Bahtiar Hafid merupakan sosok pelukis yang mendasarkan obyek lukisannya berdasarkan pandangan ekstra dimensi (supraspiritual). Sebelum melukis, Bahtiar mengawalinya dengan zikir. Lalu sosok gaib yang hendak dilukis datang ke hadapannya dan berkomunikasi.
Bahtiar melukis sosok gaib yang berada di depannya. Tentu saja lukisannya bisa berbeda dengan lukisan yang diketahui masyarakat. Beliau pernah melukis Syekh Yusuf, Pangeran Diponegoro dan isterinya (RA Ratu Ratnaningsih), Arung Palakka, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Cornelis Speelman dan beberapa tokoh lain.
Saya menemui Bahtiar Hafid di kediamannya di Kompleks Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
“Sejak kapan Anda melukis tokoh-tokoh sejarah ini?” tanya saya.
“Saat saya mulai bertempat tinggal di benteng Somba Opu ini pada awal 90-an,” jawab Bahtiar.
Lebih jauh dikatakan, suatu ketika dirinya sedang berzikir seperti biasanya. Lalu tiba-tiba muncul getaran aneh yang dirasakannya. Pandangan mata batinnya pun menangkap sosok orang-orang yang pernah hidup di masa lampau, masa kejayaan Kerajaan Gowa.
Pandangan mata batin inilah yang kemudian diekspresikannya dalam kanvas lukisan. Sejak itu, puluhan lukisan tokoh-tokoh dalam sejarah Makassar lahir dari tangannya.
“Saya melukis wajah tokoh yang tidak ada foto atau gambarnya,” kata pria yang karya lukisnya mendapat pengakuan dari IBC (International Biographical Centre), Inggris pada 2001 dan penghargaan internasional dari Presiden Children Art Studio ST.Cyrill and Methode (The small monmartre of Bitola) Republic of Macedonia pada 2000. Intinya tokoh yang pernah hidup disaat era fotografi belum dikenal.
“Meskipun tokoh itu pernah dilukis atau ada lukisan sebelumnya, saya tidak memersoalkannya. Saya melukis berdasarkan pandangan mata batin saya. Bukan mengikuti lukisan yang sudah ada,” ujarnya.
Pria kelahiran Pinrang tahun 1947 ini menuturkan, suatu ketika dirinya diminta melukis Sultan Alauddin(1593 -1639), Raja Gowa pertama yang memeluk Islam. Setelah lukisan tersebut selesai, ternyata muncul ketidak setujuan dari pihak tertentu.
Di tengah polemik tersebut, datang seorang ulama dari Mesir yang kebetulan memiliki kemampuan ekstra dimensi. Ulama ini juga mursyid dari sebuah kelompok tarekat. Setelah melakukan kontemplasi batin, ternyata ulama tersebut sepakat dengan hasil lukisan Bahtiar, bahwa memang itulah wajah Sultan Alauddin.
Tampaknya, ulama itu dapat melihat Sultan Alauddin melalui pandangan mata batinnya. Kini lukisan Sultan Alauddin tersebut berada di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Alauddin, Makassar. Sedangkan duplikatnya ada di Museum Balla Lompoa.
LUKISAN SULTAN HASANUDDIN
“Ketika itu saya diminta oleh 2 orang professor dari Universitas Hasanuddin untuk memvisualkan wajah Sultan Hasanuddin mengenakan busana kebesaran kerajaan,” kata Bahtiar kepada saya.
Gambar kostum raja itu sendiri disalin berdasarkan naskah lontar (naskah kuno) yang tersimpan di Arsip Nasional.
Dalam naskah itu tertulis, Sultan Alauddin pernah menitipkan seperangkat pakaian raja untuk diberikan kepada cucunya (Sultan Hasanuddin) jika kelak sang cucu diangkat menjadi raja. Ciri-ciri pakaian raja tersebut digambarkan secara jelas. Kedua professor tersebut lalu meminta Bahtiar melukis wajah Sultan Hasanuddin dengan mengenakan kostum raja tersebut.
Sebagaimana biasa, Bahtiar pun melakukan zikir tertentu hingga sosok yang diinginkannya muncul dalam pandangan mata batinnya.
“Saya melukisnya begitu sosok tersebut hadir dalam pandangan mata batin saya. Ini setelah saya awali dengan zikir,” kilah pengisi acara Mari Menggambar di TVRI Ujungpandang (1976-1987).
“Jadi saya tidak mendasarkan lukisan berdasarkan fantasi, meditasi, imajinasi atau mimpi.”
Lebih jauh dikatakan, busana raja, termasuk topi dan tongkat yang dikenakan Sultan Hasanuddin memang sudah dipandu berdasarkan naskah lontar tersebut. Sedangkan dirinya hanya melukis wajahnya saja.
Bahtiar mengakui hasil lukisannya tersebut berbeda dengan lukisan Sultan Hasanuddin yang selama ini diketahui masyarakat.
Selengkapnya lihat penuturannya dalam video.. Terima Kasih Atas Perhatian Anda
BaNi MusTajaB
Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan
–













mathius
Desember 2, 2011
keren banget videonya..tentu sj beberapa buah lukisan koleksi dari pak bahtiar…memang sangat mistik..itu bukan dari pelukis ataupun dari pemanduwisata..tapi kolaborasi bersama pengunjung dan guide selaku pemandu wisata..beberapa buah lukisan akan bereaksi sperti lukisan mirna gonzales..lukisan pangeran diponegoro..yang terkesan bener-bener hidup..bahkan bisa beradu akting..dengan pengunjung…
Ma2n
Desember 3, 2011
Good Job Mas Agus ! Tapi sikap saya belum berubah antara percaya dan tidak percaya. Kalau dibilang orang tidak percaya adanya hantu dan mistik secara jujur, dia tentunya tidak takut sendirian di tempat angker. Sebaliknya kalau ia takut, berarti dia percaya.
hajarabis
Desember 3, 2011
keliatan bagus tuh .
seniman banget
salam kenal yya dan sempatkan mampir ke website kita di http://www.hajarabis.com
deadc0d3
Desember 4, 2011
gagah mentong sultan hasanuddin…ewako daeng..!
hajarabis
Desember 8, 2011
nice gan .
sempatkan mampir ke website kami
http://www.hajarabis.com
kasgus
Desember 8, 2011
percaya maupun tidak kita kembalikan lg kpd pribadi masing2,..
dan itu emang ad,..
Nurdin Seafarer
Desember 13, 2011
saya sebagai orang makassar yg lahir sangat terharu melihat lukisan bapak,bukankah bapak dari kabupaten pinrang yg notebennya orang bugis tapi begitu sangat mencintai pahlawan daerah kita,semoga bapak sellu sehat dan panjang umur,dan keluarga bapak sehat slalu,
pak bahtiar rimakasih banyak yah bapak memberikan sesuatu untuk generasi muda,bapak sangat berjasa di mataku
hajarabis
Desember 20, 2011
nice
postingan yang menarik .
salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
website kami di http://www.hajarabis.com
A Ar Daeng Rigowa
Desember 30, 2011
Saya tidak mau berkomentar bagus, nice atau menarik, namun saya cuma berharap BUATLAH LUKISAN BELIAU SESUAI GAMBAR ‘SIMEMANGANNA’ sebagaimana lukisan yang telah beredar di thn.50/60 an itulah yg seharusnya di beri sentuhan baru lalu ditampilkan kembali. Bila saya mengamati lukisan versi baru ini banyak kekurangannya :
1. Baju tidak berwarna merah, tidak menggambarkan karakter St.Hasanuddin.
2. TIdak memakai PASSAPU PATINRA, kenapa mesti SONGKO NIBIRING.
3. Wajah belum menyentuh semestinya.
4. Mata seharusnya besar (Bola Mks) dengan sorotan mata tajam.
5. Model bajunya model Pragawan.
Tolong dikoreksi, di sempurnakan berdasarkan Lukisan SIMEMANGANNA sebagai mana yg sudah beredar pada tahun sebagaimana yang saya sebutkan diatas. Trims.
—-
terima kasih informasinya, Pak..tapi dimana saya bisa dapatkan contoh gambar ‘SIMEMANGANNA’ ?
Adapun mengenai lukisan tersebut telah dijelaskan oleh Pak Bahtiar bahwa kostum berdasarkan data sejarah yang ditunjukkan oleh Prof Mattulada dan Prof Mulis saini dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Keterangan lengkap ada di video tersebut.
obat jantung koroner
Februari 21, 2012
ini lukisan sultan hasanudin waktu masih muda ya gan