ASY SYAHIDAH DR. MARWA EL SHERBINI DAN EPIDEMI ISLAMOPHOBIA

Posted on Agustus 26, 2009

30


Penetapan 1 Juli sebagai Hari Jilbab Sedunia (The World Hijab Day) merujuk pada tragedi pembunuhan Marwa El Sherbini di Pengadilan Dresden, Jerman.

Sebelumnya, Hari Jilbab Sedunia diperingati setiap minggu pertama bulan September. Hal itu sebagai bentuk protes terhadap Pemerintah Perancis yang melarang penggunaan jilbab di sekolah, kantor, dan lain-lain (2004).

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, mengapa tradisi jilbab yang telah berusia ribuan tahun ini harus diperingati?

Belakangan ini eksistensi jilbab memang semakin tersudutkan. Bahkan nyaris menjadi benda terlarang yang harus dilenyapkan.

Sekilas tampak tidak masuk akal. Tapi demikianlah sesungguhnya yang sedang terjadi. Di belahan bumi Eropa, jilbab, burka, cadar atau sejenisnya telah dianggap sebagai bagian dari simbol kejahatan. Istilahnya Islamophobia (Islamofobia) atau ketakutan terhadap simbol-simbol bernuansa Islam.

Epidemi Islamophobia sedang menjangkiti Eropa. Bahkan wabah ini terus menular dan ditumbuh suburkan oleh orang-orang yang memang tidak suka dan membenci atribut Islam. Contohnya, Geert Wilder yang meluncurkan film Fitna, koran Jyllands Posten Denmark yang menerbitkan kartun Rasulullah SAW, dan lain-lain.

Sikap tersebut tercermin pula dari para pemimpin negara, pejabat negara dan sejumlah politikus di Eropa. Belum lama Presiden Perancis Nicolas Sarkozy melarang Burka dan Burkini di negaranya. Sikapnya itu merupakan bentuk nyata wabah Islamophobia yang sedang terjadi di Eropa. Begitupula dengan Italia dan Skotlandia.

Bahkan dalam urusan nama, seseorang dapat saja terancam. Sebagaimana dialami Shah Rukh Khan yang sempat di interogasi di bandara Amerika. Hanya karena ada kata “Khan” dalam namanya, maka bintang Hollywood itu dicurigai sebagai teroris.

Meski sedikit berbeda, pernah terjadi di negeri ini tidak lama setelah tragedi WTC 11 September 2001. Ketika itu, orang-orang yang hendak mengurus Visa di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta akan kesulitan jika kebetulan dalam namanya ada kata-kata: Muhammad, Ahmad, Akbar, Muslimin dan lain-lain. Apalagi jika memiliki jenggot, dapat dipastikan Visa tidak akan dikeluarkan.

Martir Hijab: DR. Marwa El Sherbini

Epidemi Islamophobia membawa korban saat seorang perempuan berjilbab dan sedang hamil 3 bulan dibunuh di ruang pengadilan Dresden, Jerman, pada 1 Juli 2009 lalu. Inilah peristiwa tragis dan menyakitkan bagi Kaum Muslimin.

Ketika itu Marwa El Sherbini melaporkan kasus penghinaan terhadap dirinya yang dituduh teroris karena jilbab yang dipakainya. Sang penghina yang bernama Alex bahkan seringkali mengancam jiwa Marwa. Inilah yang membuat doktor bidang farmasi ini melapor polisi.

Ketika sidang berlangsung, sungguh tragis kejadiannya. Sang terdakwa membunuh Marwa di hadapan hakim, jaksa, pengacara, pengunjung dan sejumlah polisi. Lebih menyedihkan lagi saat suami Marwa berupaya menolongnya justru ditembak dibagian perut. Suami Marwa, Elwi Ali Okaz yang sedang mengambil gelar doktor di Institut Max Planck, tersungkur dengan peluru di tubuhnya.

Sementara Sang Pembunuh terus menusukkan pisaunya ke tubuh Marwa El Sherbini persis di depan Mustafa, putra Marwa yang masih berusia 3 tahun. Ketika membunuh, mulut Alex terus saja berteriak: ”Kamu tidak berhak hidup di dunia ini!!”

Marwa El Sherbini syahid bersama bayi dalam kandungannya dengan 18 tusukan.

Mengapa polisi itu menembak suami Marwa dan bukan melumpuhkan Alex Sang Pembunuh?

Karena polisi bodoh itu melihat rambut Elwi Ali Okaz berwarna hitam. Dan di benak sang polisi telah tertanam kuat bahwa yang berambut hitam adalah bagian dari teroris hingga dia langsung menembak. Sementara Alex Sang Pembunuh berambut pirang sama persis dengan rambut sang polisi.

Sungguh, peristiwa itu terjadi di lembaga pengadilan terhormat di sebuah negara yang menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia.

Yang menyakitkan lagi  terdapat kesan Pemerintah Jerman dan sebagian besar pers Barat dan Amerika mencoba menutupi kasus paling keji di negara beradab ini. (Anehnya, di negeri ini pun puluhan channel televisi ikut-ikutan diam membisu).

Inilah yang menimbulkan keprihatinan hingga mendorong sejumlah orang membuat petisi secara online (petitiononline) dan mengundang masyarakat dunia yang peduli dengan keadilan ikut ambil bagian dalam petisi ini.

Ibroh

Dikisahkan, beberapa hari sebelum tragedi itu, seorang kerabat Marwa pernah menasehatinya agar sementara waktu melepas jilbabnya. Semata-mata melihat situasi yang cenderung sangat rawan dan membahayakan. Memang kelompok rasis sedang menjamur di Jerman.

Tetapi, perempuan kelahiran Alexandria, Mesir tahun 1977 ini teguh dengan pendiriannya. Dia malah berkata,” lebih baik saya mati daripada melepas keyakinan saya.” Jelas, bagi Marwa jilbab adalah bagian dari keyakinan agamanya.

Begitulah keteguhan Marwa dalam memenuhi seruan agamanya. Tidak ada keraguan sedikitpun, meski nyawanya terancam.

Tidak ada sulitnya bagi Marwa melepas jilbab demi keselamatannya, demi hidupnya di dunia ini, demi anak dan suaminya, demi masa depannya. Tetapi kenyataan Marwa lebih tunduk dan patuh kepada Tuhannya dan tidak takut dengan ancaman dan teror manusia. Bagi Marwa, kehidupan akherat yang abadi jauh lebih baik daripada kehidupan dunia fana ini.

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ” (Q:S.29:2-3).

Kutipan ayat suci Al Qur’an tersebut menunjukkan bahwa umat Islam akan selalu mendapatkan ujian. Apapun bentuk ujian itu. Di sinilah umat Islam diuji kesabaran dalam menghadapi semua ini.

Syukurlah, keteguhan Marwa El Sherbini telah mengilhami kaum muslimah di seluruh dunia. Itulah sebabnya mereka sepakat menjadikan tanggal 1 Juli sebagai Hari Jilbab Sedunia.

Tetapi hendaknya kita menginsyafi, apapun julukan untuk Marwa (martir hijab, syahadah jilbab, pahlawan jilbab, atau apapun) tidaklah mengurangi kedudukannya di hadapan Tuhannya.

Persoalannya adalah: dapatkah kita mengambil ibroh dari keteguhannya berjilbab?

Semoga Allah subhanahu wataala menempatkan Marwa el Sherbini ke dalam Surga Firdaus.

Allahumma firlaha warhamha waafihi wafuanha…..Amin ya Robbal alamin.

Illa arwahi khususon Marwa El Sherbini, Al fatihah…..(mohon dibacakan Al Fatihah untuk almarhumah. syukron)

Catatan: Anda tidak perlu khawatir berkunjung ke Eropa. Sebab: “Dimanapun kamu berpijak, disitu tetap Bumi Tuhan yang sama.”

BaNi MusTajaB

Asy Syahidah DR Marwa El Sherbieny_banimustajab5marwa and her familyweddingher fatherher motherfuneralfuneral2funeral3demonstration4demonstration9demonstration 8demomerve4Marwa_el-sherbini._Funeral_meeting_dresden_-_germanydresden courtdresden court1asy syahidah DR.Marwa el sherbini

video



Posted in: berita