giGolo Pribumi Go International-Para Koboi Cengeng di Surga

Posted on Mei 3, 2010

32


Wajah indah Pulau Bali agaknya tercoreng. Tetapi kali ini bukan disebabkan ledakan bom. Melainkan ledakan sebuah film amatir garapan Amit Virmani.

Wajah indah Pulau Bali memang sempat terluka saat terjadi 2 kali ledakan bom yang merenggut ratusan nyawa. Ketika itu ada banyak wisatawan yang urung berkunjung, semata-mata demi keamanan diri.

Peristiwa keji yang tidak akan pernah lepas dari nama Amrozi dan Imam Samudera itu tercatat menjadi bagian kelam dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Siapapun mengutuk kejadian keji itu dan siapapun tentu berduka dengan hilangnya nyawa ratusan orang tak bersalah.

Dua peristiwa itu sudah menjadi bagian dari sejarah. Sejumlah sineas pun mengabadikannya dalam film Long Road To Heaven.

Lost in Paradise

Sebelum film Long Road To Heaven ini dirilis, konon judul awalnya adalah Lost in Paradise. Secara kebetulan, saya sempat melihat casting sejumlah peran penting dalam film ini di studio Kalyana Shira film. Sejumlah orang yang merasa memiliki kemiripan wajah dengan tokoh aslinya, seperti: Hambali, Amrozi, Imam Samudera, dan lain-lain,beradu untung agar dapat berperan dalam film prestisius ini.

Judul film Lost in Paradise inilah yang menggelitik saya saat muncul film heboh berjudul Cowboys in Paradise.

Tentu saja film yang disebut terakhir ini mengguncang kesadaran batin kita. Bahkan lebih tepat dikatakan melukai standar moralitas yang selama ini begitu kuat melekat dalam tradisi masyarakat Bali.

Kita tentu tersinggung, marah dan wajib mencela siapapun yang terlibat dalam pembuatan film tersebut. Dan yang paling patut kita cela adalah sang pengggas ide film amatiran ini.

Tetapi apa daya, film itu sudah terlanjur beredar. Setidaknya melalui trailernya yang banyak beredar di internet.  Keingin tahuan masyarakat semakin menguat, manakala film ini ramai diperbincangkan.

Fakta atau Fiksi

Persoalan yang mengemuka adalah, apakah film itu fiksi khayalan belaka atau realitas yang sesungguhnya?

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah film itu mencoreng keindahan Pulau Bali, khususnya menyangkut aspek moralitasnya?

Tentu saja ada banyak jawaban yang dapat disodorkan. Jawabannya pun dapat pro dan kontra. Masing-masing memiliki pendapat berbeda sesuai pengalamannya masing-masing.

Saya hanya ingin sedikit mengemukakan pendapat bahwa seseorang yang berkeinginan membuat film dokumenter, betatapun amatirnya orang tersebut, tentu tidak dapat menyusun skrip tanpa melalui riset terlebih dahulu. Meskipun risetnya tersebut tergolong amatiran, bodoh dan tidak ilmiah sama sekali.

Fakta?

Sejujurnya saya merasa kesulitan untuk menilai film amatiran ini tergolong film fiksi. Sebab memang ada realitas yang terekam kuat di dalamnya. Fakta adanya gigolo bukan sesuatu yang fiksi.

Gigolo bukan istilah baru di negeri ini. Ada banyak tempat bersarangnya komunitas pelacur pria ini. Moammar Emka menyinggung pula dalam bukunya Jakarta Undercover.

Dengan kata lain, gigolo adalah fakta yang keberadaannya ada di sekitar kita. Dimanapun kita berada. Dan kita tidak dapat mengingkari jika ada yang mengatakan gigolo tumbuh subur di Pulau Bali.

Media massa,  terutama majalah tertentu, pernah pula mengulas soal yang satu ini. Meski saya tidak ingat majalahnya, tetapi uraian cerita yang tertulis menunjukkan fakta adanya gigolo memang benar.

Lantas, mengapa kita bersikap seperti kebakaran jenggot saat seorang pria bodoh bernama Amit mengabadikannya dalam layar digital?

Haruskah kita mengingkari fakta ini? Ataukah mencoba mengambil hikmah dari kebodohan Amit?

Pelajaran

Secara pribadi saya pun merasa tersinggung bilamana sang pembuat film memang hendak menjatuhkan martabat pariwisata Pulau Bali.

Siapapun tentu merasa marah jika tempat tujuan utama  wisata di negeri ini tercoreng lantaran  ulah pria bodoh yang malah mengedepankan aspek prostitusi pria di pulau yang kental nuansa relijiusnya ini.

Tetapi saya menjadi tidak dapat marah jika kemudian saya menilai ada sisi positif yang mungkin dapat diambil dari film Cowboys in Paradise.

Adakah sisi positifnya?

Tentu saja ada. Misalnya, kita menjadi lebih cermat dalam upaya mengurangi dampak penyakit HIV/AIDS yang mungkin dapat ditularkan dari wisatawan perempuan asing melalui pelacur-pelacur pria tersebut.

Bahaya penyakit yang belum ada obatnya inilah yang sebenarnya jauh lebih mengkhawatirkan daripada sekadar tercorengnya pariwisata Pulau Bali.

Film Cowboys in Paradise menggugah kesadaran kita untuk lebih dapat mengantisipasi mewabahnya penyakit AIDS/HIV.

Ketika Amit mengungkap gigolo-gigolo yang bertebaran di pantai-pantai wisata Pulau Bali, terutama Kuta, kita justru menjadi lebih waspada terhadap endemik yang mungkin ditularkan dari wisatawan perempuan asing.

Jadi, marilah kita mencoba bersikap bijak. Bukan dengan cara membreidel film tersebut, atau merazia pria-pria di pantai yang diduga pelacur. Melainkan mengkampanyekan secara maksimal bahaya penyakit menular seksual.

Dengan cara demikian, kita berhasil menggagalkan upaya Amit yang hendak menjadikan gigolo pribumi siap lepas landas terbang melayang menjadi gigolo Go International.

BaNi MusTajaB

Catatan:

Ketika film Balibo dibredel, ada banyak orang berteriak. Khususnya para sineas. Mereka menuntut film itu dapat ditayangkan dan tidak diberangus. Bahkan dilakukan pula pemutaran khusus film ini.

Ketika ada upaya menghadang Cowboys in Paradise, tidak banyak yang teriak.  Khususnya para sineas. Mereka seolah diam membisu.


Posted in: artikel, film