IBSN: SEJARAH BAGI PARA PEMBANGKANG

Posted on Agustus 18, 2009

18


Mr. Sjafruddin Prawiranegara

MR. Sjafruddin Prawiranegara

Sosok Pahlawan Nasional Pangeran Antasari mendapatkan kehormatan dalam bentuk menempatkan gambarnya pada mata uang baru pecahan Rp. 2000,-. Keterpilihannya tentu melalui sebuah proses pertimbangan yang tidak sebentar. Namun yang pasti, kriterianya meliputi sepak terjang perjuangannya dalam perjalanan sejarah bangsa ini.

Sejarah bangsa ini memang bukan sekadar cerita hiburan tentang diri para raja, sultan, wali, presiden atau pemimpin kharismatik, tetapi juga menampilkan pribadi-pribadi tangguh yang memiliki peran penting dalam membangun fondasi bangsa. Sejarah merupakan suatu pencerminan struktur politik ekonomi sosial budaya masyarakat pada masa-masa tertentu. Sejarah juga menggambarkan naik turunnya peradaban suatu bangsa dan negara.

Itulah sebabnya para sejarawan berupaya menjaga diri dari kecenderungan mencampuradukkan kenyataan dan rekaan atau kejadian-kejadian palsu. Sejarawan bukan saja harus menampilkan secara faktual, tetapi juga harus kritis dalam mengumpulkan data.

Terlebih ia (sejarawan) mesti tidak hanya mengisi sejarahnya dengan gambaran-gambaran tentang kenyataan, tetapi juga pandangan-pandangan filosofis, menafsirkannya dalam lingkup kepentingan manusiawi dan akibat-akibat yang terjadi. Sebagaimana di alam, di dalam sejarah pun tidak ada tempat bagi kebetulan (chance).

Sejarah bukanlah kumpulan kenyataan terpisah dan statis, tetapi merupakan proses kreatif dinamis, harapan dan aspirasi manusia. Sejarah adalah organisme yang hidup dan tumbuh, yang strukturnya ditentukan oleh cita-cita dasar serta cita-cita kebangsaan dan negara. Dan para sejarawan tidak hanya mengumpulkan kenyataan-kenyataan yang telah usang menjadi suatu kesatuan organik, tetapi juga menentukan bentuk sesuatu yang akan datang.

Karena itu, dalam rangkaian kemerdekaan ke 64 ini, ada baiknya kita mengkaji ulang pribadi-pribadi tangguh masa lalu yang gigih mengusir penjajah, namun kemudian terpeleset dalam konflik dengan sesama anak bangsa.

Kita mengenal cukup banyak nama pribadi-pribadi tangguh itu, seperti Kartosuwiryo, Tan malaka, Kahar Muzakkar, Syafruddin Prawiranegara, atau mereka yang tergabung dalam Petisi 50, dan lain lain.

Sebagian dari mereka tampaknya masih berada dalam posisi abu-abu dalam catatan sejarah bangsa ini. Misalnya, Syafruddin Prawiranegara. Tokoh ini pernah menjadi Presiden dalam masa pemerintahan darurat, saat Sukarno dan Hatta diasingkan. Meskipun hanya sementara memegang jabatan presiden, namun memiliki arti penting pada masanya.

Tetapi sosok Syafruddin Prawiranegara seolah tenggelam ketika Penguasa Orde Baru menebar jaring kepatuhan tanpa reserve. Tampaknya Syafruddin Prawiranegara memang berseberangan dengan Suharto. Meski belum masuk kategori pembangkang berat, sebagaimana nama-nama yang tercantum dalam Petisi 50.

Sosok Syafruddin Prawiranegara seolah terlupakan dalam rangkaian perjalanan bangsa ini. Entah suatu kebetulan atau tidak, saat Metro TV menyiarkan acara Metro File tentang Panglima Besar Jenderal Sudirman, pada Minggu 9 Agustus 2009 pukul 20.00 WIB, sang narator menyebut nama Syafruddin Prawiranegara menjadi Amir Syarifuddin. Padahal jelas konteks cerita yang dimaksud adalah Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Tentu menyedihkan terjadinya kesalahan yang tidak perlu itu. Lebih menyedihkan lagi acara tersebut diputar ulang 2 kali. Maka semakin banyak orang yang menduga bahwa Syafruddin Prawiranegara adalah Amir Syarifuddin.(Tokoh penting yang disebut belakangan ini malah terbunuh dalam konfliks sesama anak bangsa di tahun 1948).

Kesalahan ucap itu sekaligus membuktikan bahwa pribadi-pribadi tangguh yang pernah berjasa dalam perjuangan bangsa ini seringkali terabaikan hanya karena pernah menjadi pembangkang bagi para penguasa. Tentu saja jasa besar Syafruddin Prawiranegara tidak terabaikan dalam sejarah bangsa ini. Setidaknya dengan penetapan Hari Bela Negara setiap tanggal 19 Desember.

Tetapi bagi sebagian yang lain, ada banyak nama yang seolah tenggelam atau (sengaja) ditenggelamkan. Misalnya, Omar Dhani, Subandrio, Sultan Hamid, ALi Sadikin, dan lain-lain.

Bagaimanapun juga, kita patut berbangga dengan tampilnya sosok Pangeran Antasari dalam lembaran uang kertas baru. Tetapi tentu yang lebih utama adalah membuka kembali catatan sejarah perjuangan beliau. Diantara prestasi besar beliau adalah menghancurkan kapal milik Belanda Onrust dan juga pemimpin-pemimpinya yang bernama Letnan der Velde dan Letnan Bangert.
Prestasi itu merupakan salah satu saja dari rangkaian catatan indah perjuangan Pangeran Antasari semasa hidupnya. Inilah yang sesungguhnya harus kita ambil sebagai pelajaran dari terpampangnya gambar beliau dalam lembaran uang baru.

Merdeka…. Selamanya.

BaNi MusTajaB

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network http://ibsn.web.id


Posted in: artikel