh, kita biasa mendengar bahwa sebuah pohon besar dihuni oleh sebangsa makhluk gaib. Sehingga pohon itu tidak boleh ditebang, karena akan membuat makhluk gaib tersebut marah.

Mitos tersebut tentu tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebab tidak ada yang tahu dengan pasti apakah makhluk gaib itu benar-benar menghuni pohon tersebut atau tidak ada makhluk gaibnya. Tetapi mitos ini dipercaya dari mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dengan adanya mitos tersebut maka manusia tidak ada yang berani menebang pohon itu. Alhasil, pohon dapat hidup hingga ratusan tahun. Kesimpulannya, inti pesan dari mitos itu adalah pelestarian terhadap lingkungan. Persoalan ada atau tidak adanya makhluk gaib bukan hal yang penting lagi.

Mitos semacam ini juga berkembang dalam dunia supranatural, khususnya terkait dengan piranti mistik atau jimat. Misalkan adanya sebuah piranti mistik yang diyakini memiliki sejuta manfaat dan piranti tersebut dihuni sejumlah makhluk gaib dari jenis bangsa jin atau malaikat. Ini merupakan bentuk mitos piranti mistik.

Sedemikian kuatnya mitos tersebut membuat si pemilik piranti mistik sangat berhati-hati dalam menyimpannya. Bahkan jika si pemiliknya hendak ke kamar mandi pun, piranti tersebut harus diletakkan di luar kamar mandi.

Uniknya, meskipun piranti mistik itu tidak membawa manfaat apapun kepada pemiliknya, benda itu tetap disimpan rapi dan takut pula dibuangnya.

Ketakutan membuang piranti mistik tersebut lebih disebabkan mitos adanya makhluk gaib dalam benda tersebut akan marah jika benda itu dibuang sembarangan dan pemiliknya akan terkena sengklek (sial). Padahal membuang piranti mistik sama mudahnya dengan meniup debu di tangan.
Em Agus siswanto

2014 in review

Januari 3, 2015 20 komentar

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Museum Louvre dikunjungi 8,5 juta orang setiap tahun. Blog ini telah dilihat sekitar 560.000 kali di 2014. Jika itu adalah pameran di Museum Louvre, dibutuhkan sekitar 24 hari bagi orang sebanyak itu untuk melihatnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.