MISTERI ANGKA 13 PADA DHEA IMUT DAN PEMILU 2009

Posted on Maret 12, 2009

22


Prolog

Banyak bangsa percaya 13 sebagai angka sial. Ada anggapan 13 tidak membawa hoki. Keyakinan yang merasuk kuat dan semakin menguat saat Apollo 13 gagal mendarat di Bulan. Angka 13 masuk kategori Parasains.

Sekaitan ini saya menghubungi Idris Nawawi, pimpinan Majelis Jamiatul Ijazah di Plered, Cirebon dan Mas Anto di Ciracas, semata untuk mengurai tulisan ini.

Idris Nawawi mengungkapkan bahwa dalam kitab afdzolus solawat diterangkan: Angka 13 disebut “Yaumunnahsin (hari nahas, jelek). Disitu dijelaskan secara rinci tanggal ini jangan digunakan untuk permulaan aktifitas maupun sebagai perombakan sebuah kinerja manusia.

Di samping 13 dimakruhkan oleh seluruh filosofi ahli bathin sebagai permulaan sebuah kinerja, sisi lainnya “Man asyrokot nahsinuha fasytarokot nuksonuha” yang kurang lebih artinya “dimana sebuah permulaan yang diambil dari dasar yang jelek, maka perjalanan selanjutnya akan banyak diwarnai cobaan hingga berakhirnya sebuah masa yang panjang”.

Sedangkan Mas Anto berpendapat, “Pada hari ke 13 bulan purnama, gravitasi Bulan dan Bumi mencapai puncaknya karena kuatnya energi alam semesta. Dalam tradisi leluhur, hari ke 13 bulan Jawa dan Hijriah dipilih untuk melakukan ritual karena saat tepat menyerap kekuatan energi alam. Energi ini mengandung kekuatan potensi positif dan negatif, tergantung individu yang melakukan ritual.”

Laku ritual biasanya dilakukan pada hari ke 13, 14 dan 15. Tentunya diiringi niat dan tujuan beragam. Ada dengan niat kebaikan, tetapi ada juga niat buruk. Sebagai contoh, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya berpuasa pada pertengahan bulan hijriah (tanggal 13, 14, 15), pasti bertujuan baik.

Sedangkan laku ritual dengan tujuan menuntut ilmu-ilmu hitam juga dilakukan pada ketiga tanggal tersebut. Itulah sebabnya besar kemungkinan terjadinya benturan antara energi positif dan negatif.

Secara kebetulan, angka 13 ini terkait dengan Dhea Imut dan Pemilu 2009.

DHEA IMUT

Artis cilik Dhea Imut menangis dengan merebaknya isu video mesum. Masayu Chairany, ibunda Dhea ikut menangis meratapi gossip sangat jahat yang menimpa putrinya. Isu juga menyeret nama Leo Sutanto, Bos Besar SinemaArt yang banyak berperan dalam karirnya.

Tentu saja kasus ini menjadi sarapan lezat menambah gizi traffic. Tagline ‘Dhea Imut’ laku keras di mesin pencari. Dan akan terus terjual untuk waktu tak terhingga.

Ketika ibunda Dhea menangis di layar kaca, mungkin ada pula kaum ibu yang ikut menangis. Larut bersama dalam kesedihan. Itulah naluri ibu yang senantiasa gigih melindungi anak-anaknya sepanjang hayat masih dikandung badan.

Bilamana kita menyempatkan diri berkunjung ke Rumah Produksi (Production House), maka kita akan melihat puluhan kaum ibu yang setia mengantarkan anaknya mengikuti casting. Sang Ibu berharap anaknya lolos dapat peran di layar kaca atau layar lebar. Jika berhasil, pundi-pundi uang ada di depan mata.

Peluang menjadi selebritas sangat terbuka lebar. Sinetron, Indonesian Idol, Mama Mia, Kontes Dangdut, dll. Hasrat menjadi kaya dan terkenal dapat tergapai di sini. Semua sah-sah saja.

Namun sering tidak disadari ranjau-ranjau yang menghadang. Kasus Dhea Imut dan Leo Sutanto adalah ranjau yang meledak ke permukaan. Padahal ada banyak ranjau yang meledak tetapi tidak terdengar. Tersembunyi rapat. Dan memang harus disembunyikan karena ada harga yang harus dibayar, yaitu kekayaan dan ketenaran.

Gadis-gadis belia menjadi incaran untuk disantap kesuciannya. Remaja-remaja tampan dibidik kaum gay di lingkungan industri entertaintmen. Koordinator artis memiliki daftar lengkap calon artis. Jika bocor ke oknum penjahat kelamin, maka mudah disalahgunakan untuk membidik satu persatu sasarannya. Terkadang bidikan tepat, tetapi ada pula yang gagal. Bidikan tepat jika calon artis rela membayar berapapun asalkan dapat tampil di layar kaca. Meski harus membayar dengan kelaminnya.

Tidak ada perlindungan diri yang kokoh menghadapi situasi ini. Di satu sisi ada yang ingin kaya dan terkenal, sedangkan di sisi lain ada yang memberi peluang tercapainya keinginan itu. Dan yang memberi peluang memiliki kekuatan penuh. Dapat bersikap menurut kehendaknya.

Tentu saja ini bukan info baru. Bahkan sudah lazim diketahui. Tetapi kasus Dhea Imut hendaknya dapat menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati terhadap siapapun yang ingin merintis rezeki di jalur showbiz.

Saya hanya ingin mengerucutkan kasus Dhea Imut. Berita yang beredar seputar video itu mengaitkan nama Leo Sutanto, produser SinemaArt. Tetapi sangat disayangkan tidak (atau belum) adanya klarifikasi penuh pihak Leo. Laporan ke Polda hanya dilakukan Ibunda Dhea.

Padahal bobot klarifikasi Leo lebih berarti dibandingkan konferensi pers ibunda Dhea. Tetapi mengapa Leo diam saja? Dan membiarkan kasus menggantung?

Leo dapat saja mengatakan akan menuntut siapapun yang mencemarkan nama baiknya karena menjadi korban pembunuhan karakter. Leo pasti punya power melakukan itu. Dan tidak membiarkan Dhea menghadapi sendiri kasus yang tergolong berat ini.

Kalau boleh jujur, ada banyak orangtua yang ingin anaknya bergabung dengan SinemaArt disebabkan banyak menghasilkan sinetron dan layar lebar. SinemaArt adalah raksasa production house. SinemaArt menguasai jam tayang premier di beberapa stasiun TV favorit yang mungkin sudah dikontrak untuk 20 atau 30 tahun ke depan sehingga tidak mudah disingkirkan Rumah Produksi lainnya. Bahkan meski produksinya semakin jelek.

Maka ketika terjadi masalah yang mengaitkan dengan sang produser, tentu ada banyak orangtua yang ingin tahu duduk perkara sebenarnya. Ini urusan kelamin yang tercemarkan dan bukan soal kontrak kerja.

Sejujurnya saya bukan pengagum Dhea. Tetapi teman, saudara, keponakan, tetangga dan ibu saya sangat mengaguminya disebabkan rajin menonton TV. Tua dan muda terhibur dengan kehadirannya. Karenanya tidak pantas gadis seusia Dhea dihinakan seberat ini. Maka sebagai figur yang membesarkan namanya, Leo wajib berbicara ke publik. Dan tidak mengurung diri di istananya.

Saya hanya sedikit terkejut ketika mengetahui Dhea merayakan ultahnya pada 29 Februari 2009 lalu. Selebritas cilik ini merayakan ulang tahunnya ke 13.

Sebagaimana ditulis di bagian prolog, angka 13 sering diidentikkan dengan keburukan atau kesialan. Agaknya ultah Dhea ke 13 membuktikan hal ini. Dia tidak dapat menikmati hari kelahirannya dengan keceriaan dan kegembiraan. Yang ada malah derai air mata. Menyedihkan.

PEMILU 2009

Pada 9 April 2009, negara ini menyelenggarakan Pemilu. Sepintas biasa saja. Namun dalam hitungan kalender Jawa dan Hijriah, tanggal tersebut jatuh pada 13 Jumadil Ula (Jumadil Awal). Inilah yang menyulut perhatian praktisi supranaturalis. Khususnya menyangkut pengaruh angka 13 terhadap jalannya hajat besar tersebut.

“Pada malam menjelang pemilu, ada 2 macam laku ritual yang terjadi. Pertama yang bersifat keagamaan, seperti sholat tahajjud atau pembacaan doa yang dilakukan calon anggota legislatif bersama keluarga dan pendukungnya. Biasanya dilakukan di rumah atau masjid yang dipimpin kyai atau ustadz. Yang kedua adalah laku ritual yang bersifat jahiliyah, seperti meminta bantuan kepada bangsa jin atau lelembut. Dilakukan di tempat-tempat keramat, seperti kuburan, tepi laut atau sungai. Seorang dukun memimpin pembacaan mantera lengkap dengan ubo rampe (sesajen),” kata Mas Anto.

Laku ritual agama bertujuan memohon ijin dan ridho Allah SWT agar hajatnya menjadi wakil rakyat terkabul. Sedangkan laku ritual yang meminta bantuan bangsa jin untuk mempengaruhi pikiran para konstituen agar memilih calon tertentu, sekaligus menjatuhkan saingan-saingan politiknya.

Dua bentuk laku ritual yang berbeda tersebut akan berakibat terjadinya benturan kekuatan gaib yang baik dan jahat. Apalagi kedua laku itu dilakukan secara bersamaan dan merata di seluruh pelosok negeri. Tentu saja benturan di alam gaib ini hanya dapat dirasakan mereka yang menguasai ilmu gaib. Istilahnya perang gaib antar caleg.

Dampak benturan di alam nyata menjadikan emosi massa meningkat tajam dan suasana cenderung panas. Apabila tidak diwaspadai dapat terjadi benturan fisik antar masing-masing pendukung caleg. Situasi ini semakin parah jika ada pihak yang berlaku curang.

“Pemilu kali ini banyak terjadi kecurangan. Ini mendorong demonstrasi yang menjurus anarkis akibat ketidakpuasan para caleg dan pendukungnya. Banyak caleg kecewa dengan perolehan suaranya. Diantara mereka ada yang pasrah dan ikhlas, tetapi ada pula yang merasa dicurangi dan menuntut pemilu ulang,” kilah Mas Anto.

13 BUKAN ANGKA SIAL

Namun demikian, kedua supranaturalis itu tidak setuju jika 13 identik dengan angka sial. Mengapa?

Idris Nawawi berpendapat, hari pemilu (Kamis) jatuh pada Neptu pahing yang berarti hari yang getir (pahit). Hanya saja bulan yang diterapkan dalam pemilu (April ) menurut perhitungan afdzolus solawat sangat baik sekali sebagai bulan penuh barokah.

“Itu menunjukkan ada manfaat dan madhorotnya penetapan tanggal yang buruk dan bulan yang penuh keberkahan,” kata Idris.

Lewat penggabungan yang didasari ilmiah, sains, ketauhidan, supranaturalis dan hukum alam yang diambil dari karangan seorang waliyulloh Quthub, Imam Ali Al Buni, segala sesuatu yang terjadi di Bumi ini semua tak lain bersumber dari kehendak Qodho dan Qodarnya Allah SWT. Di samping itu, 2 jalan (kebaikan dan keburukan) akan sejajar dan beriringan menyertai setiap langkah manusia yang pada akhirnya semua tergantung dari tingkah laku kita sendiri yang menjalankan. Dengan kata lain, 13 tidak selalu identik dengan angka sial.

Hal senada diungkapkan Mas Anto. Dia menjelaskan sisi lain angka 13, yaitu penjumlahan angka 1 dan 3 yang menghasilkan angka 4 atau genap.

“Angka atau bilangan genap itu menunjukkan keseimbangan antara baik dan buruk. Dalam konteks pemilu, ya berarti tidak ada suara mayoritas atau superioritas dari kelompok tertentu. Hal ini memberi peluang terjadinya kesepakatan-kesepakatan ke arah yang lebih baik. Kesepakatan ini akan terlihat dalam pemilu berikutnya untuk menentukan siapakah sosok paling cocok memimpin negara,” ujarnya.

Semua kelompok memiliki peluang sama dalam menempatkan tokohnya sebagai presiden dan wakil presiden. Lalu terjadi tawar menawar politik (bargaining). Di sini hasilnya akan baik jika didasari niat baik. Tetapi bisa berakibat buruk apabila terselubung niat buruk.

Namun pada titik kritis ini akan muncul elit politik tertentu yang berniat mengacaukan kesepakatan-kesepakatan yang sebenarnya sudah baik. Orang-orang ini dengan sengaja mengkhianati partai atau kelompoknya sendiri. Dapat terjadi kekacauan politik. Ini harus diwaspadai.

Pada saat rakyat sudah melancarkan pemilu dengan sukses, justeru elit politik yang menghancurkan. Istilah Poros Tengah 2, Blok S, Blok M adalah benih pengkhianatan aspirasi rakyat bilamana diiringi niat jahat. Poros Tengah tahun 1999 adalah kecelakaan sejarah yang harus dihindari.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa 13 bukanlah angka sial. Melainkan mengandung keseimbangan antara yang baik dan buruk. Bahkan Gus Dur (karamullah wahjah) pun menilai  13 sebagai angka yang bagus. Apalagi jika beliau menyepakati akta van dading dengan Cak Imin.

Demikian pula halnya dengan musibah terhadap Dhea Imut di usianya ke 13. Adalah hal biasa jika ombak dan badai datang silih berganti. Kalau kita mengkaji kembali, sebenarnya Alah SWT telah menjanjikan dalam firmanNya: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Fa inna ma’al usri yusran, inna ma’al usri yusran”(Q. S.94 : 5-6).

Hal itu berarti, manusia tidak perlu terlalu khawatir dengan kondisi apapun yang menimpa dirinya. Setiap kesulitan pasti diiringi dengan 2 kemudahan. Tetaplah yakin bahwa dalam genggaman tanganNya terdapat segala kebajikan. Di sisi lain, Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya: “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Q.S: 2 : 286).

Karena itu, cobaan dalam bentuk apapun, seperti kemiskinan, penderitaan, gossip jahat, atau apapun, adalah ujian yang harus dihadapi dengan sabar, ikhlas dan tawakkal. Maka dari itu:

JANGAN MENANGIS ADINDA CLAUDIA ANISSA

BaNi MusTajaB

Wara wara

Pada 7 Maret 2008, posting pertama blog ini. Akibat malas hanya terkumpul 116 posting. Beberapa ada tulisan teman (Mawan Suganda, Bahroni Bin Mastar, Idris Nawawi dan LS. Ahmad), terjemahan National Geographic, Pravda, dll. Dan 1 posting copas (Tasawuf dan Ilmu Laduni) dengan rujukan lengkap.

Ada 3 rekaman pribadi: Rossa-Titi Kamal, Orkes Gambus, Masjid Al Alam dan rekaman teman (Eka Supriatna): Buat Apa Punya Partai Politik (Ki Gendeng Pamungkas). Saya juga bikin situs tapi malas mengurus, janganbodoh.com.

Melalui posting ini saya ingin berterima kasih kepada semua pihak yang pernah mengunjungi blog ini.

Jujur saja terkadang ada tulisan ringan menyegarkan tapi tidak sedikit bikin pusing kepala.

Sekadar himbauan kepada yang gemar copy paste (copas) dengan tidak menyebut sumber hendaknya tindakan itu dikurangi mengingat saya rutin merevisi tulisan terutama menyangkut tata bahasa. Dipersilahkan copas dengan rujukan. Mohon maklum.

Posted in: berita