CITRA KOTA YANG TERCEMAR: ULAH TERORIS ATAU TELEVISI ?

Posted on Agustus 12, 2009

7


Sebuah fenomena menarik  sekaligus menyedihkan setiap kali muncul berita seputar teroris.

Sebagaimana kita ketahui bersama, teroris atau yang diduga terkait dengan jaringan teroris memilih lokasi di berbagai kota di negeri ini, khususnya kota-kota di Pulau Jawa.

Kita tidak tahu persis dimana para teroris itu bertempat tinggal, kecuali setelah muncul berita penyergapan, penangkapan atau penembakan.

Alhasil, bersamaan dengan terjadinya aksi aparat atau Densus 88, maka muncullah istilah baru, semisal: teroris Temanggung, Teroris Cilacap, Teroris Wonosobo. Teroris Semarang, Teroris Palembang, dan lain-lain.

Berita adanya penangkapan sedikit banyak disambut gembira.Tentu menimbulkan harapan tidak adanya lagi aksi pemboman yang banyak melukai warga yang tidak tahu menahu dengan urusan terorisme.

Namun, menempatkan nama suatu kota dengan kata ‘teroris’ tentu menimbulkan pula kesan buruk terhadap kota tersebut. Inilah yang sesungguhnya mengusik saya untuk sekadar berpendapat.

Memang benar bahwa teroris atau yang diduga sebagai teroris berada di kota-kota tertentu, tetapi gencarnya pemberitaan di televisi  dan media massa menimbulkan stigma terhadap kota tersebut. Di samping tentunya membangkitkan kekhawatiran tersendiri terhadap orang-orang atau kerabat yang berasal dari kota-kota itu.

Ketika terjadi aksi penyergapan yang berlangsung 2 hari di Temanggung, seorang rekan yang kebetulan berasal dari Wonosobo mengaku memiliki kekhawatiran mengingat ada familinya yang menetap di kota itu. Tak hentinya dia menelpon kerabatnya sekadar untuk mengetahui keadaannya. Beruntung lokasi TKP  jauh dari rumah kerabatnya.

Tetapi yang membuat saya sedikit terhenyak saat dia mengomentari bahwa butuh waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan citra kota itu.

Apa yang dikemukakannya tentu cukup beralasan. Bagi para perantau yang berasal dari berbagai kota yang disebutkan di atas tentu memiliki kekhawatiran semacam itu.

Kota yang merupakan kampung halaman kita, tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan, tiba-tiba mencuat ke permukaan sebagai kota yang dijadikan sarang teroris. Tentu saja hal ini menyedihkan. Stigma (citra negatif) terhadap kampung halaman seolah  melekat erat dalam diri para perantau.

Inilah yang semestinya kita hindari. Dalam hal ini, televisi dan media massa bertanggung jawab dalam mencitrakan suatu kota yang aman tenteram menjadi kota sarang teroris.

Lalu adakah jalan keluar menghindari stigma semacam itu?

Kalau boleh saya menyarankan, pemberitaan menyangkut terorisme hendaknya tidak menyebutkan kata-kata, seperti:

Teroris Temanggung ini diduga…atau Teroris Cilacap ditangkap…..

Menurut saya, ucapan penyiar berita televisi atau tulisan di koran dengan kalimat tersebut terlalu menyinggung perasaan. Kalimat tersebut secara eksplisit menjustifikasi bahwa kota tersebut menjadi kota teroris.

Oleh karenanya, sebaiknya diubah menjadi,  misalnya:

Teroris yang bersembunyi di Kota Temanggung, Jawa Tengah ini diduga …..atau

Teroris yang disergap di sebuah rumah di Kota Batu Malang, Jawa Timur ini berhasil dilumpuhkan……. (penulis naskah berita tentu lebih tahu bagaimana persisnya menyusun kalimat).

Contoh yang ditulis terakhir ini tidak secara tegas menyebut asal usul sang teroris. Artinya, bisa saja teroris berasal dari kota tersebut,  atau bisa juga kota tersebut hanya digunakan sebagai tempat persembunyian belaka.

Tulisan ini dimaksudkan agar citra sebuah kota tidak menjadi buruk hanya karena kesalahan pengucapan reporter dan atau tulisan di media massa.

Ketika sebuah kota telah rusak citranya, maka dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memulihkannya. Selama proses pemulihan itu berlangsung, peluang untuk merebut penghargaan sebuah kota menjadi semakin kecil. Misalnya, ajang perebutan Piala Adipura.

Piala Adipura memang merupakan ajang penghargaan bagi kota yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Tujuannya mendorong kota-kota di Indonesia menjadi Kota Bersih dan Teduh.

Namun harus difahami, bahwa ada 2 kriteria Adipura yang menjadi indikator pokok, yaitu:

  1. Indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota
  2. Indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non-fisik), yang meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap

Indikator kedua tersebut tentu sangat memengaruhi sebuah kota yang disinyalir pernah menjadi tempat persembunyian teroris.

Demikianlah. Mohon dijadikan periksa.

BaNi MusTajaB

Piala Adipura menjadi kebanggaan warga

adipura1

adipura

noordin m top

Contoh Poster yang menyebutkan nama kota atau daerah tertentu. Penyebutan semacam ini dapat pula menimbulkan stigma terhadap daerah tersebut. Sebaiknya: hubungi Kantor Polsek terdekat Nomor…..

Posted in: berita