Beranda > tasawuf > PENCERAHAN MUHAMMAD SAW DI SIDRATUL MUNTAHA

PENCERAHAN MUHAMMAD SAW DI SIDRATUL MUNTAHA


AGUS SISWANTO

Tujuan utama perjalanan Isra Mi’raj adalah menghadap Allah Subhaanahu Wataala di suatu tempat di dekat Pohon Sidratul Muntaha, di atas langit ketujuh yang berdekatan dengan Surga. Dituturkan dalam Al Qur’an Surat Al Najm (53:18), di sanalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan.

Muhammad Asad, seorang mufasir Al Qur’an mengungkapkan bahwa Pohon Sidratul Muntaha memiliki makna simbolik. Pohon ini dikenal juga dengan pohon lotus (pohon teratai, bidara atau seroja, yang penuh duri dan biasa terdapat di padang pasir). Sejak zaman Mesir kuno, pohon ini dianggap lambang kebijaksanaan (wisdom). Dengan kata lain, Sidratul Muntaha ialah lambang kebijaksanaan tertinggi dan terakhir, yang tentunya hanya dapat dicapai oleh manusia pilihan, seperti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.

Makna simbolik lainnya yaitu kerindangan dan keteduhan yang melambangkan kedamaian dan ketenangan. Jika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam telah sampai ke Sidratul Muntaha, berarti beliau mencapai tingkat kedamaian, ketenangan dan kemantapan yang tinggi

Dalam Kitab Suci juga diterangkan bahwa Sidratul Muntaha berdekatan dengan Surga, negeri kedamaian (Darussalam). Dengan demikian, untuk mencapai Surga tentunya harus berada dalam tahap kebijaksanaan, ketenangan dan kemantapan yang tinggi pula.

Sebelum memperoleh kehormatan menuju Sidratul Muntaha, di Masjidil Haram, Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail Alaihissalam terlebih dahulu membersihkan hati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan air zam-zam untuk melapangkan dadanya.

Inilah awal pencerahan spiritual yaitu membersihkan penyakit hati yang biasa diderita manusia dan mengisinya dengan hikmah, ilmu dan iman.

Setelah itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sempat 3 kali berhenti. Pertama, di Madinah untuk melaksanakan shalat sunat. Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sempat pula melihat rombongan kafilah yang sedang mencari seekor untanya yang hilang. Beliau pun membantu menunjukkan tempat unta tersebut.

Ini merupakan pencerahan sosial Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam saat Isra Mi’raj.

Kedua, melaksanakan shalat di bukit Tursina, suatu tempat dimana Nabi Musa Alaihissalam mendapat 10 perintah Tuhan.

Ketiga, shalat di Yerussalem, tempat Nabi Isa Alaihissalam dilahirkan.

Terakhir Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berhenti di Baitul Maqdis. Disini beliau melaksanakan shalat sunat di Masjidil Aqsha. Setelah itu, tampaklah sebuah jalan menuju ke langit dan Beliau melaluinya.

Tiba di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu Tuhan Yang Maha Besar dan mendapat perintah melaksanakan shalat wajib 5 kali sehari.

Lantas, apakah makna dibalik peristiwa Isra Mi’raj ini?

Manusia yang ingin menggapai kesuksesan dalam menjalani kehidupan ini, maka langkah awalnya adalah:

Pertama, membersihkan seluruh penyakit hati seperti, iri, dengki, hasad, dll. Apabila manusia sudah benar-benar bersih dari segala penyakit hati atau setidaknya berupaya sekuat tenaga ke arah itu, maka tercermin dalam perilaku kesehariannya.

Kedua, mulailah pencerahan spiritual dengan melaksanakan ibadah sesuai syariat. Pencerahan spiritual ini tidak mudah, beragam rintangan menghadang, terutama akibat kesibukan duniawi, kemalasan badan dan kemalasan berpikir. Tetapi apabila ikhlas disertai tanggung jawab tinggi dalam memegang syariat, tentu akan dapat dijalankan dengan baik.

Selanjutnya melakukan pencerahan sosial yaitu:

Pertama, dimulai dari keluarga terdekat seperti suami, istri, anak, mertua, menantu, ipar, dll. Jadilah figur berperilaku baik, agar keluarga terdekat bisa menerima saran dan nasehat yang diberikan. Kalau tidak ada contoh dari diri sendiri, mustahil mereka akan mengikutinya. Contoh yang diberikan bukan sekadar perilaku baik, melainkan juga bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup seperti sandang dan pangan.

Karena itu, etos kerja yang tinggi harus menyertai pencerahan sosial. Meski harus diakui, lahan nafkah seringkali tidak memenuhi harapan yang diinginkan. Sementara kebutuhan hidup tinggi, pendapatan tidak seberapa. Inilah ujian terberat yang harus dihadapi seseorang yang ingin berhasil dalam menuju kesuksesan. Disinilah ketangguhan seseorang diuji dalam menghadapi setiap cobaan.

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memberi contoh kepada umatnya melalui hijrah. Karenanya, etos kerja harus bersifat dinamis atau tidak terpaku di suatu tempat tertentu saja. Hijrah mencari penghidupan yang lebih baik dan tidak bersikap pasif di suatu tempat tertentu. Tidak menyerah kepada keadaan dimana dirinya berada.

Apabila mau berhijrah, maka Tuhan menjanjikan kemudahan, keleluasaan dan kelapangan hidup. Sebagaimana Firman Allah SWT: “Dan barang siapa berhijrah (berpindah) maka dia akan mendapatkan banyak perlindungan di bumi (selain tempatnya sendiri) dan keleluasaan.” (Q.S; 4:100). Atau : ”Sampaikanlah: “wahai hamba-hamba-KU yang beriman. Berbaktilah kamu untuk mereka yang berbuat baik di dunia ini. Dan bumi Allah itu luas….” (Q.S: 39:10). Bukankah dimanapun kamu berada disitu bumi Tuhan yang sama?

Berhijrah atau merantau ke suatu tempat yang sekiranya mendatangkan rezeki menjadi suatu keharusan, seandainya tempat menetap (domisili) tidak memungkinkan untuk meningkatkan harkat dan martabatnya. Dianjurkan untuk menjelajahi bumi dan melihat kemungkinan yang ada di luar tempat kita sendiri

Daripada diam terpaku dirumah, lebih baik melanglang buana ke Negara seberang.

Meskipun demikian, harus disadari apabila tercapai kesuksesan, maka kesuksesan yang diraih itu tidaklah dinilai dari melimpahnya pencapaian materi, kedudukan tinggi atau terpenuhinya hawa nafsu. Melainkan bagaiamana menjaga diri dan seluruh keluarga kita dari tempat terburuk, yaitu siksa api neraka. Ku anfusakum wa ahlikum naaron. Mengapa begitu?

Karena tidak ada artinya materi melimpah sedangkan ada diantara anggota keluarga kita yang berjalan dalam arah yang menyimpang dari syariat agama. Sebagaimana sekarang ini banyak terjadi.

Secara ekonomi, orang tua berhasil dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi secara moral, anaknya justru berperilaku buruk. Bukankah hal semacam ini hanya akan merepotkan orangtuanya di dunia ini? Apalagi di akhirat kelak.

Inilah sesungguhnya makna hakiki dari kesuksesan hidup yaitu menjaga diri dan keluarga dari jalan yang diridhoi Tuhan. Dengan kata lain, tidak ada penilaian kesuksesan atau pencapaian materi yang diperoleh, popularitas atau kedudukan yang dipegang.

Kedua, melihat lingkungan sekitar, seperti tetangga. Terutama mereka yang masih dibelit dengan persoalan duniawi. Perlu mengetahui masyarakat sekitar, apakah masih dalam kemiskinan, ketidakadilan atau kebodohan?

Andaikata dijumpai hal seperti itu, tugas utamanya memberantasnya dengan harta dan tenaga, meski sekaedar kemampuannya. Beramal, infaq, sodaqah dan zakat menjadi bagian yang harus dilakukan.

Tugas ini tentunya tidaklah mudah. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, pencerahan sosial Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dicontohkan saat menunjukkan letak unta milik para kafilah yang hilang.

Pada akhirnya, pencerahan sosial akan membentuk kesalehan sosial, yaitu kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia, terutama terhadap fakir miskin dan anak-anak yatim. Sedangkan, pencerahan spiritual membentuk kesalehan pribadi yang tercermin dalam perilaku akhlak keseharian yang baik dan teguh dalam memegang syariat agama.

Kehidupan merupakan bagian dari upaya manusia untuk menuju kesuksesan, yang harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, ketenangan dan kemantapan iman yang tinggi.

Apabila berhasil dalam melakukan dua pencerahan ini, Tuhan Yang Maha Besar sudah menjanjikan kepada umat manusia berupa Surga di dunia yaitu kebahagiaan, kedamaian dan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah) dalam mengarungi kehidupan.

Kemudian dijanjikan Surga di akhirat kelak. Setelah merasa senang berada di kediaman abadi, selanjutnya manusia mendapat kesempatan untuk memandang wajah Tuhan di Sidratul Muntaha, sebagaimana pernah dialami Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Inilah puncak kebahagiaan tertinggi manusia.

Harus dipahami, bahwa dalam menggapai kesuksesan tidak dibutuhkan penonton. Kita semua adalah pelaku.

About these ads
  1. Agustus 1, 2008 pukul 6:55 pm | #1

    Alhamdullilah..Allahu Akbar

  2. sufimuda
    Agustus 1, 2008 pukul 7:27 pm | #2

    Kupasan yang lengkap dan menarik…

    Hal yang paling pokok dari Mi’raj Nabi adalah mencontoh apa yang Beliau lakukan.
    “Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin” artinya sesungguhnya shalat itu adalah mi’raj bagi orang mukmin…
    Yang bisa melakukan mi’raj (rohani nya terbang menuju kehadirat Allah) adalah orang mukmin,
    Kalau kita belum pernah merasakan Mi’raj maka keimanan kita harus dipertanyakan lagi.
    Iman tidak akan mungkin bisa sempurna kalau semua yang kita imani itu masih gaib, masih remang-remang dan masih bersandar kepada yang bersifat Tekstual.
    Keyakinan terhadap sesuatu akan menjadi kuat dan kokoh apabila telah mencapai tahap dimana segala sesuatu yang kita imani menjadi Nyata, Fakta dan Realita sehingga tidak akan timbul keraguan sedikitpun dikemudian hari.

    Nabi Muhammad melakukan Isra Mi’raj memakai Buroq, bagaimana dengan kita?
    coba baca uraian ilmiah tentang Isra’ Mi’raj ditinjau dari Ilmu Metafisika Eksakta di :

    http://sufimuda.wordpress.com/2008/07/30/uraian-ringkas-mengenai-isra%e2%80%99-dan-mi%e2%80%99raj-rasulullah-saw-ditinjau-dari-sudut-ilmu-metafisika-eksakta/

    Salam

  3. Muhammad Abas
    Oktober 28, 2008 pukul 2:31 pm | #3

    1.Kitab Suci mana yang menerangkan bahwa sidratul muntaha dengan surga???
    2. Kata Siapa Nabi Muhammad SAW Naik Buraq???
    3. Kata Siapa Nabi Muhammad SAW ketemu ALLAH SWT???
    4. Kata Siapa Nabi Muhammad SAW menerima perintah Sholat lima waktu???
    5. Kata Siapa Nabi Muhammad SAW melakukan sholat di Baitul Magdis???
    Semua cerita yang ditulis diatas hanya dongeng, Nabi Muhammad SAW isra mikraj, hanya diperlihatkan sebagian kekuasaan ALLAH SWT agar Nabi Muhammad SAW semakin yakin dalam menyebarkan ajaran Islam dan tidak takut.
    Coba baca surat 17/1 dan surat 53/1-18 itulah cerita yang betul tentang isra-mikraj, itu saja tanggapan saya semoga bermanfaat dan jadi bahan pemikiran kita bersama

    • Muhammad Zubaidi
      Juli 13, 2009 pukul 8:19 am | #4

      Jangan asal bantah, istilah buraq itu diambil dari kata barqun yang artinya kilat, karena perjalanan isra’ mi’raj memang boleh dibilang luar biasa cepatnya, tamasya yang menembus diminesi ruang dan waktu ? Allahu Akbar !
      jangan dipahami scara konkrit, Nabi bertemu Allah. Sejatinya setiap kita berdzikir maka kita bertemu Allah termasuk ketika kita shalat. Bahkan dimanapun kita mojok kita berhadapan dengan Allah, camkan : Wilayah kekuasaan Allah meliputi bumi dan langit seisinya !
      Tentang perintah shalat 5 waktu, baca shahih Bukhari & Muslim !
      Tentang Nabi shalat di Baitul Maqdis, ada cerita penting dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam surat Al-Isra’, bacalah !

    • Agustus 16, 2012 pukul 2:32 pm | #5

      Klo itu Dongeng . Dri mna dongeng it brasal ? Toh pztix dri Gusti knjeng Nabi
      Sendiri . Brrti itu suatu kebenenarn . Tpi yg dikatakan anda klo Isra’ mi’raj untk memantapkan Iman Nabi jg Benar

    • nining
      Agustus 24, 2013 pukul 11:17 pm | #6

      ada Qur’an dan hadits yg mnjelaskn itu semua,,
      pertnya’an anda rasa nya tidak prcya dngan apha yg prnah Rasulullah sabda kan,,
      rosulullah SAW menerima printah sholat 5 wktu pda sa’at beliau melakukan isra’ mi’roj dan perintah itu dtng nya dri ALLAH SWT langsung, tnpa perantara malaikat jibril,,
      bisa di buka dlm hadits bukhori Bab Isro’ mi’roj dan perintah sholat 5 wktu,,

  4. syahida
    Desember 18, 2008 pukul 10:56 pm | #7

    assalamu’alaikum.wahai sahabat…

    intinya hati-hati kalo hendak nyimpulkan tafsir jangan asal, kalo perlu Ijtihad bersama para ulama’

  5. www.gerrychoc@gmail.com
    Oktober 1, 2009 pukul 1:48 pm | #8

    quraish shihab bilang hati nabi dibersihkan dengan ditambahkan nur.isra mi’raj ada yang bilang itu secara spiritual tanpa raga ada yang bilang plus raga. Jika ilmu kita telah sampai isra mi’raj adalah perjalanan biasa seorang rasul untuk menjumpai Rabbnya. Setiap saat kita bisa ketemu kalo tau jalannya. Muhammad diberi kemudahan dan kemuliaan. Kalo bangsa yg kita anggap primitif saja mampu membuat Istana beserta kota yang megah, jembatan-jembatan yg menjulang tinggi dengan tempo SATU HARI.saja bisa. why? karena mereka sudah menggenggam ilmu, kita belum bisa seperti mereka. Ada bukti-bukti yg ditemukan para ilmuan. semua diluar akal jangkauan kita, tau kenapa? ya itu tadi kalo belum nyampe mau dipaksa ya akhirnya mentok juga kan. pada akhirnya muaranya adl ‘PERCAYA” Isra Mi’raj adl benar.

  6. Januari 20, 2011 pukul 9:10 pm | #9

    Abu bakar ash shiddiq adalah orang pertama yang menjadi tempat cerita Nabi Muhammad, dan silahkan saudara2 tebak apa jawaban yang keluar dari Abu Bakr ass shiddiq tsb, Itu yang perlu kita tadabburi

  7. tara
    Februari 12, 2011 pukul 9:34 am | #10

    semoga lita mnjadi org yan g taat beribadah dan meneladani teladan nabi MUHAMMAD SAW.. AMIIN

  8. goes_____bendot
    Agustus 20, 2011 pukul 8:48 pm | #11

    بسم الله الرحمن الرحيم

    alloh huakbar

  9. Kristiyanto
    Maret 30, 2012 pukul 11:49 pm | #12

    Sangat menarik membaca uraian artikel Isra Mi’raj di atas. Menarik sebuah kesimpulan tidaklah sembarangan meskipun acuan yang dipakai adalah akidah secara luas dan umum. Berdasar pengalaman pribadi , semua komentar di atas adalah benar pada tempat, waktu, dan level/tingkat pemahaman kesadaran masing-masing individu. Kemudian selanjutnya bagaimana memaknai pencerahan itu adalah pada tingkatan kesadaran jiwa. Yang menentukan pada level ini adalah pengkajian ke tingkat pemahaman dibarengi peningkatan kesadaran diri kita sebagai manusia . How ? Bagaimana caranya ? Ya, hanya dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yakni dengan berserah diri tanpa syarat ke hadirat Sang Maha Ada. Melalui Shalat, Dzikir, Shalawat, setiap nafasnya hanya untuk menyebut Nama Alloh … Insya Alloh dengan niat yang sungguh, tulus, ikhlas, dan pasrah…akan ditunjukkan jalan kebenaran yang hakiki, yang tiada dapat dicapai hanya dengan kata-kata, namun dengan penghayatan dan kemurnian kesadaran dari dalam hati dan jiwa kita. Selamat menghayati dan mengkaji.

  10. B4YU 4Z
    Mei 6, 2012 pukul 9:55 pm | #13

    Subhanallah……….
    teruslah menulis mas Agus…

  11. B4YU 4Z
    Mei 6, 2012 pukul 10:17 pm | #14

    Jadilah figur berperilaku baik

  12. Juni 8, 2012 pukul 1:11 pm | #15

    Semuanya benar selama pengkajian dan pemaknaannya menggunakan akal dan hati serta ilmu pengetahuan dan agama tapi janganlah merasa paling benar karena yang paling benar adalah Allah SWT, walaupun beristihaj pun tidak akan mencapai kebenaran mutlak karena sesungguhnya kebenaran sejati hanyalah milikNYA, maka jika ada orang/kelompok yang menganggap paling benar maka sesungguhnya memasuki kuasa Allah SWT. Di atas kebenaran masih ada kebenaran jadi Allah SWT adalah Tuhan maha benar. Marilah kita saling meningkatkan kualitas keimanan kita masing2, Agama ISLAM memang sudah finish tapi dalam beragama masih berjalan sampai akhir hayat.

  13. ZA Khudori
    Juni 14, 2012 pukul 3:17 pm | #16

    MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
    Menurut Al-Quran Surah ke-53/An-Najm: 6-19

    Setiap bulan Rajab (tahun Hijriyah) umat Islam memperingati hari Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammadsaw. Umumnya, secara etimologis, kata Isra’, berasal dari kata: saroo – sirooyatan wa saroyaanan, yang berarti berjalan di malam hari (asroo = saaro laylan) [lihat, Al-Munawwir Kamus Arab – Indonesia karya Ahmad Warson Munawwir. Pustaka Progressif: Surabaya, 1997, hlm. 629]. Sedangkan kata Mi’raj, secara etimologis berasal dari kata: ‘aroja – ‘uruujan wa ‘arojan, yang berarti naik atau mendaki (irtaqoo). Dan al-mi’rooj berarti tangga (as-sulaam). Lihat, idem, hlm. 913.
    Kedua istilah tersebut secara terminologis dipahami sebagai berikut: Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammadsaw dari Masjid Al-Haram Mekkah ke Masjid Al-Aqsha Yerusalem sedangkan Mi’raj adalah perjalanan beliausaw dari Masjid Al-Aqsha ke Sidratul Muntaha di atas langit ke-7 [baca, Misteri Isro’-Mi’roj karya Maftuh Ahnan. CV. Bintang Remaja: Gresik, 1990]. Setelah itu Rasulullahsaw kembali Masjid Al-Haram.

    Shidratul Muntaha

    Mi’raj
    Isra’
    Masjil Al-Haram Mekkah Masjid Al-Aqsha Palestina

    Sesuai judul di atas maka uraian berikut berdasarkan Al-Quran Ayat 6-19 Surah ke-53/An-Najm:

    Ayat 6
      
    Telah mengajarkan Tuhan Yang Maha Perkasa,[2871]
    Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya, semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya (Catatan Kaki No. 2871).

    Ayat 7
      
    Yang Empunya Kekuatan[2872] yang menapak berulang-ulang. Maka Dia bersemayam[2873] di atas ‘Arasy.
    Mirrah berarti, kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, keteguhan (Aqrab). Dzuu mirrah dapat juga berarti, orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestarinya (Catatan Kaki No. 2872).
    Ungkapan istawaa ’alaa asy-syai’i berarti bahwa ia memperoleh atau mempunyai hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada Rasulullahsaw ungkapan itu akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya (Catatan Kaki No. 2873).

    Ayat 8
      
    Dan Dia mewahyukan kalam-Nya ketika ia berada di atas [a]ufuk tertinggi,[2874]
    [a] 81:24.
    Rasulullahsaw telah mencapai batas tertinggi dalam Mi’raj beliau, ketika Tuhan menampakkan wujud-Nya kepada beliau dengna kebenaran dan keagungan yang sempurna. Atau ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk kepada Tuhan dan kepada Rasulullahsaw. Lihat juga ayat 10 (Catatan Kaki No. 2874).

    Ayat 9
      
    Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia, Allah, kian dekat kepadanya,[2875]
    Dalla al-dalwa berarti ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti, ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lane dan Lisan). Ayat ini berarti bahwa Rasulullahsaw mendekati Tuhan dan Tuhan condong kepada beliau. Ayat itu dapat juga berarti bahwa Rasulullahsaw mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Tuhan dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia (Catatan Kaki No. 2875).

    Ayat 10
        
    Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,[2876] atau lebih dekat lagi.
    Qaab berarti, (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang berlengkungan: (2) dari satu busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata, “Bainahumaa qaaba qausaini” yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
    Peribahasa Arab yang mengatakan, “Ramaunaa ‘an qausin waahidin” yakni mereka memanah kamu dari satu busur yakni bahwa mereka seia-sekata melawan kami. Oleh karena itu kata itu menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lane, Lisan dan Zamakhasyari). Apa pun kandungan arti kata qaab itu, ungkapan qaaba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Rasulullahsaw terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian Mi’raj dan menhampiri Tuhan sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan Rasulullahsaw seolah-olah menjadi ”seutas tali dari dua busur”. Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatupadukan busur-busur mereka dengan cara demikian sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu; dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga. Bila kata tadalla dianggap mengenai Tuhan maka ayat ini akan berarti bahwa Rasulullahsaw naik menuju Tuhan dan Tuhan turun kepada beliau sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud. Ungkapan ini mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus yaitu bahwa sementara di satu pihak Rasulullahsaw menjadi sama sekali terbenam dalam Tuhan serta Pencipta-nya sehingga beliau seakan-akan menjadi bayangan Tuhan sendiri maka di pihak lain, beliau turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka sehingga sifat keutuhan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau dan beliau menjadi titik-pusat tali kedua busur ketuhanan dan kemanusiaan. Kata-kata “atau lebih dekat lagi” mengandung arti bahwa perhubungan antara Rasulullahsaw dan Tuhan menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
    Ayat-ayat 8 sampai ke 18 menggambarkan Mi’raj Rasulullahsaw ketika beliau secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan – suatu penjelmaan – ruhani Tuhan, dan secara ruhani, beliau naik sampai dekat sekali kepada Khalik-nya. Pada hakikatnya, Mi’raj merupakan dua pengalaman ruhani: kenaikan ruhani Rasulullahsaw dan turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Tuhan kepada beliau. Dalam pikiran umum, Mi’raj telah dicampurbaurkan dengan Isra’ (perjalanan Rasulullahsaw pada waktu malam ke Yerusalem), sedangkan masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Isra’ terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani) padahal Rasulullahsaw telah lebih dahulu Mi’raj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia, enam atau tujuh tahun sebelum terjadi Isra’. Penelaahan seksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits, juga mendukung pendapat ini. Untuk keterangan agak terinci tentang kedua peristiwa – Mi’raj dan Isra’ – itu merupakan kejadian ang terpisah dan berbeda satu sama lain, lihat catatan no 1590 (Catatan Kaki No. 2876).
    Ayat 11
        
    Kemudian Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.[2877]
    Maa kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keherananm atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab). Ayat ini mengandung arti bahwa Tuhan menurunkan wahtu kepada hamba-Nya dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu! (Catatan Kaki No. 2877).

    Ayat 12
        
    Hati Rasulullah tidak berdusta apa yang dia lihat,[2878]
    Hakikatnya ialah apa yang telah dilihat oleh Rasulullahsaw adalah pengalaman hakiki; pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau (Catatan Kaki No. 2878).

    Ayat 13
       
    Maka apakah kamu membantah tentang apa yang telah dia lihat?
    Ayat 14
       
    Dan sesungguhnya dia melihat-Nya kedua kali,[2879]
    Kasyaf Rasulullahsaw itu suatu pengalaman ruhani berganda (Catatan Kaki No. 2879).

    Ayat 15
      
    Dekat pohon Sidrah tertinggi,[2880]
    Pada waktu Mi’raj, Rasulullahsaw telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi dan hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi; sadir diambil dari akar kata yang sama, yang berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Rasulullahsaw akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya lebih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti bahwa ajaran yang diwahyukan kepada Rasulullahsaw tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan. Atau ayat ini mengandung khabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon yang di bawah pohon itu para sahabat Rasulullahsaw mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (Catatan Kaki No. 2880).

    Ayat 16
     • 
    Yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal.

    Ayat 17
        
    Ketika pohon Sidrah ditutupi oleh sesuatu yang menutupi,[2881]
    Kata-kata “yang menutupi” maknanya ialah penjelmaan Ilahi (Catatan Kaki No. 2881).

    Ayat 18
        
    Penglihatannya tidak menyimpang dan tidak pula melantur.

    Ayat 19
         
    Sesungguhnya, ia melihat satu Tanda besar dari Tanda-tanda Tuhan-Nya.

    Demikianlah uraian tentang Mi’raj Nabi Muhammadsaw menurut Al-Quran Surah ke-53/An-Najm ayat 6-19 yang bersumber pada “Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat” karya (Editor) Malik Ghulam Farid (JAI: Bogor, 2002) dan berikut ini sebagai ilustrasi dari Hadit Muslim Jilid I hlm. 72-77 karya (Penerjemah) Fachruddin HA (Bulan Bintang: Jakarta, 1981) .

    Hadits

    Sidratul Muntaha
    Langit ke-7: bertemu dengan Nabi Ibrahimas
    Langit ke-7: bertemu dengan Nabi Musamas
    Langit ke-7: bertemu dengan Nabi Harunas
    Langit ke-7: bertemu dengan Nabi Idrisas
    Langit ke-3: bertemu dengan Nabi Yusufas
    Langit ke-2: bertemu dengan Nabi Isa bin maryamas
    dan Yahya bin Zakariyaas
    Langit ke-1: bertemu dengan Nabi Adamas

    dari Mekkkah kembali ke Mekkkah

    Semoga bermanfaat.

    Wassalam, Pengirim Naskah:
    ZA Khudori, Lampung: 29-06-2011
    HP: 081279317621; 081575035874;
    E-mail: za_khudori2000@yahoo.com; zafarkhudori@gmail.com

  14. fairiel
    Juli 5, 2013 pukul 11:14 pm | #17

    hakikat sidratul muntaha yaitu tingkat kesadaran tertinggi manusia,,pada waktu isra’ Rasullullah blm melakukan sholat,karna blm ada perintah sholat,,stelah isra’ mi’raj baru ada perintah sholat,,dan pada waktu itu blm ada masjid,,setelah menerima perintah sholat,baru ada masjid,,dan masjid yang pertama di dirikan oleh rasullullah adalah di medinah..

  15. fairiel
    Juli 5, 2013 pukul 11:22 pm | #18

    hakikat sidratul muntaha yaitu tingkat kesadaran tertinggi manusia,,pada waktu isra’ Rasullullah blm melakukan sholat,karna blm ada perintah sholat,,stelah isra’ mi’raj baru ada perintah sholat,,dan pada waktu itu blm ada masjid,,setelah menerima perintah sholat,baru ada masjid,,dan masjid yang pertama di dirikan oleh rasullullah adalah di medinah..dan setiap manusia bisa melakukan isra’ mi’raj,,bkn hanya rasullullah saja,,bukankah rasullullah adalah manusia biasa sama seperti kita ,kalau mau tau ilmunya,,carilah ahli warisnya ilmu rasullullah,,syaidina Ali gudangnya ilmu,tapi kuncinya ada pada Rasullullah,,

  16. Maret 20, 2014 pukul 11:11 am | #19

    menarik,disebutkan sidratu terjemahannya bunga teratai kok sama dengan simbol kebijaksanaan yang diajarkan sidharta gautama, lalu apa hubungannya ajaran nabi Muhammad dengan ajaran Sidharta? Jangan jangan bersumber dari ajaran yang sama, yakni ajaran nabi Ibrahim.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s