Arsip

Posts Tagged ‘SBY-Boediono’

PRESIDEN PILIHAN TUHAN: SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Juni 19, 2009 9 komentar

Nomor urut peserta Pilpres 2009 telah ditetapkan. Siapapun sepakat, nomor urut tidak memengaruhi dukungan masyarakat terhadap pilihannya. Semua nomor memiliki peluang sama untuk menang.

Dengan kata lain, angka genap atau  ganjil tidak membawa keberuntungan apapun. Istilah genap dan ganjil sekadar pembeda dalam rumusan matematika dan tidak terkait dengan takdir, nasib atau keberuntungan.

Namun pemahaman terhadap angka tentu berbeda. Terutama pihak yang berkepentingan dengan urutan nomornya. Mengapa demikian?

Sebab salah satu pasangan yang mendapat nomor urut 2, yaitu SBY-Boediono menilai nomor tersebut merupakan pilihan Tuhan.

Undian nomor urut

Sebagaimana kita saksikan di layar TV, ketiga pasangan capres-cawapres hadir di kantor KPU mengikuti undian nomor urut pilpres.

Pasangan pertama yang maju mengambil nomor undian adalah Jusuf Kalla bersama Wiranto. Hasilnya, gulungan kertas yang dibawa Jusuf Kalla bernomor urut 3.

Selanjutnya, Megawati didampingi Prabowo berjalan ke arah kotak berisi 2 gulungan kertas. Hasilnya, nomor urut 1.

Berikutnya Susilo bambang Yudhoyono mengambil sisa gulungan kertas di dalam kotak. Tentu saja nomor urut 2 yang tersisa.

Tidak ada yang istimewa dalam acara itu, kecuali pertemuan antara SBY dan Megawati. Kedua tokoh yang pernah bersitegang beberapa tahun lalu ini tampak akrab dan saling melempar senyum (persisnya saya kurang faham, apa tersungging senyum diantara mereka).

Tetapi bukan dalam kaitan tersebut tulisan ini dibuat. Melainkan perkataan SBY yang diucapkan dihadapan pendukungnya.

Pilihan Tuhan?

Usai acara, SBY menemui kader dan koalisi parpol pendukungnya di PRJ, Kemayoran.

Dalam sambutannya SBY berkata, “Begitu kita mengambil nomor sebenarnya kita tidak memilih karena kita giliran yang ketiga. Yang kesatu telah memilih, yang kedua memilih. Kita tinggal menerima. Yang memilih Tuhan.”

Apa yang dikatakan SBY tersebut sah-sah saja. Tidak ada yang salah dengan perkataan itu. Meskipun demikian, perkataan: Yang memilih Tuhan atau Tuhan yang memilihkan memiliki kesamaan makna dengan perkataan sebagai berikut.

Yang memilih nomor 2 adalah Tuhan, maka yang memilih nomor 1 dan 3 adalah bukan Tuhan atau selain Tuhan.

Tuhan yang memilihkan nomor 2, maka yang memilihkan nomor 1 dan 3 bukan Tuhan atau selain Tuhan.

Dengan kata lain, siapapun yang memilih nomor 2, maka pilihannya sama dengan pilihan Tuhan. Sebaliknya, mereka yang tidak memilih nomor 2 sama saja dengan tidak memilih pilihan Tuhan.

Tentu saja hal ini dapat merisaukan siapapun juga.

Padahal sebelumnya Majelis Ulama Indonesia telah menganjurkan agar dalam kampanye tidak menggunakan atau mengutip simbol-simbol agama, apalagi mengutip ayat-ayat suci Al Qur’an.

Perkataan SBY tidak mengutip ayat-ayat suci, namun dengan menyebut kata Tuhan, jelas merupakan bentuk kecerdasan tersendiri dalam menyiasati himbauan MUI tersebut.

Tetapi biarlah hal itu menjadi rahasia SBY.

Saya hanya ingin menuangkan pendapat seputar Presiden Pilihan Tuhan atau lebih tepatnya Pemimpin Pilihan Tuhan.

Beberapa tahun lalu, SBY (saat itu baru saja mundur dari jabatan menteri pada Kabinet Gotong Royong) menghadiri peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi Kwitang, Jakarta Pusat. Diantara perkataan sambutannya, SBY mengaku terinspirasi perjuangan Rasulullah SAW dalam mengatur ummatnya. Pada saat itu pula SBY secara gamblang mengemukakan niatnya mencalonkan diri dalam pilpres 2004.

Itulah deklarasi pertama SBY sebagai calon presiden. Diantara yang hadir saat itu adalah Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi.

Perkataan SBY yang merasa terinspirasi perjuangan Rasulullah SAW tentu dengan sendirinya mengandung konsekwensi agar di dalam melaksanakan jabatannya sebagai presiden semaksimal mungkin meniru Rasulullah SAW.

Tentunya ada banyak kisah seputar perjuangan Rasulullah SAW dalam memimpin bangsa Arab yang semula berada dalam zaman jahiliyah menjadi zaman penuh rahmat.

Tetapi saya tidak hendak menuliskan seputar perjuangan Rasulullah SAW.

Saya hanya ingin menegaskan, selama 5 tahun terakhir (pemerintahan SBY dan JK) nyaris tidak ada hal yang dapat menyamai pola kepemimpinan Rasulullah SAW. Bahkan tak sanggup pula mengikuti jejak kepemimpinan Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ibarat kata: jauh panggang dari api.

Satu contoh saja, bagaimana tragedi Lumpur di Porong Sidoarjo tidak terselesaikan hingga kini. Bahkan mungkin hingga 50 tahun ke depan, korban tragedi itu masih belum dapat keadilan yang selayaknya.

Mereka yang tergabung dalam Lapindo Brantas tentulah orang cerdas dan berpendidikan namun telah salah dalam menentukan titik open holes/drill hingga berujung pada munculnya tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah bangsa ini. Tetapi sangat disayangkan mereka yang terlibat langsung tidak diseret ke meja hijau dan atau mendekam di balik jeruji besi. Mereka mencuci tangan dari kesalahan dan kebodohannya sendiri. Tragedi yang sangat sulit dilepaskan dari nama besar Bakrie itu mungkin dalam masa 50 tahun ke depan orang akan mengenang tragedi itu dengan sebutan Lumpur Bakrie.

Di samping itu,  di blog ini ada pula banner: Koruptor Buron. Nyatanya tak satupun yang tertangkap. Mestinya Densus 88 dikerahkan untuk meringkusnya. Bukankah koruptor sama dengan teroris?

Maka dari itu, tanpa ragu saya mengatakan bahwa SBY dan JK gagal memberikan rasa keadilan terhadap korban Lumpur Bakrie.

ISYARAT KEMENANGAN: WAJAH SBY MUDA MENAWAN

Tetapi saya tidak bermaksud mendiskreditkan SBY. Oleh karena itulah saya hendak menuturkan pula sebuah cerita yang mengisyaratkan kemenangan SBY dalam Pilpres 2009.

Isyarat ini tidak terkait dengan hasil polling apapun. Bahkan tidak juga terpengaruh dengan pendapat para pakar manapun.

Isyarat ini datangnya dari sebuah mimpi. Ya, sekadar bunga tidur yang dialami seorang teman. Sebut saja namanya Teguh.

Mimpi Teguh cukup menarik buat saya. Karenanya, saya tidak ragu menuliskannya di sini. Benar atau salah mimpi itu, tidak penting.

Teguh menjelaskan, ketika itu sekitar pukul 01.00 malam, dirinya sedang berada di samping teras rumah. Sambil tiduran di atas lembaran tikar, wajahnya mengarah menatap angkasa.

Anehnya, antara sadar dan tidak, dirinya tiba-tiba merasa sedang berada di makam Rasulullah SAW. Tepatnya di Raudhah. Makam ini berada dalam Kompleks Masjid Nabawi di Madinah. Raudhah merupakan lokasi asli masjid yang digunakan Rasulullah SAW saat masih hidup.

Ketika itu dirinya berada persis di depan makam Rasulullah SAW. Duduk dilantai karpet berwarna dasar putih dan bermotif bunga berwarna hijau.

Pada saat duduk tersebut, dia sesekali melirik ke arah kanan dan kiri sekitarnya. Ketika pandangan wajahnya mengarah ke kanan, dia terkejut melihat sosok SBY berada sejajar dengan posisi duduknya. Posisi SBY berada persis di depan mimbar khotbah, sekitar 15 meter dari posisi Teguh.

Meskipun SBY berada di depan mimbar khotbah, tetapi kepala SBY menoleh ke samping kiri menatap makam Rasulullah SAW. Saat itu Teguh melihat jelas wajah SBY bersinar terang.

‘”Saya lihat wajah SBY sangat muda dan bersinar terang. Sepintas mirip pria berusia 30-40 tahun,” ujar Teguh mengenang pengalaman anehnya.

Wajah SBY yang menatap ke arah makam Rasulullah SAW tersebut membuat Teguh leluasa memerhatikan ekspresi tatapan SBY.

Kejadian aneh itu berlangsung beberapa menit saja. Tiba-tiba pandangannya kosong. Suasana pun hening.

Ketika pandangannya hilang, seketika terdengar bisikan halus berisi kata-kata: “Perhatikan kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. Dia bendahara kerajaan.”

Tentu saja Teguh tersentak kaget mendengar bisikan halus tersebut. Dia segera bangkit dari posisinya dan masuk ke dalam rumah.

Sejak kejadian aneh itu, teguh secara intens membaca kisah Nabi Yusuf As dari berbagai buku yang dimilikinya.

“Apa kesimpulan yang Anda dapatkan?”Tanya saya.

“Salah satu kelebihan Nabi Yusuf Alaihissalam adalah program efisiensi di semua bidang. Terutama bidang pangan. Itulah sebabnya, ketika terjadi kemarau panjang selama 7 tahun, masyarakat tidak kelaparan sebab masih ada persediaan makanan di gudang,” jawab Teguh.

“Terkait dengan sosok SBY, maka saya yakin SBY akan melanjutkan jabatannya. Dalam periode keduanya ini, SBY akan menjalankan kebijakan efisiensi tinggi. Persis seperti yang dilakukan Nabi Yusuf Alaihissalam,” ujarnya yakin.

Dari uraian di atas, kombinasi dari perkataan SBY seputar pilihan Tuhan dan mimpi seorang teman tentang SBY di Raudhah, agaknya cukup meyakinkan saya tentang kemenangan SBY dalam Pilpres 2009.

Persoalannya, apakah SBY (dan Boediono) mampu menjalankan pemerintahan sebagaimana Nabi Yusuf Alaihissalam yang adil dan bijaksana?
Wallahualam bissawab.

BaNi MusTajaB

SBY-banimustajab5

majelis dzikir SBY Nurussalam-banimustajab

Majelis Dzikir SBY Nurussalam dalam sebuah acara.

Tampak Hatta Rajasa dan Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi.

HARTA GAIB CAPRES DAN CAWAPRES INDONESIA

Mei 29, 2009 23 komentar

Lech Walesa
Lech Walesa bekerja sebagai tukang listrik di galangan kapal Gdansk, Polandia. Lantaran ketidakadilan yang dilakukan perusahaan terhadap buruh, Lech Walesa mendirikan serikat buruh solidaritas. Popularitasnya pun meningkat tajam yang berujung pada jatuhnya pemerintahan komunis Polandia.

Pada 1990, Lech Walesa mencalonkan diri sebagai presiden Polandia dan terpilih. Jabatan itu dipegangnya selama 5 tahun. Di sisi lain, atas jasanya dalam melawan kediktatoran di Polandia, Lech Walesa mendapat penghargaan Nobel Perdamaian 1993.
Tetapi dalam pemilu 1995, Lech gagal memerpanjang jabatannya. Lalu apa yang dilakukannya?

Lech kembali ke Gdansk dan bekerja lagi sebagai tukang listrik. Ketika itu dia santai saja berkata bahwa dirinya masih muda dan sehat. Di sisi lain, pensiunnya sebagai mantan presiden sangat kecil. Sekitar 500 ribu rupiah sebulan.

Ayatullah Khomeini
Pada 1979, Ayatullah Khomeini datang ke Iran dalam keadaan miskin. Tetapi pesona kharismanya berhasil menumbangkan pemerintah Iran dibawah pimpinan Raja Shah Iran. Sejak itu, seluruh rakyat Iran tunduk dibawah undang-undangnya. Dapat dikatakan, Iran benar-benar berada dalam genggaman tangannya.
Kekuasaan Ayatullah Khomeini tidak surut hingga dia wafat pada 1988. Lalu apa warisan yang ditinggalkan untuk keluarganya?

Hampir tidak ada. Ayatullah Khomeini meninggal dalam keadaan miskin. Persis sama saat kedatangannya pada 1979.
Ketika BJ Habibie (masih menjadi Menristek) berkunjung ke Iran dan melihat rumahnya, Habibie menangis melihat kesederhanaan rumah Sang Ayatullah.

Itu hanya sekelumit kisah manusia sederhana yang pernah memimpin sebuah bangsa. Sebenarnya masih banyak kisah serupa Lech Walesa dan Ayatullah Khomeini. Kisah orang-orang yang miskin harta benda, tetapi mampu mengubah jalannya sejarah.

Harta Kekayaan Capres dan Cawapres
Kini kita sedang menyaksikan beberapa figur yang akan memimpin negeri ini. Dan kita bersyukur figur yang akan tampil memiliki kekayaan yang lumayan besar.

Konon kabarnya keenam figur tersebut memiliki kekayaan kira-kira sebesar ini.
1. SBY : sebesar Rp7,14 Milyar dan USD44.887
2. Boediono: sebesar Rp18,66 Milyar
3. Jusuf Kalla: sebesar Rp253 miliar dan USD14928
4. Wiranto: sebesar Rp. 46,5 milyar
5. Megawati: sebesar Rp.86,26 miliar
6. Prabowo: sebesar Rp. 1,7 trilyun

Sejujurnya saya tidak kagum dengan kekayaan yang mereka miliki. Sebab mereka memang memerolehnya secara halal. Jadi ya buat saya biasa-biasa saja.

Intinya, siapapun yang dalam hidupnya bekerja keras, maka dia layak mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang dikerjakannya.

Saat ini mereka sedang menghadapi persaingan dalam memegang kekuasaan di negeri ini, sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Belum jelas siapa yang akan menjadi RI 1 dan RI 2. Sebab Pilpres 2009 belum dimulai.

Ketiga pasangan capres dan cawapres tersebut memiliki peluang yang sama besar. Ketiga pasangan itu sama-sama kandidat kuat untuk menjadi yang terbaik dalam membawa negeri ini menuju Indonesia yang adil dan sejahtera. Impian kita semua.

Dengan kata lain ada 3 skenario kemungkinan yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2009-2014, yaitu pasangan: (urutan berdasarkan abjad)

1. JK-Win
2. Mega-Prabowo.
3. SBY-Boediono

Siapapun figur yang akan memimpin negeri ini bukanlah wewenang saya. Atau lebih tepatnya wewenang rakyat yang akan mencontreng nanti.

Saya justru sedang berpikir tentang harta kekayaan yang mereka miliki pada 2014 nanti.

Dialog Kuantum 2014
Andaikan salah satu pasangan tersebut memimpin negeri dan kemudian berakhir pada 2014, apa sesungguhnya yang terjadi dengan harta kekayaan mereka?
Inilah hasil dialog yang saya dapatkan.

1. Jusuf Kalla-Wiranto sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Pemerintahan berjalan aman dan lancar hingga berakhir pada 2014.

Setelah Jusuf Kalla dan Wiranto tidak lagi menjabat presiden dan wakil presiden, saya mencoba menemuinya dan bertanya seputar harta kekayaan mereka.

BaNi MusTajaB: Bapak Jusuf Kalla, apakah boleh saya mengetahui mengenai harta kekayaan bapak sekarang ini (2014)?
Jusuf Kalla: Bagaimana perkiraan Anda?
BaNi MusTajaB: Umumnya harta kekayaan akan bertambah. Apalagi dengan jabatan yang bapak pegang.
Jusuf Kalla: Salah besar. Anda bisa buktikan sendiri berapa kekayaan saya dan juga kekayaan Bapak Wiranto saat ini (tahun 2014).
BaNi MusTajaB: Lho? Apa sebenarnya yang terjadi dengan kekayaan bapak?
Jusuf Kalla: Harta saya berkurang sekitar 50 persen dari harta yang saya miliki sebelum saya menjadi presiden. Bahkan harta bapak Wiranto berkurang sekitar 40 persen.
BaNi MusTajaB: Mengapa hal itu bisa terjadi? Apa perusahaan bapak bangkrut?
Jusuf Kalla: Anda salah lagi. Ketahuilah, sebagian harta kekayaan saya dan juga harta kekayaan bapak Wiranto telah saya berikan untuk rakyat negeri ini.
BaNi MusTajaB: Apakah bapak tidak takut jatuh miskin?
Jusuf Kalla: Sama sekali tidak. Saya justru bersyukur dapat memberikan sebagian harta saya kepada rakyat.
BaNi MusTajaB: Mengapa demikian?
Jusuf Kalla: Sebab saya dan juga bapak Wiranto percaya bahwa harta yang saya berikan kepada rakyat itu akan diganti oleh Tuhan Yang Maha Besar di akhirat nanti. Itulah harta saya sesungguhnya.

2. Megawati-Prabowo sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Pemerintahan berjalan aman dan lancar hingga berakhir pada 2014.

Setelah Megawati dan Prabowo tidak lagi menjabat presiden dan wakil presiden, saya pun mencoba menemuinya dan bertanya seputar harta kekayaan mereka. Ternyata jawabannya sangat mengejutkan.

BaNi MusTajaB: Ibu Megawati, apakah boleh saya mengetahui mengenai harta kekayaan Ibu dan juga Bapak Prabowo?
Megawati: Memangnya kenapa? Kamu pasti berpikir saya dan pak Prabowo mengumpulkan harta saat memimpin negeri ini?
BaNi MusTajaB: Bukan seperti itu maksud saya, Bu. Ya, cuma ingin tahu saja.
Megawati: Ketahuilah ya, dik. Harta kekayaan saya berkurang hampir 30 persen. Sedangkan harta milik pak Prabowo berkurang sangat banyak. Mungkin sekitar 70 persen.
BaNi MusTajaB: Mengapa bisa begitu? Apa bisnis SPBU lagi surut? Atau….?
Megawati: Kamu kok bicara begitu, dik. Tidak mungkin saya mengurus SPBU saat saya menjadi presiden.
Justru sebagian harta kekayaan saya berikan untuk membantu wong cilik.
BaNi MusTajaB: Oh…begitu ya, Bu.
Megawati: Ya, iyalah. Saya ini kan dipilih wong cilik. Padahal wong cilik itu umumnya miskin dan tidak mampu. Makanya saya gigih membantu mereka dengan harta saya dan bukan menggunakan anggaran belanja Negara.
BaNi MusTajaB: Lantas apa yang terjadi dengan kekayaan Pak Prabowo?
Megawati: Oooaaalllaaaah, dik. Pak Prabowo itu sangat sangat perhatian dengan wong cilik. Kekayaannya yang trilyunan itu hampir habis digunakan untuk membantu wong cilik di negeri ini. Syukurlah ada hasilnya. Rakyat yang miskin menjadi berkurang.
BaNi MusTajaB: Apa Bu Mega dan Pak Prabowo tidak takut miskin?
Megawati: Ayah saya yang proklamator itu ketika meninggal juga tidak membawa apa-apa. Kekayaannya tidak ada. Rumah saja tidak punya. Karena itu saya malu apabila saya mengumpulkan harta saat saya dipercaya sebagai presiden.
BaNi MusTajaB: Jadi….????
Megawati: Tuhan Maha Tahu dengan perbuatan hambaNya. Saya dan Pak Prabowo berharap agar tidak ada lagi kemiskinan di negeri ini. Meskipun kami harus mengorbankan harta milik pribadi.

3. SBY-Boediono sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Pemerintahan berjalan aman dan lancar hingga berakhir pada 2014.

Setelah SBY dan Boediono tidak lagi menjabat presiden dan wakil presiden, saya pun mencoba menemuinya dan bertanya seputar harta kekayaan mereka. Karena Bapak SBY sedang ada acara keluarga, maka saya menemui Bapak Boediono.

BaNi MusTajaB: Begini Pak Budiono. Apakah saya boleh mengetahui mengenai…..
Boediono: Ya, saya sudah tahu. Anda pasti ingin bertanya tentang harta kekayaan saya dan juga harta milik Pak SBY.
BaNi MusTajaB: Tentu Pak Bud tidak keberatan menjelaskannya..
Boediono: Tentu saja tidak. Silahkan diaudit dan dicek dengan teliti.
BaNi MusTajaB: Tetapi saya mendengar harta bapak berkurang.
Boediono: Ya, begitulah. Secara materi, harta saya dan harta Pak SBY berkurang. Tetapi kami yakin, harta itu akan kami peroleh kembali suatu saat nanti.
BaNi MusTajaB: Lho? Apa maksud Pak Bud?
Boediono: Sebagai orang yang beragama, tentu kami percaya bahwa setiap amal perbuatan akan diberi ganjaran berlipat ganda. Karena itu, saya tidak menyesal harta saya dan harta Pak SBY berkurang.
BaNi MusTajaB: Tapi Bapak sudah tua. Andaikan harta itu diperoleh kembali maka percuma saja harta itu.
Boediono: Kamu memang bodoh. Maksud saya begini. Ganjaran atau pahala itu akan kami peroleh di akherat nanti. Kami sedekahkan harta kami untuk kemaslahatan umat. Karena kami percaya, sedekah memberi banyak faedah yang besar saat kita bertemu Tuhan di alam barzah. Insya Allah.

Harta Gaib

Saya tersenyum usai mewawancarai mereka. Ternyata mereka memiliki pemikiran yang jernih dan cerdas. Jabatan tidak dijadikan alat untuk menumpuk kekayaan. Sebaliknya, harta pribadi yang mereka miliki justru membawa manfaat bagi rakyat negeri ini.

Mereka lebih memilih harta yang abadi. Harta yang akan diperolehnya di alam akherat saat bertemu Tuhan Yang Maha Kuasa. Itulah harta gaib.

BaNi MusTajaB

Update:
Urutan capres-cawapres
1. Megawati-Prabowo
2.SBY-Boediono
3. JK-Wiranto