Beranda > tasawuf > TASAWUF DAN ILMU LADUNI

TASAWUF DAN ILMU LADUNI


Ilmu kasyaf atau yang lebih dikenal dengan ilmu laduni (ilmu batin) tidaklah asing ditelinga kita, lebih – lebih lagi bagi siapa saja yang sangat erat hubungannya dengan tasawuf beserta tarekat-tarekatnya.
Kata sebagian orang: “Ilmu ini sangat langka dan sakral. Tak sembarang orang bisa meraihnya, kecuali para wali yang telah sampai pada tingkatan ma’rifat. Sehingga jangan sembrono untuk buruk sangka, apalagi mengkritik wali-wali yang tingkah lakunya secara dhahir menyelisihi syariat.
Wali-wali atau gus-gus itu beda tingkatan dengan kita, mereka sudah sampai tingkatan ma’rifat yang tidak boleh ditimbang dengan timbangan syari’at lagi”. Benarkah demikian? Inilah topik yang kita kupas pada kajian kali ini.
Hakikat Ilmu Laduni
Kaum sufi telah memproklamirkan keistimewaan ilmu laduni. Ia merupakan ilmu yang paling agung dan puncak dari segala ilmu. Dengan mujahadah, pembersihan dan pensucian hati akan terpancar nur dari hatinya, sehingga tersibaklah seluruh rahasia-rahasia alam ghaib bahkan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, para Rasul dan ruh-ruh yang lainnya, termasuk nabi Khidhir. Tidaklah bisa diraih ilmu ini kecuali setelah mencapai tingkatan ma’rifat melalui latihan-latihan, amalan-amalan, ataupun dzikir-dzikir tertentu.
Ini bukan suatu wacana atau tuduhan semata, tapi terucap dari lisan tokoh-tokoh tenar kaum sufi, seperti Al Junaidi, Abu Yazid Al Busthami, Ibnu Arabi, Al Ghazali, dan masih banyak lagi yang lainnya yang terdapat dalam karya-karya tulis mereka sendiri.

 

1. Al Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin 1/11-12 berkata: “Ilmu kasyaf adalah tersingkapnya tirai penutup, sehingga kebenaran dalam setiap perkara dapat terlihat jelas seperti menyaksikan langsung dengan mata kepala … inilah ilmu-ilmu yang tidak tertulis dalam kitab-kitab dan tidak dibahas … “. Dia juga berkata: “Awal dari tarekat, dimulai dengan mukasyafah dan musyahadah, sampai dalam keadaan terjaga (sadar) bisa menyaksikan atau berhadapan langsung dengan malaikat-malaikat dan juga ruh-ruh para Nabi dan mendengar langsung suara-suara mereka bahkan mereka dapat langsung mengambil ilmu-ilmu dari mereka”. (Jamharatul Auliya’: 155)
2. Abu Yazid Al Busthami berkata: “Kalian mengambil ilmu dari orang-orang yang mati. Sedang kami mengambil ilmu dari Allah yang Maha Hidup dan tidak akan mati. Orang seperti kami berkata: “Hatiku telah menceritakan kepadaku dari Rabbku”. (Al Mizan: 1/28)
3. Ibnu Arabi berkata: “Ulama syariat mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kimat. Semakin hari ilmu mereka semakin jauh dari nasab. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka.” (Rasa’il Ibnu Arabi hal. 4)
Dedengkot wihdatul wujud ini juga berkata: “Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong dari sistim belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah ‘Azza wa Jalla – sampai dia berkata – maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud bukan dari hasil pembahasan, pemikiran, dugaan ataupun taksiran belaka”.
Ilmu Laduni Dan Dampak Negatifnya Terhadap Umat
Kaum sufi dengan ilmu laduninya memiliki peran sangat besar dalam merusak agama Islam yang mulia ini. Dengannya bermunculan akidah-akidah kufur –seperti diatas – dan juga amalan-amalan bid’ah. Selain dari itu, mereka secara langsung ataupun tidak langsung terlibat dalam kasus pembodohan umat. Karena menuntut ilmu syar’i merupakan pantangan besar bagi kaum sufi. Berkata Al Junaidi: “Saya anjurkan kepada kaum sufi supaya tidak membaca dan tidak menulis, karena dengan begitu ia bisa lebih memusatkan hatinya. (Quutul Qulub 3/135)
Abu Sulaiman Ad Daraani berkata: “Jika seseorang menuntut ilmu hadits atau bersafar mencari nafkah atau menikah berarti ia telah condong kepada dunia”. (Al Futuhaat Al Makiyah 1/37)
Berkata Ibnul Jauzi: “Seorang guru sufi ketika melihat muridnya memegang pena. Ia berkata: “Engkau telah merusak kehormatanmu.” (Tablis Iblis hal. 370)
Oleh karena itu Al Imam Asy Syafi’i berkata: “Ajaran tasawuf itu dibangun atas dasar rasa malas.” (Tablis Iblis:309)
Tak sekedar melakukan tindakan pembodahan umat, merekapun telah jatuh dalam pengkebirian umat. Dengan membagi umat manusia menjadi tiga kasta yaitu: syariat, hakekat, dan ma’rifat, seperti Sidarta Budha Gautama membagi manusia menjadi empat kasta. Sehingga seseorang yang masih pada tingkatan syari’at tidak boleh baginya menilai atau mengkritik seseorang yang telah mencapai tingkatan ma’rifat atau hakekat.
Syubhat-Syubhat Kaum Sufi Dan Bantahannya
1. Kata laduni mereka petik dari ayat Allah yang berbunyi:
وَعَلَمَّنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Dan kami telah ajarkan kepadanya (Nabi khidhir) dari sisi Kami suatu ilmu”. (Al Kahfi: 65)
Mereka memahami dari ayat ini adanya ilmu laduni sebagaimana yang Allah anugerahkan ilmu tersebut kepada Nabi Khidhir. Lebih anehnya mereka meyakini pula bahwa Nabi Khidhir hidup sampai sekarang dan membuka majlis-majlis ta’lim bagi orang-orang khusus (ma’rifat).
Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) seluruh kaum muslimin, wajibnya beriman kepada nabi-nabi Allah tanpa membedakan satu dengan yang lainnya dan mereka diutus khusus kepada kaumnya masing-masing. Nabi Khidhir diutus untuk kaumnya dan syari’at Nabi Khidhir bukanlah syari’at bagi umat Muhammad. Rasulullah bersabda:
كَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
“Nabi yang terdahulu diutus khusus kepada kaumnya sendiri dan aku diutus kepada seluruh umat manusia” (Muttafaqun ‘alaihi)
Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ
“Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan peringatan”. (As Saba’: 28)
Adapun keyakinan bahwa Nabi Khidhir masih hidup dan terus memberikan ta’lim kepada orang-orang khusus, maka bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
(artinya) “Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). (Al Anbiya’: 34)
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ مَنْفُوْسَةٍ اليَوْمَ تَأْتِيْ عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ يَوْمَئِذٍ حَيَّةٌ
“Tidak satu jiwapun hari ini yang akan bertahan hidup setelah seratus tahun kedepan”. (H.R At Tirmidzi dan Ahmad)
Adapun keyakinan kaum sufi bahwa seseorang yang sudah mencapai ilmu kasyaf, akan tersingkap baginya rahasia-rahasia alam ghaib. Dengan cahaya hatinya, ia bisa berkomunikasi dengan Allah, para Rasul, malaikat, ataupun wali-wali Allah. Pada tingkatan musyahadah, ia dapat berinteraksi langsung tanpa adanya pembatas apapun.
Cukup dengan pengakuannya mengetahui ilmu ghaib, sudah bisa dikatakan ia sebagai seorang pendusta. Rasul Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang yang paling mulia dari seluruh makhluk Allah, namun Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam tidaklah mengetahui ilmu ghaib kecuali apa yang telah diwahyukan kepadanya.
قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا ﴿٢٥﴾ عَالِمُ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا
“Dia (Allah) yang mengetahui ilmu ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan seseorangpun tentang yang ghaib kecuali dari para rasul yang diridhai-Nya”. (Al Jin: 25-26)
Apalagi mengaku dapat berkomunikasi dengan Allah atau para arwah yang ghaib baik lewat suara hatinya atau berhubungan langsung tanpa adanya pembatas adalah kedustaan yang paling dusta. Akal sehat dan fitrah suci pasti menolaknya sambil berkata: “Tidaklah muncul omongan seperti itu kecuali dari orang stres saja”. Kalau ada yang bertanya, lalu suara dari mana itu? Dan siapa yang diajak bicara? Kita jawab, maha benar Allah dari segala firman-Nya:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ ﴿٢٢١﴾ تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ ﴿٢٢٢﴾ يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ ﴿٢٢۳﴾
“Apakah akan Aku beritakan, kepada siapa syaithan-syaithan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithan) itu, dan kebanyakan mereka orang-orang pendusta”. (Asy Syu’ara: 221-223)
2. Sebagian kaum sufi berkilah dengan pernyataannya bahwa ilmu laduni (Al Kasyaf) merupakan ilham dari Allah (yang diistilahkan wangsit). Dengan dalih hadits Nabi Muhammad:
إِنَّهُ قَدْ كَانَ قَبْلَكُمْ فِيْ الأَمَمِ مُحَدَّثُوْنَ فَإِنْ يَكَنْ فِيْ أُمَّتِي أَحَدٌ فَعُمَر
“Dahulu ada beberapa orang dari umat-umat sebelum kamu yang diberi ilham. Kalaulah ada satu orang dari umatku yang diberi ilham pastilah orang itu Umar.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Hadits ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujjah bagi mereka. Makna dhohir hadits ini, menunjukkan keberadaan ilham itu dibatasi dengan huruf syarat (kalaulah ada). Maksudnya, kalaupun ada pada umat ini, pastilah orang yang mendapatkan ilham adalah Umar Ibnul Khathab. Sehingga beliau digelari al mulham (orang yang mendapatkan ilham). Dan bukan menunjukkan dianjurkannya cari wangsit, seperti petuah tokoh-tokoh tua kaum sufi. Bagaimana mereka bisa memastikan bisikan-bisikan dalam hati itu adalah ilham? Sementara mereka menjauhkan dari majlis-majlis ilmu yang dengan ilmu syar’i inilah sebagai pemisah antara kebenaran dengan kebatilan.
Mereka berkilah lagi: “Ini bukan bisikan-bisikan syaithan, tapi ilmu laduni ini merubah firasat seorang mukmin, bukankah firasat seorang mukmin itu benar? Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Hati-hati terhadap firasat seorang mukmin. Karena dengannya ia melihat cahaya Allah”. (H.R At Tirmidzi)
Hadits ini dho’if (lemah), sehingga tidak boleh diamalkan. Karena ada seorang perawi yang bernama Athiyah Al Aufi. Selain dia seorang perawi yang dho’if, diapun suka melakukan tadlis (penyamaran hadits).
Singkatnya, ilham tidaklah bisa mengganti ilmu naqli (Al Qur’an dan As Sunnah), lebih lagi sekedar firasat. Ditambah dengan adanya keyakinan-keyakinan batil yang ada pada mereka seperti mengaku mengetahui alam ghaib, merupakan bukti kedustaan diatas kedustaan. Berarti, yang ada pada kaum sufi dengan ilmu laduninya, bukanlah suatu ilham melainkan bisikan-bisikan syaithan atau firasat rusak yang bersumber dari hawa nafsu semata. Disana masih banyak syubhat-syubhat mereka, tapi laksana sarang laba-laba, dengan fitrah sucipun bisa meruntuhkan dan membantahnya.
Hadits-Hadits Dho’if Dan Palsu Yang Tersebar Di Kalangan Umat
Hadits Ali bin Abi Thalib:
عِلْمُ الْبَاطِنِ سِرٌّ مِنْ أَسْرَارِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَحُكْمٌ مِنْ أَحْكَامِ اللهِ ، يَقْذِفُهُ فِيْ قُلُوْبِ مَنْ يَشَاءَ مِنْ عِبَادِهِ
“Ilmu batin merupakan salah satu rahasia Allah ‘Azza wa Jalla, dan salah satu dari hukum-hukum-Nya yang Allah masukkan kedalam hati hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya”.
Keterangan:
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi di dalam kitab Al Wahiyaat 1/74, beliau berkata: “Hadits ini tidak shahih dan secara mayoritas para perawinya tidak dikenal”. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “Ini adalah hadits batil”. Asy Syaikh Al Albani menegaskan bahwa hadits ini palsu. (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no 1227).
Buletin Islam Al Ilmu Edisi 31/II/I/1425, Yayasan As Salafy Jember. Al Akh Ibn Harun

About these ads
  1. Anonymous
    Maret 21, 2008 pukul 11:23 pm

    Sepertinya tulisan tersebut tidak berimbang. Sebaiknya ada pula tulisan tentang tasawuf yang lebih jernih. Agar supaya menjadi jelas apa itu tasawuf dan ilmu laduni.

  2. BaNi MusTajaB
    Maret 24, 2008 pukul 8:20 am

    Tanggapan terhadap tulisan tersebut sedang disiapkan.Biar berimbang, seperti kata Anda. Atau barangkali Anda mau menanggapinya lebih dulu? ok. terima kasih.

  3. dodo
    April 24, 2008 pukul 4:45 pm

    Menanggapai tulisan tersebut sangat jelas terkesan penolakan terhadap paham tasawuf, hal ini banyak juga diamini oleh umat Islam.Kenapa kita sangat berani menilai atau memvonis seseorang atau segolongan adalah sesat. Apakah kita sudah menjadi wasit Tuhan ? Apakah kita dengan keimanan yang sekarang ini dimiliki sudah dijamin masuk surga?

    Sesungguhnya keimanan itu dibangun bukan dari hasil diskusi, hasil menilai orang lain yang pada akhirnya saling mengejek, tetapi melalui :

    1. Niat untuk mencari Kebenaran
    2. Mampu belajar mengenal diri
    3. Menjalankan rukun Islam secara syariat dan hakikat
    (lahir @ batin)
    4. Mampu melaksanakan dan membuktikan QS Qaf 22 (“pada hari
    Aku singkap tirai yang menutupimu, alangkah tajam nya
    sekarang penglihatanmu”

    Setelah 4 tahap itu dilewati, barulah manusia itu disebut Ihsan (beriman) maka teranglah pemikirannya dan akan terbebaslah dari kesesatan yang nyata. Dan mampu menakwilkan ayat-ayat Alqur’an dan al hadist baik yang perumpamaan maupun lurus. Untuk mencapai derajat takwa maka seorang Ihsan harus merawat iman nya dengan sholat, puasa, zakat dan zikir. Kalau kita baca Alquran perintah sholat,puasa,zakat itu hanya untuk orang yang beriman saja.

    Bila kita dengan keilmuwan yang dimiliki sekarang ini masih suka menghujat, menyalahkan orang lain atau golongan lain. hati-hatilah itu pertanda jiwanya belum muthmainnah, jiwanya dipenuhi hawa nafsu. Dan ingat! hanya jiwa yang muthmainnah itu yang dipanggil Tuhan.

    Bertasawuf itu sebenarnya adalah upaya untuk bisa mencontoh Nabi Muhammad dalam beribadah lurus kepada Tuhan, atau bisa “menghadapkan dirinya” dihadapan Tuhan secara nyata, bukankah dalam QS Yasin 17 disebutkan : “kewajiban kami (manusia) hanya untuk (beribadah) dengan menyampaikan yang NYATA”. Jadi sholat itu tidak bisa kita membayangkan Tuhan, membayangkan Surga, dll. “Nyata” di sini berarti bisa dilihat dengan mata batin (basyirah)bukan mata kepala.

    Ayat Alqur’an yang lurus itu bisa dibaca oleh siapapun tetapi yang mampu menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat (perumpamaan) itu hanyalah orang yang sudah kembali kepada Tuhannya (Qs Al Mukmin) atau yang sudah mampu melihat cahaya Nya atau disebut oleh orang yang beriman (makrifat).

    Kalau diminta menjelaskan bagaimana hal gaib tersebut kepada orang awam, yakinlah pasti anda tidak akan mempercayainya yang pasti anda akan bilang orang gila, ngawur dll. Dalam Alquran pun seorang yang beriman dilarang menceritakan pengalamannya kepada khlayak ramai kecuali kepada sesama orang beriman. Seperti kisah Nabi Yusuf dan ayahnya. Yusuf : “Hai ayah aku melihat 11 bintang, bulan dan matahari tunduk kepadaku”. Yakub: “janganlah engkau ceritakan penglihatanmu pada saudara-saudaramu karena engkau akan dirajamnya”.

    Demikianlah sedikit tanggapan atas tulisan tersebut, semoga kita dalam lindungan Nya.

    Wassalam
    Dodo

  4. April 25, 2008 pukul 11:01 am

    Terima kasih,Mas atas komentar dan masukannya.Semoga makin memperkaya khazanah pengetahuan kita semua.

  5. Maulana
    Mei 7, 2008 pukul 9:26 am

    ilmu ketuhan merupakan sebuah ilmu yg harus di pelajari dan di amalkan tapi saya ingin tau izir yg hak..tuk batin ..apa yg paling terbaik

  6. Maulana
    Mei 7, 2008 pukul 9:28 am

    Assal’mulaikum wr.wb
    bagimana cara tuk menembus alah gaib dan memakai jikir pa yg paling baek..terima kasih…atas saran dan petujumnya
    Wa salam

  7. Mei 9, 2008 pukul 1:39 pm

    Waalaikumussalam.Wr.Wb. Insya Allah, Mas, akan disiapkan tulisan tentang hal tersebut.oke terima kasih.

  8. kang manto
    September 23, 2008 pukul 1:44 pm

    bergurulah kepada guru sufi yang mumpuni agar terbimbing untuk mendapatkan nur Ilahi sehingga dapat melihat rahasia-rahasia Allah.

  9. Oktober 5, 2008 pukul 3:42 pm

    Wah….salut dech dengan tulisan ini, jarang loh ada yang mau percaya dengan ilmu laduni.

  10. andik
    Desember 31, 2008 pukul 10:27 am

    tulisan wahabi sech, capex deh

  11. jo
    Maret 4, 2009 pukul 3:15 pm

    Islam memang tegak dengan ilmu, dan ilmu yang benar itu harus sampai kepada Rasulullah, oleh karena itu memang harus disadari bahwa mendasarkan amalan Islam dengan Qur’an dan Hadist Shahih adalah suatu keharusan, yang menjadi masalah adalah banyaknya hadist yang maudhu atau palsu, yang akan membuat umat menjadi tersesat. Salah satu ilmu yang digunakan dalam menimbang atau menilai shahih tidaknya suatu hadist adalah Ilmu Mustholah Hadist, yang melacak keshahihan hadist berdasarkan periwayatnya. Jadi masalahnya bukan siapa yang benar atau siapa yang salah, melainkan adalah dasar yang digunakan dalam mengamalkan Islam itu sendiri. Penulis blog ini telah berdiri dengan dasar yang benar.
    @
    Terima kasih. Tapi sesungguhnya itu artikel kutipan dengan sumber tertera di bawahnya.

  12. sigit
    Maret 27, 2009 pukul 6:42 pm

    seep..dilanjut semua pembahasannya, karna makin meninggikan derajat kita di hadapan ALLOH…

  13. merabex
    April 14, 2009 pukul 1:01 am

    ilmu laduni itu asli apa palsu
    @
    Ilmu yang mudah terpeleset jika sang murid tidak dalam bimbingan guru yang khosois.

  14. ABHusin
    Mei 17, 2009 pukul 2:57 am

    …..TASAWUF DAN ILMU LADUNI…..

    Ilmu yang dibangsakan kalo pada Allah dinamakan : “ILMU DI SISI-KU”, yaitu Ilmu berguru terus dengan Allah tanpa perantaraan (S.Kahfi). Manusia biasa macam kita nggak bisa memperolehi itu Laduni, ilmu hikmah lagi perjalanannya mencarik adat, kalo kita nggak bertawassuf dan mempunyai qalbu salim yang bersih…..

    Kerana Laduni itu diajarkankan-Nya kepada mereka yang udah bisa menundukkan nafsu serakahnya, bersih isi perutnya, suci dan tenang hatinya, damai dan tenteram fikirannya, dari tarikan warna-warninya duniawi. Seperti Para Wali pilihan-Nya dan mereka yang dikehendaki-Nya, diberikan-Nya dengan seizin-Nya jua mengenali ilmu perbendaharaan-Nya itu……

    Musa yang udah berdarjat Nabi lagi berdarjat Kalamullah dan ada Kitab Taurat, itu pun kecundang diuji oleh Khidir. Apa lagi manusia kecil macam rupa kita ini, ibarat jauh panggang dari api. Akan tetapi usahlah kita kuatir, kerana kisahnya dan gagalnya perguruannya Musa dengan itu Khidir adalah merupakan “cermin-cermin” dan teladan contoh bagi kita.

    Apakah sebabnya Musa terputus perguruannya sama itu Khidir sebelum cukup edahnya…..???

    …..Wallahualam…..

    Peace / Salam / Damai…..
    @
    terima kasih atas uraiannya.

  15. Anonymous
    September 25, 2009 pukul 2:23 pm

    orang bijak bkn org yg cm bs brkomentar menyalahkan org.tp dia akan berdakwah dgn akhlaq.shg ia tdk terjebak dgn pemahaman IBLIS,yaitu menyalahkan adam dgn berkata,aku lbh baik dr dia.manusia2smacam kalian harusnya pny rasa malu dgn menganggap diri sbg kaum salaf!

  16. gusmad
    Oktober 24, 2009 pukul 2:06 pm

    janganlah menyaingi Alloh..islam ini milik Nya..knp kalian berani menilai islam seseorang???

  17. nasution
    November 9, 2009 pukul 10:22 am

    Kita meributkan masalah tasawuf dan ilmu laduni. Yang memberi komentar siapa dan apa sudah melaksanakan saria’at islam itu. Jangan-jangan yang berkomentar itu malah yang tidak sholat lima waktu. Jangan jangan juga yang masih suka berebut rezeki yang haram. Jangan – jangan juga yang anak gadisnya masih sering ke dugem dan pulang pagi. Jadi kalau kurang jelas masalah tasawuf dan ilmu laduni dekat-dekatlah dengan orang sholeh yang sudah sholat lima waktu dan sholat-sholat sunat yang dianjurkan nabi, yang menjaga kebersihan diri lahir dan bathin dari yang subhat apalagi dari yang haram dan yang menjaga/ mengawal keluarganya dari siksa api neraka. Tanya mereka, jangan cuma satu orang, kalau perlu adakan penelitian.
    Atau lebih baik pikirkan bagaimana saudara-saudara kita yang belum menjalankan syari’at islam. Yang belum melaksanakan rukun islam secara kaffah. Ini gggak… yang beramaldiributkan sementara yang jelas-jelas tidak menjalankan syari’at islam itu sendiri dibiarkan saja. Jadi gunakan pikiranmu kearah ini……….

  18. doe
    Maret 18, 2010 pukul 2:58 pm

    rame-rame…… seru!!!

  19. biszret
    April 19, 2010 pukul 9:32 pm

    I LIKE THIS

  20. Muhamad Hamir
    April 30, 2010 pukul 4:38 pm

    Assalamu’alaikum Wr. wb

    Mohon Ampun Ya Allah,

    Sekilas saya membaca apa yang anda tuliskan bukanlah penyelesaian tetapi malah sebaliknya, justru hati hatilah saudara dalam memahami segala ilmu agama dan mengomentarinya, Andapun terkait al qur’an dan hadist saya yakin masih tarap belajar…..dan yang anda baca hanya buku buku sebagai pedoman anda saja dan saya yakin itu ,

    Mohon Ampun ya Allah
    Sebaiknya anda memahami sejarah hamda (dari adam sampai saat ini) betul betul sebelum mengomentari tulisan tulisan yang menurut anda salah….bisa jadi apa yang menurut anda jelek tetapi baik untuk anda begitu sebaliknya.

    Coba anda pelajari dan pahami betul :
    1. Kenapa Allah menciptakan manusia sehingga Allah memerintahkan Malaikat & Syetan untuk bersujud.
    2. Siapa Muhammad itu dan kenapa diutus sebagai pemberi kabar dan peringatan
    3. Apa sebenarnya Islam itu, apa Iman itu dan apa Ihsan itu dengan sebenar benarnya.
    4. Siapa sebenarnya diri sendiri ini.
    5. Apa Sholat itu dan kenapa Allah hanya menyuruh orang orang beriman yang menegakkan
    sholat
    6. Kenapa Allah menyuruh kita untuk berdzikir dan bertasbih
    7. Kenapa kita disuruh untuk bersyahadat (kapan anda melihat Allah dan Nabi) karena
    bersaksi itu kan menyaksikan / melihat.
    8. Pahami dulu tentang rukun islam sebelum rukun iman yang ada (kalau hanya baca atau
    menghafal anak TK sekarangpun ada yang bisa).
    9. Kenapa kita disuruh berguru (tidak hanya baca saja….)

    Mohon maaf atas komentar saya ….maksud dan tujuan saya agar kita gak saling salahin satu sama lain, mari kita semua intropeksi dulu diri sendiri sebelum kita membuat tulisan yang bisa menimbulkan perpecahan umat.

    Wassalam.

  21. pratama
    Mei 22, 2010 pukul 11:00 pm

    Ass.wr.wb.
    Yang punya ilmu Allah. Ilmu laduni itu memang ada., dari mana Nabi Nuh dapat membuat Kapal, dari mana Nabi Ibrahim dapat membuat Ka’bah, padahal dulu tidak ada sekolah teknik. AlQur’an itu menyimpan sejumlah ilmu yang maha dasyat, ada yang tersurat dan ada yang tersirat.

  22. jafri
    Juni 29, 2010 pukul 8:13 pm

    hanya allah lahn ya maha tahu ,,

  23. September 12, 2010 pukul 3:02 pm

    sebelum menyalahkan golongan/pendapat lain harusnya introspeksi diri sendir pahami dan maknai alQuran dan Al.Hadist,kita belajar Islam jangan luarnya dalamnya juga,jadi prinsipnya luarnya aja nikmat apalagi dalamnya jangan sedikit sedikit haram/bidah bc dong sejarah 9 wali dalam meyebarkan Islam .jgn hanya tenar di Tv dan media

  24. hisyam
    September 27, 2010 pukul 9:39 pm

    kita ingatkan diri kita masing-masing dengan rukun iman dan rukun islam,cobalah maknai satu persatu ranngkaian kalimatnya.supaya kita lebih sadar apakah kita sudah melakukan sesuai dengan itu.

  25. gion
    Januari 7, 2011 pukul 8:01 am

    Asalamualaikum…

    bagi penulis blok..tulisan anda malah bisa memecah belah umat islam..berhati-hatilah dalam berucap..semua akan di mintai pertanggung jawaban..
    kerjakanlah dulu apa yang menjadi kewajiban..
    islam bukan untuk di perdebatkan,,tapi untuk di renungkan..
    menyalahkan orang lain berarti merasa dirinya benar,,
    jika merasa benar,,berarti dia sombong di hadapan yang lain..
    jika sombong,,berarti dia telah buta mata hatinyanya dari kebenaran,,dan sudah di hinggapi sifat iblis..
    jika itu terus berlanjut..maka akan mudah ia menyalahkan orang lain,,mengafirkan orang lain..membid’ahkan orang lain..dan menganggap orang lain salah tapi dialah yang benar,,.
    yang berhak merasa paling benar itu hanya Allah..
    jika ada yang merasa dirinya paling benar,,berarti dia ingin menandingi Allah..
    orang semacam inilah yang suka memecah belah umat islam..

    SIAPA YANG BELAJAR TANPA GURU..YANG MENJADI GURUNYA ADALAH SYAITAN..

    sudah jelas ajaran Nabi Muhammad,..kita tidak boleh berprasangka buruk pada orang lain..
    di anjurkan menjaga mata..hidung..mulut..telinga..dan intropeksi diri..itulah ajaran islam yang sesungguhnya..janganlah memusuhi meskipun kita di musuhi..

    lantas Ajaran nabi yang mana yang kita lakukan,jika kita suka memfonis orang lain salah,,
    itulah kemunafikan kita…ajaran islam tidak di hiraukan,,
    masih suka dengan kemaksiatan,malah berani menghina para kekasih Allah/wali-wali Allah…
    berhentilah..dan belajarlah pada guru…?

    Wasalam…

  26. assalam allaikum wr.wb kita dlm islam untuk berlomba dlm kebaikan bkn sebaliknya.renungkanlah
    Januari 19, 2011 pukul 6:36 pm

    siapa yg suci jauh dari musibah kematian siapa yg ragu2 bakal mati.

  27. osey sundayana
    Juli 12, 2011 pukul 9:56 pm

    Assalammualaikum warohmatullohiwabarokatu
    mohon ma’af sblmnya…saya memang kurangmemahami agama,hanya skedar berbagi pengalaman,..saya menjalnkan shalat 5waktu dngan ikhlas dan mengharapkan rhido allah swt,dan d tambah shalat sunat hajat dengan doa mohon d beri ilmu yg baik untuk dunia dan akhirat dan alhmdulilah doa saya terkabul…allah memberikan ilmu dngan berbagai jln tanpa kta sadari
    1. dari cobaan hidup yg sering saya hadapi,…..
    dngan sering nya kta d beri cobaan hidup dan kta ikhlas dan pasrah terhadap allah swt dan berprasangka baik insya, allah allah akan tambah dekat dengan kita …smakin sulit ujian hidup yg d berikan semakin dekat kta dengannya,….sehingga ktika kta telat untuk menghadap kepadanya timbullah perasaan rindu yg sangat dalam melebihi rindu kpda seorang kekasih dan ktika kta mengahadap kpadanya dan mengucap takbirotul ihrom..allaahuakbar,berdetak jantung ini menagis air mata ini karna rindu menghadap padanya walaupun tak pernah melihat wujudnya namun karna seringkali kita memohon dengan khusyu dan ikhlas dan allah slalu membantu dan mengabulkan smua permohonan yg terbaik untuk kta maka rasa cainta hanya kpada allah akan timbul ddengan sendirinya…jangan lah pernah memohon selain kpada allah…..saya jga pernah menjalani ilmu laduni dengan zikiran asmaul husna…..mnurut pendapat saya inti dari smua itu adalah ikhlas dan sabar menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dengan mengharapkan ridho allah,..sehingga kta tau untuk apa kta hidup d dunia ini…..klo kata bang ali ..KELAK KAU AKAN MENGETAHUINYA HEHEHEHE….
    skali lg mohon ma’af ,anggap saja ini hanya sekedar berbagi pengalaman,..assalammu’alaikum warohmatulloohiwabarokatu

  28. Agustus 10, 2011 pukul 11:31 pm

    mohon dikirim artikel referensi ilmu makrifat

  29. Cak Supri
    Januari 29, 2012 pukul 4:10 am

    Menurut buku yang saya baca “Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan”, ilmu Laduni bisa dicapai dengan mensinergikan kecerdasan pikiran (IQ, EQ dan SQ) dan kecerdasan hati (Aql, Qalb, Dzauq, Shadr, Fuad, Bashirah dan Lubb). Jika generasi bangsa mau melirik LQ, tentu akan melahirkan generasi yang cerdasa intelektual, kreatif, inovatif, serta bermoral, beretika dan berakhlak mulia.

  30. majnun
    Mei 10, 2012 pukul 11:27 am

    bagi semua yang tidak suka tasawwuf, jangan menghina. anda semua lihat saja, siapa saja yang berusaha menjathkan tasawwuf akan jatuh sendiri, karena hakikatnya tasawwuf adalah milik allah swt.

  31. at tarbaniy
    Mei 11, 2012 pukul 10:44 am

    aku tak peduli kau ber-ucap apa tentang tasawuf dan para ulama ahli tasawuf,karena cinta ku kepada ulama ahli tasawuf sudah mendarah daging.
    lebih baik aku mengikuti guruku ulama ahli tasawuf daripada mengikuti kau yang gak jelas asal usulnya.

  32. Mei 17, 2012 pukul 1:37 pm

    ASSALAMUALAIKUM W.B.T Bagi pendapat saya, ilmu tasawuf memang ilmu allah s.w.t juga,sebab ilmu tasawuf melarang para pengamalnya membuat perkara-perkara yang di larang atau di murkai oleh allah s.w.t juga, dalam al-quran kita di suruh sembahyang dan berzikir, ilmu tasawuf pun di suruh sembahyang dan berzikir untuk memuji keagungan allah s.w.t mengunakan zikir yang sama, seperti zikir allahu akbar dan lain-lain. harap para pembaca janganlah menghina antara satu sama lain,apapun ilmu yang kita gunakan asalkan kita yakin dan tidak membuat perkara yang di murkai oleh allah s.w.t… Contoh perkara yang di murkai allah s.w.t ialah berjudi,maksiat,bohong dan arak… ilmu apa pun kita pelajari tapi kita masih membuat perkara yang dimurkai semuanya tiada guna… jadi fikir-fikirkan la… kenali la dirimu baru kau kenal siapa tuhanmu….

  33. ramli aje
    Mei 20, 2013 pukul 9:29 pm

    memang repot kalo membicarakan sesuatu ilmu kpd org yg blm terjun kedalamny.seperti dapat melihat jin lalu diceritakan pd orang lain yg tak dpt melihat dia tak akan percaya kira2 begitu.atau orang yg pernah kedasar laut cerita ttg didalam laut pd orang yg ga pernah kesana gimana ya

  34. Juli 2, 2013 pukul 11:43 pm

    kembalikn pada keyakinan kt masing”jgn sampai memecah belah umat jaga keharmonisan saling menghargai…karna baik utk kt blm tentu baik bagi yg lain baik bagi yang lain blm tentu baik utk kt…mari sama”kt renungi…bahwa islam adalah agama Rahmatan lil`alami tentunya saudara”ku lebh paham ttg hal ini mohon ma`af sebelumnya dan salam hormat saya buat semuanya.

  35. November 13, 2014 pukul 9:35 am

    saya menyakini ilmu laduni itu ada, itu adalah ilmu hasil dari proses dari murid menjadi mursyid atau hasil dari kehendak Gusti Allah.

    Sudah nonton film Lucy tahun 2014 ini? Menurut saya, cara barat merasionalisasikan mendapatkan ilmu laduni ada di film itu, dari bagaimana ilmu melipat bumi sampai akhirnya Manunggaling Kawula Gusti

    Blognya menarik, izin bookmark

  1. Maret 12, 2009 pukul 1:07 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s