TAHUN BARU 1431 HIJRIAH: RUNTUHNYA PARA KURAWA

Posted on Desember 17, 2009

13


Tahun baru 1431 Hijriah merupakan Tahun Hisab atau biasa disebut tahun penentuan hukum Tuhan. Hal ini dikaitkan dengan siklus 6 tahunan menurut kalender Hijriah. Siklus tahun ke 6 berjalan mulai tahun baru 1431 Hijriah yang jatuh pada tanggal 18 Desember 2009 hingga 7 Desember 2010.

Bila dalam 5 tahun sebelumnya seseorang banyak melakukan keburukan, maka dalam Tahun Hisab akan terkena hukuman akibat perbuatannya. Begitu juga sebaliknya. Hal ini untuk menunjukkan bahwa hukum Tuhan tidak hanya mengenal pahala dan dosa yang akan diterima di akhirat kelak, tetapi juga semasa hidup di dunia ini.

Pada intinya, dalam Tahun Hisab akan terlihat hasil dari segala kebaikan dan keburukan yang diperbuat manusia. Dan yang paling terkena dampak berlakunya tahun hisab ini adalah para Kurawa. Lebih tepatnya tahun keruntuhan para Kurawa. Sosok-sosok Kurawa akan bernasib malang. Mereka mengalami kehancuran fatal.

Runtuhnya para Kurawa sekaligus merupakan tahun yang membahagiakan bagi mereka yang mengharapkan terjadinya keadilan di negeri ini. Segala macam bentuk kedustaan (penyelewengan) yang selama ini dicoba untuk ditutup-tutupi akan terbongkar. Termasuk pula bentuk kejahatan yang sebelumnya tidak terendus aparat hukum.

Sebagaimana diketahui, Kurawa merupakan sosok antagonis dalam kisah Mahabharata. Perilaku mereka digambarkan selalu berbuat jahat, culas, curang dan setumpuk kepribadian yang buruk.

Musuh Kurawa adalah Pandawa yang berperilaku baik dan senantiasa menganjurkan kebaikan. Kurawa dan Pandawa berada di dalam satu negara yang sama, yaitu negara Astina. Apabila hal ini kita lekatkan terhadap kondisi bangsa kita saat ini, maka dapat digambarkan bahwa Astina itu adalah Indonesia.

Adapun para Kurawa ini tercermin dalam beragam bentuk pembenaran terhadap segala tindak tanduk di kalangan pejabat, wakil rakyat, aparat dan pengusaha yang sarat perilaku korup, mengkhianati amanah, selalu ingin menang sendiri dan rajin menumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Di sisi lain, perilaku Kurawa ditunjukkan kepada publik melalui berbagai bentuk topeng kepedulian yang seolah-olah menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kejujuran. Para Kurawa ini menutupi perilaku buruknya tepat didepan wajah-wajah para korban perilaku mereka sendiri, yaitu masyarakat proletar.

Masyarakat merasakan sekali bagaimana para Kurawa melakukan korupsi secara berjamaah, menindas secara berjamaah dan memelintir hukum secara berjamaah pula. Hukum dan putusan pengadilan bisa ditawar. Sedangkan undang-undang dan peraturan disusun untuk memuluskan perilaku jahat para Kurawa sehingga terkesan tidak melanggar hukum.

Sementara aparat pemerintah di semua lapisan bersikap seperti majikan yang harus dilayani, bukan hanya dengan sikap hormat, tetapi juga dengan sejumlah uang. Di sisi lain, kelompok intelektual dan agamawan yang secara prinsip berpegang teguh kepada kejujuran dan berpihak kepada rakyat ikut terjebak dalam putaran arus para Kurawa.

Semua merupakan hasil dari kesewenang-wenangan para Kurawa yang selama ini merasa bebas melakukan aksinya. Tetapi perbuatan mereka akan mengalami titik balik di tahun 1431 Hijriah.

Para Kurawa akan menerima akibat dari perbuatan buruknya. Mereka yang selama ini berhasil mengelabui hukum dan undang-undang akan terjerat hingga tidak mampu melepaskannya. Kepala dan tubuh mereka yang selama ini selalu tegak dengan sikap angkuh dan pongah akan tertunduk malu dihadapan keluarganya dan masyarakat.

Kita juga akan dikejutkan dengan terbukanya kedok sosok-sosok yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang baik ternyata menjadi bagian dari para Kurawa. Kedok itu terbongkar karena banyak pengkhianatan diantara mereka sendiri.

Masyarakat akan menyaksikan dan membuktikan sendiri bagaimana para Kurawa berada diantara mereka. Memang para Kurawa ini ibarat virus maut yang telah menyebar di seluruh lapisan masyarakat.

Orang-orang yang kita anggap sebagai Pandawa atau berperilaku baik, ternyata hanya kedok untuk menutupi kejahatannya. Masyarakat tentu merasa sedih dan kecewa menyaksikan orang-orang yang dijadikan panutan ternyata berperilaku sebaliknya..

Lalu bagaimana dengan nasib para Pandawa atau orang-orang yang berperilaku baik?

Tampaknya nasib Pandawa belum berubah banyak. Mereka belum dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan para Kurawa. Sebab anak-anak para Kurawa mencoba mengambil alih situasi ini. Tetapi di sinilah terjadinya masa transisi dimana para Pandawa mulai bergerak menggantikan para Kurawa sebelum diisi anak-anak para Kurawa.

Dengan kata lain, harapan rakyat untuk terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik belum dapat terpenuhi. Tahun 1431 H terkuras tenaganya untuk menghukum para Kurawa sehingga sektor lain banyak yang terabaikan.

Oleh karena itulah, hendaknya manusia selalu mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa dan senantiasa berbuat baik kepada sesamanya. Perubahan nasib ke arah yang lebih baik hanya mungkin diraih jika mengubah perilaku sebagai doa.

SELAMAT TAHUN BARU 1431 HIJRIAH

BaNi MusTajaB

Catatan:

Istilah Tahun Hisab dikemukakan KH. Zumri Fadlil. Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin, Banaran Banyukuning, Ambarawa Jawa Tengah.

Jika kita merunut ke belakang, 6 tahun sebelum tahun 1431 H, yaitu tahun 1425 H (2004 M), terjadi tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam yang merenggut ratusan ribu jiwa. Kemudian jika mundur lagi 6 tahun atau tahun 1419 H (1998 M), terjadinya peristiwa tragedi Mei yang mengakhiri era pemerintahan Suharto.

Meski begitu, peristiwa yang terjadi di negeri ini pada hitungan Tahun Hisab tersebut tidak selalu sama dengan kejadian di negara lain.

Setiap bangsa atau negara di dunia ini memiliki peruntungannya sendiri-sendiri. Ambil contoh, ada negara yang mengalami keberuntungan di tahun tertentu, tetapi pada saat yang bersamaan ada pula negara yang terpuruk akibat perang, bahkan ada pula yang porak-poranda dihantam bencana alam.

Dan bagaimana dengan nasib negeri ini? Wallahualam bissawab.

Posted in: artikel